Fikih  

Begini Perbedaan Nasib Ruh Orang Beriman dan Kafir

Rasulullah SAW menjelaskan perbedaan perjalanan ruh orang beriman dan kafir setelah meninggal hingga menghadapi pertanyaan di alam kubur. (FOTO; iStockphoto/ILUSTRASI)

SerambiMuslim.com – Rasulullah SAW menjelaskan perbedaan perjalanan ruh orang beriman dan orang kafir setelah kematian.

Penjelasan tersebut menggambarkan perjalanan ruh sejak seseorang meninggal hingga menghadapi pertanyaan di alam kubur.

Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menjelaskan perkara tersebut dalam bukunya “Al-Mautu wa alamul barzakh, al-hisab wal aidhu alal-latu al-mizan-al-mushaf-ashshirath-anwa’us syafa’ah.”

Ia mengutip hadis dari Bara bin Azib mengenai keadaan manusia setelah meninggalkan dunia.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan perbedaan perlakuan terhadap ruh orang beriman dan orang kafir.

Ruh Orang Beriman

Rasulullah SAW menjelaskan, ketika seorang mukmin meninggal dunia, para malaikat turun kepadanya.

Para malaikat tersebut digambarkan memiliki wajah putih dan membawa kain kafan serta kapur barus dari surga.

Dari Bara bin Azib, ia berkata, “Rasulullah bersabda: Sesungguhnya seorang hamba yang beriman, jika ia meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, para malaikat turun kepadanya dari langit dengan wajah putih seolah-olah wajah mereka adalah matahari. Mereka membawa kain kafan dari surga dan kapur barus (balsam pengawet) dari surga hingga duduk di sampingnya sepanjang jarak pandangan.”

“Kemudian, datang Malaikat Maut hingga duduk di samping kepalanya. Ia berkata: Wahai jiwa yang baik, keluarlah kamu menuju ampunan dan keridhaan Allah.”

Ruh tersebut kemudian keluar dari jasad dengan mudah dan lembut.

“Jiwa itu pun keluar seperti tetes air yang mengalir dari lubang tempat air, yaitu dengan mudah dan lembut. Malaikat Maut mencabut jiwa tersebut. Ketika mencabutnya, para malaikat (yang lain) mengambilnya dalam waktu sekejap dari kain kafan dan kapur barus tersebut.”

Ruh orang beriman kemudian digambarkan mengeluarkan aroma yang sangat harum.

“Jiwa tersebut keluar darinya seperti parfum paling wangi yang ada di muka bumi. Mereka membawa jiwa tersebut. Tidak ada sekelompok malaikat yang mereka lewati kecuali kelompok tersebut bertanya, ‘Apa ruh yang harum ini?’ Malaikat pun menjawab, ‘Fulan bin fulan,’ dengan nama paling baik yang mereka sebut di dunia. Mereka pun sampai ke langit paling rendah dan meminta agar (pintu) dibukakan untuk ruh tersebut hingga ia dibukakan untuknya. Para malaikat penjaga setiap langit mengantarkannya sampai ke langit yang berikutnya. Ia pun sampai ke langit ketujuh.”

Allah kemudian memerintahkan agar catatan amal hamba tersebut ditulis di Illiyyin.

“Allah berfirman, ‘Tulislah oleh kalian buku hamba-Ku di dalam Illiyyin dan kembalikanlah ke bumi. Karena, dari sana Aku menciptakan, mengembalikan, dan mengeluarkannya sekali lagi.’ Lalu, ruh itu pun kembali ke dalam jasadnya.”

Setelah itu, dua malaikat datang untuk memberikan sejumlah pertanyaan kepada manusia tersebut.

“Dua malaikat pun datang, duduk, dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabb-mu?’ Ia menjawab, ‘Rabb-ku Allah.’ Mereka bertanya, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Agamaku Islam.’ Mereka bertanya, ‘Siapa laki-laki ini yang diutus kepadamu?’ Ia menjawab, ‘Rasulullah SAW.’ Mereka bertanya, ‘Apa ilmumu?’ Ia menjawab, ‘Aku membaca Kitab Allah hingga beriman dan mempercayainya’.”

Orang tersebut kemudian mendapatkan kabar mengenai tempat tinggalnya di surga.

“Lalu, ada yang menyeru dari langit, ‘Hamba-Ku benar. Berilah ia tempat tidur dari surga, baju dari surga, dan bukalah baginya pintu menuju surga.’ Lantas, berhembuslah angin surga dan bau harumnya, kuburannya pun dilapangkan seluas pandangan mata.”

Kemudian datang seseorang dengan paras elok dan aroma harum.

“kemudian, datang seseorang yang parasnya elok, bajunya bagus, dan baunya harum. Ia berkata, ‘Aku membawa kabar gembira yang membuatmu senang, inilah hari yang telah dijanjikan untukmu.’ Hamba yang mati bertanya, ‘Siapa kamu, wajahmu seolah-olah membawa kebaikan?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah amal salehmu.’ Hamba yang mati tersebut berkata, ‘Ya Allah, datangkanlah hari kiamat hingga aku kembali kepada keluargaku’.”

Ruh Orang Kafir

Kondisi berbeda digambarkan terjadi kepada orang kafir ketika meninggalkan dunia. Para malaikat turun dengan keadaan berbeda dan membawa permadani kasar.

“Sedangkan hamba yang kafir, jika ia meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, para malaikat turun kepadanya dari langit dengan wajah hitam. Mereka membawa permadani kasar lalu duduk di sampingnya sejauh pandangan matanya.”

Malaikat Maut kemudian datang dan meminta ruh yang buruk keluar menuju murka Allah.

“Kemudian, datang Malaikat Maut hingga duduk di samping kepalanya. Ia berkata, ‘Wahai jiwa yang buruk, keluarlah kamu menuju murka dan amarah Allah.’ Jiwa itu pun keluar dari jasadnya. Ia keluar seperti besi berduri yang dicabut dari bulu basah. Malaikat Maut mencabut jiwa tersebut. Setelah itu, para malaikat yang lain dalam waktu sekejap mengambilnya dan meletakkannya di permadani tadi.”

Ruh tersebut kemudian digambarkan mengeluarkan bau yang sangat busuk.

“Keluar darinya bau bangkai paling busuk yang ada di atas bumi. Mereka membawa jiwa tersebut. Tidak ada sekelompok malaikat yang mereka lewati kecuali kelompok tersebut bertanya, ‘Ruh siapakah yang bau ini?’ Malaikat pun menjawab, ‘Fulan bin fulan,’ dengan nama paling buruk yang mereka sebut di dunia. Mereka pun sampai ke langit paling rendah dan meminta agar (pintu) dibukakan untuk ruh tersebut, tetapi tidak dibukakan untuknya’.”

Rasulullah SAW kemudian membaca firman Allah dalam QS Al-A’raf ayat 40:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَاسْتَكْبَرُوْا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ اَبْوَابُ السَّمَاۤءِ وَلَا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتّٰى يَلِجَ الْجَمَلُ فِيْ سَمِّ الْخِيَاطِ ۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُجْرِمِيْنَ

Latin: Innal-lażīna każżabū bi’āyātinā wastakbarū ‘anhā lā tufattaḥu lahum abwābus-samā’i wa lā yadkhulūnal-jannata ḥattā yalijal-jamalu fī sammil-khiyāṭ(i), wa każālika najzil-mujrimīn(a).

Artinya: “…tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. …” (QS Al-A’raf Ayat 40)

Allah kemudian memerintahkan agar catatan amal orang tersebut ditulis di Sijjin.

Allah berfirman, ‘Tulislah oleh kalian buku hamba-Ku di dalam Sijjin di bumi paling rendah, kemudian lemparkanlah ruhnya dengan keras.’

Rasulullah SAW kemudian membaca firman Allah:

حُنَفَاۤءَ لِلّٰهِ غَيْرَ مُشْرِكِيْنَ بِهٖۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَكَاَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاۤءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ اَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ مَكَانٍ سَحِيْقٍ

Latin: Ḥunafā’a lillāhi gaira musyrikīna bih(ī), wa may yusyrik billāhi fa ka’annamā kharra minas-samā’i fa takhṭafuhuṭ-ṭairu au tahwī bihir-rīḥu fī makānin saḥīq(in).

Artinya: “…Siapa yang mempersekutukan Allah seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS Al-Hajj Ayat 31)

Setelah itu, ruh tersebut dikembalikan ke jasadnya. Namun, ia tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh dua malaikat.

“Lalu, ruh itu pun kembali ke dalam jasadnya. Dua malaikat pun datang dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabb-mu?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Mereka bertanya, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Mereka bertanya, ‘Siapa laki-laki ini yang diutus kepadamu?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu’.”

Setelah itu, terdengar seruan dari langit yang menyatakan bahwa hamba tersebut telah berdusta.

“Lalu, ada yang menyeru dari langit, ‘Hamba-Ku dusta. Berilah ia tempat tidur dari neraka dan bukalah baginya pintu menuju neraka.’ Lantas, hawa panas dari neraka datang kepadanya. Kuburannya pun disempitkan hingga menekan tulang rusuknya.”

Kemudian datang seseorang yang memiliki paras buruk dan membawa kabar buruk.

“Kemudian, datang seseorang yang parasnya buruk, bajunya lusuh, dan baunya bacin. Ia berkata, ‘Aku membawa kabar buruk untukmu. Ini adalah hari yang telah dijanjikan kepadamu.’ Ia bertanya, ‘Siapa kamu, wajahmu seolah-olah membawa kejelekan?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah amal jelekmu.’ Ia berkata, ‘Ya Allah, janganlah Engkau datangkan hari kiamat’.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan menggambarkan perbedaan keadaan ruh manusia setelah meninggal dunia.

Kisah tersebut juga mengingatkan tentang pertanggungjawaban manusia atas keimanan dan amal yang dilakukan selama hidup di dunia. (*)