SerambiMuslim.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Masjid Apung An-Nur, Ancol, Jakarta Utara, Jumat (16/10/2026). Peresmian tersebut sekaligus menandai pelaksanaan salat Jumat pertama di masjid yang berdiri di atas laut itu.
Masjid Apung An-Nur memiliki kapasitas awal hingga 900 jemaah. Bangunan ini dirancang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ikon baru kebanggaan masyarakat pesisir Jakarta.
Pramono mengatakan pembangunan masjid tersebut melalui proses panjang sejak gagasan awal pada 2019. Saat itu, Anies Baswedan masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan pada November 2019. Namun, pembangunan menghadapi berbagai kendala, termasuk pandemi COVID-19, sebelum kembali dilanjutkan pada 2024.
“Hari ini kita semua dapat menghadiri peresmian Masjid Apung An-Nur Jakarta. Masjid ini digagas oleh Gubernur Anies Baswedan pada tahun 2019 tetapi karena COVID tertunda, bukan tidak terselesaikan, sudah di-groundbreaking pada November 2019, dilanjutkan kembali di tahun 2024. Saya sebagai penerusnya melanjutkan sampai selesai dan bersyukur yang memberi nama saya,” ujar Pramono dalam sambutannya di Ancol, Jakarta Utara, Jumat (16/10/2026).
Pramono juga menjelaskan makna nama An-Nur yang digunakan untuk masjid tersebut. Dalam bahasa Arab, An-Nur berarti cahaya yang diharapkan menjadi simbol penerang dan kebaikan bagi masyarakat.
“Kenapa namanya An-Nur? An-Nur itu cahaya, surya karena indikator itu juga surya, cahaya. Bapak ibu saudara sekalian dalam kesempatan ini saya sungguh bersyukur bergembira bahwa hal-hal yang belum terselesaikan Alhamdulillah kita bisa selesaikan,” tuturnya.
Peresmian tersebut menandai rampungnya pembangunan masjid yang berlangsung dalam beberapa tahap. Kehadirannya diharapkan memperkuat fasilitas ibadah sekaligus menyediakan ruang kegiatan keagamaan bagi masyarakat di kawasan Ancol.
Masjid Apung An-Nur Ancol Tampung 900 Jemaah
Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Syahmudrian Lubis, mengatakan masjid tersebut dirancang untuk menampung ratusan jemaah.
Kapasitas awalnya mencapai 900 orang, terdiri atas 600 jemaah laki-laki dan 300 jemaah perempuan. Kapasitas tersebut berpotensi ditingkatkan menjadi 1.200 orang.
“Masjid ini mampu menampung 300 jemaah perempuan dan 600 jemaah laki-laki, jadi total dapat menampung Insyaallah 900 jemaah. Nanti Insyaallah, kalau kita bisa extend bisa sampai dengan 1200 jemaah,” ujar Syahmudrian.
Menurut Syahmudrian, pembangunan masjid tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ibadah. Bangunan tersebut juga dirancang menjadi penanda baru kawasan pesisir Jakarta.
“Masjid Agung An-Nur ini bukan hanya sebagai sarana ibadah tapi dirancang untuk menjadi landmark dan icon baru bagi kebanggaan masyarakat di pesisir Jakarta,” lanjutnya.
Dirancang dengan Filosofi Bahtera Iman
Masjid Apung An-Nur dirancang oleh arsitek Andra Matin dengan luas bangunan sekitar 2.200 meter persegi. Desainnya memadukan karakter arsitektur dengan filosofi yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam.
Syahmudrian menjelaskan, konsep bangunan tersebut mengusung filosofi bahtera iman. Denah berbentuk segi lima melambangkan lima rukun Islam dan lima waktu salat.
Sementara itu, siluet denah yang menyerupai bulan dan bintang dimaknai sebagai simbol cahaya serta petunjuk.
“Dirancang oleh arsitek terkemuka bapak Andra Matin keunikan dan filosofi bangunan ini mencakup bentuk dan denah bangunan masjid seluas 2200 m square memiliki filosofi bahtera iman dengan denah berbentuk segi lima yang melambangkan lima rukun Islam dan lima waktu salat serta siluet denah yang membentuk bulan dan bintang sebagai simbol cahaya dan petunjuk,” tuturnya.
Kehadiran Masjid Apung An-Nur diharapkan menambah fasilitas keagamaan di Jakarta Utara. Masjid ini juga diproyeksikan menjadi ikon baru kawasan Ancol sekaligus ruang ibadah bagi masyarakat dan pengunjung. (*)







