Fikih  

Doa Agar Dijadikan Hamba yang Bersyukur

Simak makna syukur dalam Islam lengkap dengan doa-doa Alquran, keutamaan bersyukur, serta hikmah yang membawa keberkahan hidup. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya begitu luas dan tak terhitung jumlahnya.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS an-Nahl: 18).

Keterbatasan akal manusia tidak sebanding dengan luasnya karunia Allah. Karena itu, setiap insan dituntut untuk senantiasa bersyukur atas nikmat tersebut, sekaligus memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memberikan manfaat bagi sesama. Semua itu hendaknya dilakukan dengan landasan iman serta mengharap ridha Allah semata.

Bagi seorang Muslim, rasa syukur bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban. Terlebih, nikmat terbesar yang telah diberikan adalah keimanan kepada Allah Ta’ala. Tidak semua manusia diberi kelembutan hati untuk menerima hidayah-Nya.

Allah SWT juga memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur. Salah satu bentuknya adalah melalui doa-doa yang diajarkan dalam Alquran.

رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًـا تَرۡضٰٮهُ وَاَدۡخِلۡنِىۡ بِرَحۡمَتِكَ فِىۡ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيۡنَ

Latin: “Rabbi awzi’nii an asykura ni’mata kal latiii an’amta ‘alaiya wa ‘alaa waalidaiya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikash shaalihiin.”

Artinya, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, serta agar aku mampu mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai. Masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS an-Naml: 19).

رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰٮهُ وَاَصۡلِحۡ لِىۡ فِىۡ ذُرِّيَّتِىۡ ؕۚ اِنِّىۡ تُبۡتُ اِلَيۡكَ وَاِنِّىۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ

“Rabbi auzi’ni an asykura ni’matakal-lati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa ashlih lii fii dzurriyyati, innii tubtu ilaika wa innii minal-muslimiin.”

Artinya, “Ya Tuhanku, berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, serta agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai. Perbaikilah keturunanku, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS al-Ahqaf: 15).

Keutamaan Bersyukur

Syukur memiliki kedudukan penting dalam Islam. Pertama, syukur mencerminkan kualitas keimanan seseorang. Dengan bersyukur, seorang hamba menyadari bahwa seluruh yang dimilikinya berasal dari Allah SWT.

Kedua, syukur menjadi sebab bertambahnya nikmat. Allah SWT menjanjikan tambahan karunia bagi hamba yang pandai bersyukur, sebagaimana disebutkan dalam QS Ibrahim: 7. Tambahan tersebut tidak hanya berupa materi, tetapi juga ketenangan batin dan kebahagiaan.

Ketiga, syukur menjadi benteng dari sikap kufur nikmat. Dengan membiasakan diri bersyukur, seseorang akan terhindar dari kesombongan dan selalu ingat bahwa setiap keberhasilan adalah karunia Allah.

Keempat, syukur mendatangkan keridhaan Allah. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah meridhai hamba yang memuji-Nya setelah makan dan minum (HR Muslim).

Terakhir, syukur menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Nikmat yang disyukuri akan terasa lebih menenangkan dan membawa kebahagiaan yang mendalam, bukan sekadar kenikmatan sesaat. ***