SerambiMuslim.com – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mendorong asrama haji dimanfaatkan sepanjang tahun. Kemenhaj mengibaratkan asrama haji di seluruh Indonesia sebagai “raksasa yang tertidur”.
Asrama haji memiliki fasilitas lengkap, mulai dari ribuan kamar hingga aula dan lahan luas. Potensi tersebut dinilai perlu dioptimalkan agar asrama tidak hanya ramai saat musim haji.
Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj Ian Heriyawan menilai diperlukan perubahan cara pandang dalam pengelolaan aset tersebut.
Menurutnya, asrama haji yang tidak dimanfaatkan sepanjang tahun dapat menjadi beban operasional negara.
“Jangan sampai asrama haji hanya hidup satu musim. Kita memiliki aset yang besar, tetapi kalau sepanjang tahun tidak dimanfaatkan, justru menjadi beban operasional,” tegas Ian, dikutip dari laman Kemenhaj, Kamis (1/10/2026).
Asrama Haji Didorong Jadi Pusat Layanan
Kemenhaj mendorong pemanfaatan asrama haji diperluas di luar musim haji. Aset tersebut dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Pemanfaatannya mencakup layanan akomodasi dan bisnis perhotelan.
Asrama haji juga dapat menjadi pusat manasik, tempat pelatihan, serta lokasi forum pertemuan.
Selain itu, fasilitas tersebut dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial masyarakat.
Langkah tersebut dibarengi dengan pengenalan Grand El-Hajj sebagai jenama dan standar baru asrama haji Indonesia.
“Justru asrama haji atau Grand El-Hajj yang harus terkenal dalam penyelenggaraan haji,” kata Ian.
Fungsi Spiritual Tetap Dipertahankan
Meski didorong mandiri secara ekonomi, fungsi utama asrama haji tetap harus dipertahankan.
Ian menegaskan dimensi spiritual dalam pelayanan jemaah tidak boleh dikesampingkan. Asrama haji menjadi tempat awal jemaah menata niat sebelum berangkat menuju Tanah Suci.
“Dari aspek spiritual, asrama haji itu doa iftitah-nya. Di sinilah gerbang awal bagaimana membuka spiritual jemaah sebelum menuju Tanah Suci,” ungkapnya.
Dengan demikian, pengembangan ekonomi tidak boleh menghilangkan fungsi utama asrama haji.
Tata Kelola dan Digitalisasi Diperkuat
Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Nurchalis turut menilai asrama haji sebagai infrastruktur strategis.
Menurutnya, aset tersebut memiliki potensi besar di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial. Pengembangannya membutuhkan penguatan tata kelola dan kapasitas sumber daya manusia.
Digitalisasi juga dinilai penting untuk mendukung pengelolaan asrama haji secara lebih efektif.
Selain itu, diperlukan model pengelolaan yang berkelanjutan agar aset tersebut memberikan manfaat sepanjang tahun.
Dengan langkah tersebut, asrama haji diharapkan tampil lebih bersih dan modern.
Asrama haji juga ditargetkan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sepanjang tahun. (*)







