Fikih  

Tiga Tanda Ibadah Tidak Diterima Allah SWT

IBADAH - Kenali tiga tanda ibadah tidak diterima Allah SWT, mulai dari semakin cinta dunia, tidak sesuai syariat, hingga riya. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Umat Islam perlu melakukan muhasabah setelah menjalankan ibadah. Salah satunya dengan melihat perubahan hati dan perilaku setelah beribadah.

Sebab, diterima atau tidaknya suatu amalan merupakan perkara gaib. Hanya Allah SWT yang mengetahui dan menentukan diterimanya amal tersebut.

Meski demikian, terdapat tanda-tanda yang dapat menjadi bahan evaluasi diri. Tanda tersebut dapat dilihat dari kondisi hati, perilaku, dan kesesuaian ibadah dengan syariat.

1. Semakin Jauh dari Allah dan Sibuk dengan Dunia

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menjelaskan tanda diterimanya ibadah melalui perubahan hati dan perilaku seseorang.

Penjelasan tersebut terdapat dalam Asrar al-Haj yang diterjemahkan oleh Mujiburrahman.

Menurut Imam al-Ghazali, ibadah yang diterima tercermin dari kecenderungan hati kepada kehidupan akhirat.

Seseorang juga semakin mencintai Allah SWT setelah menjalankan ibadah.

Selain itu, syariat menjadi pedoman dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupannya.

Sebaliknya, seseorang perlu melakukan introspeksi ketika hatinya semakin sibuk dengan urusan duniawi.

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai dalam perjalanan spiritual seseorang.

2. Ibadah Tidak Sesuai dengan Syariat

Ibadah juga dapat tertolak apabila pelaksanaannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat.

Dalam buku “Agar Shalat Dhuhamu Berbuah Kekayaan” karya Iqra Al Firdaus, ibadah semacam itu disebut mardud.

Istilah tersebut bermakna ibadah yang tidak diterima oleh Allah SWT.

Disebutkan pula bahwa ibadah yang mardud tidak mendatangkan hikmah dan rahmat dari Allah SWT.

Hal ini sejalan dengan hadits yang menjelaskan larangan melakukan ibadah tanpa dasar syariat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak ada dasarnya, maka itu ditolak.” (HR Muslim No 1718)

Hadits tersebut diriwayatkan oleh A’isha dan tercantum dalam Shahih Muslim.

3. Riya dalam Menjalankan Ibadah

Riya menjadi salah satu hal yang perlu dihindari dalam menjalankan ibadah. Riya berkaitan dengan keinginan memperoleh pujian atau pengakuan dari manusia.

Seseorang yang berbuat riya tidak lagi sepenuhnya berorientasi kepada Allah SWT.

Dalam buku “Etika Islam: Menuju Evolusi Diri” karya Faidh Kasyani, dijelaskan tentang pengaruh keikhlasan dalam amal.

Suatu perbuatan dapat berada pada sisi kebaikan atau keburukan. Jika dilakukan dengan ikhlas, perbuatan tersebut bergeser menuju kebaikan.

Sebaliknya, perbuatan yang dilakukan dengan riya bergeser menuju keburukan.

Rasulullah SAW juga menjelaskan pentingnya keikhlasan dalam sebuah hadits.

Beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya.” (HR An-Nasa’i No. 3140)

Ikhlas dan Sesuai Syariat Menjadi Syarat Utama

Dua hal utama menjadi syarat diterimanya ibadah di sisi Allah SWT.

Mengutip buku “Fiqh Ibadah” karya Zaenal Abidin, ibadah harus dilakukan dengan ikhlas. Selain itu, ibadah juga harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Amalan dapat tertolak apabila salah satu dari kedua syarat tersebut tidak terpenuhi.

Hal tersebut dijelaskan melalui firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 110:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Ibnu Katsir RA menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh,” yang dimaksud adalah menunaikan ibadah sesuai syariat Allah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

Adapun, “Janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya,” berarti bahwa diperintahkan untuk senantiasa mengharap wajah Allah SWT semata dan tidak berbuat syirik terhadap-Nya.

Pada akhirnya, manusia tidak dapat memastikan apakah amal ibadahnya diterima atau tidak.

Diterima atau tidaknya amal ibadah merupakan hak Allah SWT sepenuhnya.

Karena itu, tanda-tanda tersebut sebaiknya menjadi bahan muhasabah.

Umat Islam dapat terus memperbaiki keikhlasan dan memastikan ibadahnya sesuai tuntunan syariat. (*)