Menag: Teladani Kartini Lewat Aksi Nyata

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar meluncurkan program Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Program ini merupakan pendekatan baru yang tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga menumbuhkan dimensi emosional dan spiritual peserta didik. (Foto: ANTARA)

SerambiMuslim.com – Peringatan Hari Kartini tidak seharusnya berhenti pada simbol semata, melainkan menjadi momentum untuk meneladani keberanian berpikir dan bertindak demi perubahan.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat memimpin peringatan Hari Kartini di halaman kantor pusat Kementerian Agama Republik Indonesia, Selasa, 21 April 2026.

Menurut Menag, peringatan ini penting sebagai pengingat atas nilai perjuangan, keberanian intelektual, serta kontribusi perempuan dalam pembangunan bangsa.

Ia menegaskan bahwa Raden Ajeng Kartini merupakan tokoh kunci dalam sejarah Indonesia yang membuka kesadaran baru terkait peran perempuan di ruang publik.

“Kartini adalah sosok luar biasa yang bisa kita sebut sebagai pelopor kesadaran kemerdekaan perempuan Indonesia. Di usia muda, beliau sudah berani mempertanyakan berbagai kondisi sosial di sekitarnya,” ujar Nasaruddin.

Lebih lanjut, Menag menjelaskan bahwa Kartini telah mengkritisi berbagai praktik sosial pada masanya, termasuk tradisi pingitan yang membatasi ruang gerak perempuan serta minimnya akses terhadap pendidikan.

Pengalaman hidup tersebut, kata dia, membentuk cara pandang Kartini terhadap pentingnya keadilan dan kesetaraan kesempatan.

Tidak hanya pada aspek sosial, pemikiran Kartini juga dinilai menyentuh dimensi keagamaan. Ia disebut memiliki pandangan progresif dalam memahami ajaran agama secara lebih substantif.

“Beliau tidak puas hanya membaca Alquran secara tekstual tanpa memahami maknanya. Kartini mendorong adanya tafsir agar agama tidak berhenti sebagai dogma, tetapi menjadi pedoman hidup yang membumi,” jelasnya.

Menag juga menyoroti bahwa latar belakang Kartini sebagai bagian dari kalangan priyayi tidak menghambat lahirnya pemikiran kritis. Justru dari lingkungan tersebut, Kartini menunjukkan keberanian untuk melihat realitas secara berbeda.

“Tokoh besar lahir dari keberanian berpikir berbeda, berani mengambil sikap, dan menghadapi tantangan zamannya. Itulah yang ditunjukkan Kartini,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Menag Nasaruddin mengajak seluruh aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Agama untuk menjadikan semangat Kartini sebagai inspirasi dalam bekerja dan berkarya, tanpa membedakan latar belakang maupun gender.

“Yang perlu diteladani adalah keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan semangat memberi manfaat. Nilai ini relevan dalam tugas pelayanan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Peringatan Hari Kartini di lingkungan Kementerian Agama, lanjutnya, tidak hanya menjadi refleksi historis, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen dalam menciptakan ruang yang inklusif, adil, dan memberdayakan seluruh elemen bangsa. ***