Uskup se-Asia Belajar Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Para uskup Gereja Katolik se-Asia yang tergabung dalam Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) menggelar pertemuan dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta. Di kesempatan itu juga mengunjungi Terowongan Silaturahim. (Foto: Dok Kemenag)

SerambiMuslim.com – Para uskup Gereja Katolik se-Asia yang tergabung dalam Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) memuji kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Mereka bahkan menjadikan Indonesia sebagai rujukan untuk mempelajari persaudaraan lintas iman.

Apresiasi tersebut disampaikan saat para uskup saat mengunjungi Terowongan Silaturahim dan menggelar pertemuan bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Utusan Khusus Paus Leo XIV pada Sidang Pleno XII FABC, Kardinal Oswald Gracias, menilai Indonesia memberikan teladan tentang bagaimana lembaga keagamaan menjadi ruang pelayanan yang terbuka dan inklusif.

“Kami belajar dari Indonesia bagaimana lembaga keagamaan dapat menjadi tempat pelayanan yang berdedikasi, berpikiran terbuka, dan merangkul semua pihak,” ujarnya di Jakarta, Minggu (26/7/2026).

Kardinal Oswald mengatakan nilai-nilai persaudaraan sejatinya diajarkan seluruh agama. Ia mengutip pandangan Perdana Menteri India Narendra Modi yang menyebut ajaran Bhagavad Gita dan Alkitab memiliki tujuan sama, yaitu membimbing manusia menuju kebaikan.

“Imam Besar Masjid Istiqlal juga mengingatkan bahwa Alquran dan Alkitab membawa pesan persatuan yang sejalan. Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan menuju Tuhan yang satu. Karena itu, marilah kita saling mendoakan agar menjadi instrumen perdamaian, harmoni, dan menghadirkan dunia yang lebih baik,” katanya.

Menurutnya, meningkatnya konflik dan kekerasan di berbagai belahan dunia menjadi pengingat bahwa pemimpin agama memiliki tanggung jawab moral membangun dialog dan perdamaian.

“Mendiang Paus Fransiskus selalu mengingatkan para uskup di Asia agar terus bekerja bagi perdamaian dan keharmonisan. Sebagai pemimpin agama, kita memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang masyarakat. Pengaruh itu harus digunakan untuk memperkuat persaudaraan dan kemanusiaan,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat membangun paradigma baru dalam hubungan antarumat beragama dengan mengedepankan semangat persatuan.

Menurut Menag, persatuan merupakan fondasi yang lebih kuat dibandingkan sekadar toleransi dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.

“Toleransi memang penting, tetapi kita perlu melangkah lebih jauh. Saya lebih menyukai istilah work of unity atau kerja persatuan. Ketika masih berbicara tentang toleransi, kita seolah masih melihat adanya sekat. Persatuan mengajarkan kita untuk membangun kebersamaan tanpa dibatasi oleh perbedaan,” ujar Menag.

Nasaruddin menilai tantangan kehidupan beragama saat ini harus dijawab melalui kolaborasi nyata antarumat beragama untuk membangun masyarakat yang damai.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda sebagai motor penggerak persatuan melalui ruang-ruang perjumpaan lintas agama.

“Generasi muda harus semakin dekat satu sama lain. Mereka perlu membangun jejaring, bekerja sama, dan saling menjaga agar tidak muncul benih-benih disintegrasi. Di Indonesia, kolaborasi lintas agama bukan pilihan, tetapi kebutuhan,” tegasnya.

Sidang Pleno XII FABC 2026 di Jakarta menjadi forum strategis memperkuat kolaborasi para pemimpin Gereja Katolik Asia dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan sosial. Momentum tersebut sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu rujukan dunia dalam membangun kerukunan dan persatuan lintas agama. (*)