Fikih  

Jangan Keliru, Dosa Istri Tidak Otomatis Ditanggung Suami

ILUSTRASI - Benarkah dosa istri ditanggung suami? Simak penjelasan Buya Yahya berdasarkan hadis Rasulullah SAW dan Surah An-Nisa ayat 34. (Foto: Chatgpt/Serambi Muslim)

SerambiMuslim.com – Masih banyak masyarakat yang meyakini seluruh dosa istri akan ditanggung suami karena kedudukannya sebagai pemimpin keluarga.

Anggapan tersebut diluruskan oleh Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Yahya Zainul Maarif atau Buya Yahya.

Menurut Buya Yahya, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri di hadapan Allah SWT. Dosa istri tidak otomatis menjadi tanggungan suami, kecuali jika suami lalai menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin keluarga.

Prinsip tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang menegaskan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang dipimpinnya.

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari).

Menjawab pertanyaan mengenai tanggung jawab suami atas dosa istri, Buya Yahya menegaskan bahwa setiap orang memikul dosanya masing-masing.

“Jadi, orang nanggung dosanya sendiri-sendiri, enggak ada dosa istri ditanggung suami, enak amat,” ujar Buya Yahya dalam cuplikan video di kanal YouTube Al Bahjah TV.

Meski demikian, Buya Yahya menegaskan suami tetap memiliki tanggung jawab besar dalam membina keluarga. Kelalaian menjalankan amanah dapat menjadi sebab suami ikut dimintai pertanggungjawaban.

Menurutnya, seorang suami bisa ikut menanggung akibat apabila tidak pernah mendidik, membimbing, atau mengajak istrinya kepada kebaikan hingga akhirnya terjerumus dalam perbuatan yang dilarang Allah SWT.

“Yang ditanggung sang suami adalah di saat suami tidak pernah mendidik, tidak pernah membimbing, lalu istri menjadi tidak benar gara-gara suami tidak mendidik,” jelasnya.

Tanggung jawab suami sebagai pemimpin keluarga juga dijelaskan Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 34 yang menerangkan kedudukan suami sebagai penanggung jawab keluarga sekaligus kewajiban membimbing istri dengan cara yang dibenarkan syariat.

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

Artinya: “Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Orang Tua Diminta Pertanggungjawaban Atas Kelalaiannya

Buya Yahya menambahkan, prinsip yang sama berlaku dalam hubungan orang tua dan anak. Setiap anak akan mempertanggungjawabkan dosanya sendiri di hadapan Allah SWT.

Namun, orang tua tetap dapat dimintai pertanggungjawaban apabila lalai mendidik dan membimbing anak hingga tumbuh dalam keburukan.

“Jika anak berdosa, banyak salah karena orang tuanya tidak mendidik, orang tua dapat kiriman terus di alam barzakh. Biarpun bukan amalnya dia, tapi ini anaknya yang beramal jelek,” pungkas Buya Yahya.

Karena itu, setiap suami dan orang tua hendaknya menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Islam mengajarkan bahwa setiap individu memikul dosanya sendiri, tetapi kelalaian membimbing keluarga juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. (*)