SerambiMuslim.com – Seorang imam tidak hanya bertugas memimpin gerakan shalat berjamaah. Ia juga memiliki tanggung jawab menjaga kekhusyukan dan kenyamanan seluruh makmum.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan sejumlah adab yang perlu diperhatikan ketika seseorang menjadi imam shalat berjamaah.
Penjelasan tersebut terdapat dalam kitab Bidayatul Hidayah. Sedikitnya ada enam adab yang perlu diperhatikan seorang imam.
Adab tersebut berkaitan dengan persiapan sebelum shalat hingga cara mengakhiri shalat.
Berikut enam adab imam saat memimpin shalat berjamaah menurut Imam Al-Ghazali:
1. Tidak Tergesa-gesa Memulai Takbiratul Ihram
Imam dianjurkan tidak terburu-buru memulai shalat setelah iqamah dikumandangkan.
Ia hendaknya menunggu hingga muadzin menyelesaikan iqamah. Imam juga perlu memastikan shaf jamaah sudah lurus dan rapi.
Setelah itu, imam mengeraskan suara ketika mengucapkan takbiratul ihram.
Hal serupa berlaku untuk takbir ketika berpindah dari satu gerakan shalat ke gerakan lainnya.
Sementara itu, makmum cukup mengucapkan takbir dengan suara yang dapat didengar dirinya sendiri.
وَلَا يُكَبِّرُ مَا لَمْ يَفْرُغِ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْإِقَامَةِ، وَمَا لَمْ تَسْتَوِ الصُّفُوفُ، وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرَاتِ، وَلَا يَرْفَعُ الْمَأْمُومُ صَوْتَهُ إِلَّا قَدْرَ مَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ.
Latin: Wa la yukabbiru ma lam yafrughil mu’adzdzinu minal iqamah, wa ma lam tastawish shufuf, wa yarfa’u shautahu bit takbiraat, wa la yarfa’ul ma’mumu shautahu illa qadra ma yusmi’u nafsah.
Artinya: “Janganlah bertakbiratul ihram sebelum muadzin selesai mengumandangkan iqamah dan sebelum shaf-shaf telah lurus. Hendaknya imam mengeraskan suaranya ketika bertakbir, sedangkan makmum tidak mengeraskan suaranya kecuali sekadar terdengar oleh dirinya sendiri.”
2. Berniat Menjadi Imam
Menurut Imam Al-Ghazali, orang yang memimpin shalat dianjurkan memiliki niat menjadi imam.
Niat tersebut berkaitan dengan upaya memperoleh keutamaan shalat berjamaah.
وَيَنْوِي الْإِمَامَةَ لِيَنَالَ الْفَضْلَ، فَإِنْ لَمْ يَنْوِ، صَحَّتْ صَلَاةُ الْمَأْمُومِينَ إِذَا نَوَوُا الِاقْتِدَاءَ بِهِ، وَنَالُوا فَضْلَ الْقُدْوَةِ.
Latin: Wa yanwil imaamata li yanaalal fadhl, fa in lam yanwi shahhat shalaatul ma’muumiina idza nawawul iqtidaa’a bih, wa naaluu fadhlal qudwah.
Artinya: “Hendaknya imam berniat menjadi imam agar memperoleh keutamaan berjamaah. Jika imam tidak berniat menjadi imam, sholat para makmum tetap sah selama mereka berniat mengikuti imam dan mereka tetap memperoleh keutamaan berjamaah.”
3. Memperhatikan Bacaan yang Dikeraskan dan Dipelankan
Imam juga perlu memahami bacaan shalat yang dilakukan secara sirr atau pelan.
Ia juga perlu mengetahui bacaan yang dilakukan secara jahr atau keras.
Doa iftitah dan ta’awudz dibaca secara pelan. Sementara itu, Al-Fatihah, surat setelahnya, dan bacaan “Aamiin” dikeraskan pada shalat tertentu.
Bacaan tersebut dikeraskan pada shalat Subuh serta dua rakaat pertama Maghrib dan Isya.
Makmum juga dianjurkan mengucapkan “Aamiin” bersamaan dengan imam.
Makmum tidak dianjurkan mendahului imam ketika mengucapkan bacaan tersebut.
وَيُسِرُّ بِدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ كَالْمُنْفَرِدِ، وَيَجْهَرُ بِالْفَاتِحَةِ وَالسُّورَةِ فِي جَمِيعِ الصُّبْحِ، وَأُولَيَيِ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، وَكَذَلِكَ الْمُنْفَرِدُ، وَيَجْهَرُ بِقَوْلِهِ آمِينَ فِي الْجَهْرِيَّةِ، وَكَذَلِكَ الْمَأْمُومُ، وَيُقَارِنُ الْمَأْمُومُ تَأْمِينَهُ بِتَأْمِينِ الْإِمَامِ.
Latin: Wa yusirru bi du’aa’il istiftaah wat ta’awwudz kal munfarid, wa yajharu bil Faatihati was suurati fii jamii’ish shubhi wa ulayail maghribi wal ‘isyaa’, wa yajharu bi qaulihi aamiin fil jahriyyah, wa yukaarinul ma’muumu ta’miinahu bi ta’miinil imaam.
Artinya: “Hendaknya imam membaca doa iftitah dan ta’awudz secara pelan. Ia mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat pada seluruh rakaat Subuh serta dua rakaat pertama Maghrib dan Isya. Demikian pula bacaan Aamiin dibaca keras pada sholat jahr, dan makmum membacanya bersamaan dengan imam.”
4. Memberi Jeda Setelah Membaca Al-Fatihah
Setelah membaca Al-Fatihah dan mengucapkan “Aamiin”, imam dianjurkan memberikan jeda sejenak.
Jeda tersebut memberikan kesempatan kepada makmum untuk membaca Al-Fatihah.
Setelah jeda, imam dapat melanjutkan bacaan surat dalam shalat.
وَيَسْكُتُ الْإِمَامُ سَكْتَةً عَقِيبَ الْفَاتِحَةِ لِيَثُوبَ إِلَيْهِ نَفَسُهُ، وَيَقْرَأُ الْمَأْمُومُ الْفَاتِحَةَ فِي الْجَهْرِيَّةِ فِي هَذِهِ السَّكْتَةِ.
Latin: Wa yaskutul imaamu saktatan ‘aqiibal Faatihah li yatsuuba ilaihi nafasuh, wa yaqra’ul ma’muumul Faatihata fil jahriyyati fii haadzihis saktah.
Artinya: “Hendaknya imam diam sejenak setelah membaca Al-Fatihah agar napasnya kembali tenang, sementara makmum memanfaatkan jeda tersebut untuk membaca Al-Fatihah.”
5. Tidak Memanjangkan Bacaan hingga Memberatkan Makmum
Imam juga dianjurkan memperhatikan kondisi jamaah ketika memimpin shalat.
Bacaan dan gerakan shalat tidak sepatutnya diperpanjang hingga memberatkan makmum.
Dalam rukuk dan sujud, imam dianjurkan membaca tasbih sebanyak tiga kali.
Pada tasyahud awal, bacaan tidak ditambah setelah shalawat kepada Nabi.
Sementara pada dua rakaat terakhir, imam cukup membaca Al-Fatihah.
وَلَا يَزِيدُ الْإِمَامُ عَلَى الثَّلَاثِ فِي تَسْبِيحَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، وَلَا يَزِيدُ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ بَعْدَ قَوْلِهِ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَيَقْتَصِرُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ عَلَى الْفَاتِحَةِ، وَلَا يُطَوِّلُ عَلَى الْقَوْمِ.
Latin: Wa laa yaziidul imaamu ‘alats tsalaatsi fii tasbiihaatir rukuu’i was sujuud, wa laa yaziidu fit tasyahhudil awwali ba’da qaulihi Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, wa yaqtashiru fir rak’atainil akhiirataini ‘alal Faatihah wa laa yuthawwilu ‘alal qaum.
Artinya: “Janganlah imam menambah bacaan tasbih rukuk dan sujud lebih dari tiga kali. Jangan menambah bacaan pada tasyahud awal setelah sholawat kepada Nabi, cukup membaca Al-Fatihah pada dua rakaat terakhir, dan jangan memanjangkan bacaan sehingga memberatkan jamaah.”
6. Berniat Memberi Salam kepada Jamaah
Adab terakhir berkaitan dengan salam ketika mengakhiri shalat. Imam dianjurkan berniat memberikan doa keselamatan kepada jamaah ketika mengucapkan salam.
Sementara itu, makmum berniat menjawab salam imam melalui salam yang mereka ucapkan.
وَيَنْوِي الْإِمَامُ عِنْدَ التَّسْلِيمِ السَّلَامَ عَلَى الْقَوْمِ، وَيَنْوِي الْقَوْمُ بِتَسْلِيمِهِمْ جَوَابَهُ.
Latin: Wa yanwil imaamu ‘indat tasliimi as-salaama ‘alal qaum, wa yanwil qaumu bi tasliimihim jawaabah.
Artinya: “Hendaknya imam ketika mengucapkan salam berniat mendoakan keselamatan bagi jamaah, sedangkan jamaah berniat menjawab salam imam melalui salam yang mereka ucapkan.”
Enam adab tersebut menunjukkan bahwa tugas imam bukan sekadar memimpin gerakan shalat.
Imam juga perlu memperhatikan kekhusyukan dan kondisi jamaah selama ibadah berlangsung.
Dengan memperhatikan adab tersebut, imam diharapkan dapat memimpin sholat secara tenang dan sesuai tuntunan syariat.
Pada akhirnya, kepemimpinan dalam sholat berjamaah menuntut kesiapan lahiriah sekaligus perhatian terhadap kenyamanan dan kekhusyukan makmum. (*)







