Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Ini Profilnya

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. (Foto: AFP)

SerambiMuslim.com – Kabar mengejutkan datang dari Teheran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.

Informasi awal mengenai kabar ini beredar melalui sejumlah media internasional, termasuk Al Jazeera. Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, turut memperkeruh situasi setelah ia menyebut bahwa Khamenei dan sejumlah pejabat Iran “tidak dapat menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih Amerika.”

Latar Belakang dan Pendidikan

Berdasarkan biografi resmi yang dipublikasikan melalui situs Khamenei.ir, Ali Khamenei lahir di Mashhad pada 19 April 1939. Ia merupakan putra dari Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama sederhana yang dikenal hidup bersahaja.

Sejak kecil, Khamenei menempuh pendidikan agama tradisional. Ia belajar membaca Alquran dan alfabet di maktab sebelum melanjutkan pendidikan ke sekolah Islam dan seminari teologi di Mashhad.

Di lembaga seperti Madrasah Soleiman Khan dan Nawwab, ia mempelajari filsafat, logika, serta fikih di bawah bimbingan sejumlah ulama terkemuka.

Jejak Revolusi Islam

Khamenei mulai aktif secara politik sejak usia muda. Ia terinspirasi oleh pidato-pidato tokoh ulama revolusioner, Nawwab Safavi, yang mengkritik kebijakan Shah Iran.

Pada 1962, Khamenei bergabung dengan gerakan yang dipimpin Ruhollah Khomeini, tokoh sentral Revolusi Islam Iran. Selama lebih dari satu dekade, ia terlibat dalam aktivitas politik menentang pemerintahan Shah yang dinilai pro-Barat.

Aktivitasnya membuat ia beberapa kali ditangkap dan dipenjara, termasuk oleh badan intelijen SAVAK. Ia juga mengalami pengasingan selama beberapa tahun sebelum akhirnya kembali aktif dalam mobilisasi massa menjelang tumbangnya rezim Shah pada 1979.

Dari Presiden hingga Pemimpin Tertinggi

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran pada masa Perang Iran-Irak (1980–1988). Konflik panjang tersebut membentuk pandangannya yang keras terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat, yang saat itu mendukung Irak di bawah Saddam Hussein.

Pada 1989, Khamenei resmi menggantikan Ruhollah Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Jika Khomeini dikenal sebagai arsitek ideologis Revolusi 1979, Khamenei memperkuat struktur kekuasaan negara melalui konsolidasi militer dan jaringan pengaruh regional.

Konsolidasi Kekuasaan dan Kritik Domestik

Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam berkembang menjadi aktor dominan di sektor militer, politik, hingga ekonomi. Ia juga mendorong konsep “ekonomi perlawanan” untuk mengurangi ketergantungan Iran terhadap Barat di tengah sanksi internasional.

Namun pendekatan keras tersebut memicu kritik luas. Penanganan demonstrasi pasca-pemilu 2009 serta gelombang protes 2022 terkait hak perempuan memperkuat citra pemerintah yang represif terhadap oposisi domestik.

Pakar Iran, Vali Nasr, menilai bahwa bagi Khamenei, revolusi, republik Islam, dan nasionalisme Iran merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun, pendekatan tersebut dinilai membuat sebagian masyarakat merasa teralienasi dari kepemimpinan negara.

Nuklir, Sanksi, dan Konfrontasi Regional

Meski dikenal tegas, Khamenei pernah menyetujui kesepakatan nuklir 2015 atau JCPOA untuk meredakan tekanan ekonomi akibat sanksi internasional. Namun keputusan AS di era Presiden Trump yang menarik diri dari perjanjian itu kembali memperburuk hubungan kedua negara.

Strategi luar negeri Iran di bawah Khamenei dikenal dengan pendekatan “bukan damai, bukan perang,” dengan memperkuat aliansi regional yang sering disebut sebagai “poros perlawanan,” termasuk kelompok-kelompok di Lebanon, Palestina, dan Yaman.

Ketegangan dengan Israel meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan sempat melontarkan ancaman terbuka terhadap kepemimpinan Iran.

Dalam sejumlah pidato terakhirnya, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan militer maupun politik dari luar.

Jika kabar wafatnya benar, peristiwa ini berpotensi menjadi momen paling krusial bagi Republik Islam Iran sejak Revolusi 1979. Transisi kepemimpinan di tingkat tertinggi dapat memicu dinamika politik internal sekaligus memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah secara luas. ***