SerambiMuslim.com – Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, mendorong para alumni PTKIN untuk mengambil peran strategis dalam membangun peradaban Islam global berbasis Indonesia.
Ia menilai, peluang tersebut terbuka lebar seiring kondisi geopolitik di Timur Tengah yang masih diliputi konflik.
Ajakan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam sambutan penutupan Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni PTKIN se-Indonesia di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.
“Mari kita rumuskan langkah-langkah strategis untuk menjadikan Indonesia benar-benar sebagai pusat peradaban dunia Islam,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, Timur Tengah telah menunaikan peran historis sebagai tempat lahirnya para nabi dan turunnya Alquran. Namun, untuk pengembangan peradaban Islam ke depan, kawasan tersebut dinilai menghadapi tantangan besar akibat konflik yang belum mereda.
“Selama konflik masih berlangsung, masih ada Israel, sulit mengharapkan stabilitas di kawasan tersebut. Sementara Indonesia relatif berada jauh dari pusat konflik,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat dampak konflik global tetap bisa dirasakan lintas negara. Namun, Nasaruddin tetap optimistis Indonesia tidak akan terdampak langsung dalam jangka 10 hingga 20 tahun ke depan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya penguatan pemikiran Islam Indonesia melalui karya intelektual. Salah satunya dengan mendorong penerjemahan karya-karya ulama dan akademisi Muslim Indonesia ke dalam bahasa Arab dan bahasa asing lainnya.
“Target kita jelas, bagaimana Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama bisa menjadi episentrum peradaban dunia Islam,” tegasnya.
Ia menilai, Indonesia memiliki modal besar untuk mewujudkan cita-cita tersebut, termasuk jumlah populasi Muslim yang signifikan serta dukungan pemerintah terhadap penguatan pendidikan Islam.
Menurut Nasaruddin, Presiden Prabowo Subianto juga memiliki perhatian terhadap pengembangan studi Islam sebagai salah satu jalan memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
“Studi Islam menjadi salah satu jalur tercepat untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia, dan saat ini persaingannya relatif terbuka,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut sejumlah negara di Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat studi Islam tengah menghadapi berbagai tantangan, baik ekonomi, sosial, maupun politik. Kondisi ini dinilai sebagai momentum bagi Indonesia untuk tampil lebih dominan.
“Ini kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan diri dan mengambil peran lebih besar dalam membangun peradaban Islam global,” ujarnya.
Ia pun berharap para alumni PTKIN dapat berkontribusi aktif dalam merumuskan gagasan dan langkah konkret untuk mewujudkan visi tersebut.
“Sudah saatnya kita melakukan langkah besar. Saya berharap para alumni bisa ikut memikirkan dan mewujudkannya,” pungkas Nasaruddin. ***







