SerambiMuslim.com – Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat komitmennya menciptakan lingkungan madrasah yang aman, ramah anak, dan bebas perundungan (bullying) melalui pelaksanaan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) 2026.
Upaya tersebut diwujudkan dengan penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di seluruh madrasah.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pelaksanaan MATAMUDA 2026 di MAN 19 Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Kemenag menargetkan madrasah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang tumbuh yang aman bagi peserta didik untuk berkembang secara akademik, mental, dan spiritual.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Nyayu Khodijah, mengatakan nilai-nilai dalam Kurikulum Berbasis Cinta harus diterapkan dalam seluruh aktivitas di lingkungan madrasah, bukan sekadar menjadi konsep dalam dokumen pembelajaran.
“Kurikulum Berbasis Cinta harus hadir dalam setiap aktivitas di madrasah, baik di ruang kelas, di halaman sekolah, dalam proses belajar, maupun dalam interaksi antarsesama warga madrasah,” ujar Nyayu, dikutip dari laman Kemenag.
Gerakan SENYAMAN Perkuat Madrasah Ramah Anak
Nyayu menjelaskan, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dilakukan melalui Gerakan SENYAMAN (Sehat, Aman, Nyaman, Menyenangkan) yang berfokus pada tiga indikator utama.
Salah satu indikator terpenting adalah mewujudkan madrasah ramah anak, dengan memastikan tidak ada ruang bagi tindakan diskriminasi, kekerasan, maupun perundungan.
“Tidak boleh ada peserta didik yang merasa takut datang ke madrasah. Semua anak harus mendapatkan rasa aman, perlindungan, dan penghargaan selama mengikuti proses pendidikan,” tegas Nyayu.
Selain menciptakan lingkungan bebas bullying, Gerakan SENYAMAN juga mendorong terwujudnya madrasah yang ramah lingkungan serta mendukung kesejahteraan mental dan spiritual peserta didik agar tumbuh bahagia dengan keimanan dan akhlak yang baik.
Kemenag Dorong Murid Berprestasi dan Berkarakter
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Suyitno, mengajak seluruh murid baru menjadikan masa belajar di madrasah sebagai bekal untuk berprestasi sekaligus memperkuat kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia mengimbau para siswa menjaga persatuan di tengah keberagaman serta mempersiapkan diri untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia pada masa mendatang.
Menurut Suyitno, transformasi pendidikan di madrasah harus berjalan seimbang antara peningkatan kompetensi akademik dan pembentukan karakter.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip nasihat klasik dari kitab Ta’limul Muta’allim mengenai enam pilar utama keberhasilan dalam menuntut ilmu, yaitu kecerdasan, kesabaran, dukungan, penghormatan kepada guru, kemauan yang kuat, serta kesediaan menjalani proses belajar dalam waktu yang panjang.
“Ilmu tidak hanya diukur dari apa yang dikuasai, tetapi juga dari bagaimana ilmu itu diperoleh. Karena itu, menghormati guru dan menjaga adab merupakan bagian penting dalam proses pendidikan,” jelas Suyitno.
Melalui MATAMUDA 2026 dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, Kemenag berharap budaya saling menghormati, kepedulian, dan keamanan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di madrasah. Dengan demikian, madrasah dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, sehat secara mental, dan memiliki akhlak mulia. (*)






