SerambiMuslim.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meresmikan Syekh Yusuf Corner di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar sebagai pusat riset, edukasi, dan dokumentasi warisan intelektual Syekh Yusuf Al-Makassari.
Kehadiran fasilitas ini diharapkan memperkuat kajian khazanah keislaman Nusantara sekaligus melestarikan pemikiran ulama besar asal Sulawesi Selatan tersebut.
Peresmian dilakukan dalam Seminar Internasional 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di Auditorium Kampus UIN Alauddin Makassar, Samata, Kabupaten Gowa, Kamis, 9 Juli 2026). Seminar mengangkat tema “Warisan Keislaman, Perjuangan Kemanusiaan, dan Diplomasi Peradaban Dunia.”
Syekh Yusuf Corner dikembangkan sebagai ruang literasi dan dokumentasi yang memperkenalkan kehidupan, pemikiran, karya, serta perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari. Fasilitas ini juga diharapkan menjadi pusat edukasi, penelitian, dan pelestarian warisan keislaman Nusantara bagi kalangan akademisi maupun masyarakat.
Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Syekh Yusuf Al-Makassari merupakan sosok ulama Nusantara yang tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan, akhlak, dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Syekh Yusuf bukan sekadar penyebar agama. Beliau adalah ulama yang membangun peradaban melalui ilmu, akhlak, dan perjuangan kemanusiaan. Dakwahnya mampu diterima oleh berbagai bangsa karena mengedepankan hikmah, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ujar Menag.
Menurut Nasaruddin, perjalanan intelektual Syekh Yusuf mencerminkan keluasan tradisi keilmuan ulama Nusantara. Selama kurang lebih 35 tahun berada di luar negeri, Syekh Yusuf menuntut ilmu di Makkah, Madinah, dan Yaman sebelum melanjutkan dakwah di Sri Lanka hingga Afrika Selatan.
Keberhasilan Syekh Yusuf membangun komunitas Muslim di Afrika Selatan, lanjut Menag, menjadi bukti bahwa dakwah yang berlandaskan ilmu dan akhlak mampu melampaui batas etnis maupun kebangsaan. Karena itu, Syekh Yusuf dikenang bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga pejuang kemanusiaan dan simbol persaudaraan yang dihormati di Indonesia, Sri Lanka, serta Afrika Selatan.
Menag juga menilai ajaran tasawuf yang diwariskan Syekh Yusuf telah membentuk wajah Islam yang damai, moderat, dan inklusif. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk memperkuat moderasi beragama serta menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.
Selain keteladanan, Syekh Yusuf meninggalkan warisan intelektual yang masih perlu terus dikaji. Nasaruddin mengajak akademisi, peneliti, dan generasi muda memperluas penelitian mengenai sejarah, pemikiran, dan karya-karya Syekh Yusuf Al-Makassari.
Ia juga mendorong penyelamatan manuskrip-manuskrip Syekh Yusuf yang masih tersebar di berbagai perpustakaan dunia, termasuk di Leiden, Belanda, maupun yang tersimpan di masyarakat Sulawesi Selatan.
“Kita memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan manuskrip, mengembangkan penelitian, dan menghadirkan pusat-pusat dokumentasi agar warisan intelektual Syekh Yusuf dapat terus dipelajari oleh generasi mendatang. Warisan beliau bukan hanya milik Sulawesi Selatan atau Indonesia, tetapi telah menjadi bagian dari peradaban dunia,” tandasnya.
Seminar internasional tersebut dihadiri sivitas akademika UIN Alauddin Makassar, ulama, akademisi, peneliti, mahasiswa, pegiat budaya, serta tamu undangan dari berbagai instansi dan organisasi. (*)







