Peran Perempuan dalam Menjaga Kemurnian Islam

Nabi Muhammad SAW disebut memberi ruang belajar bagi perempuan. Perempuan pada masa Nabi bahkan meminta waktu khusus untuk belajar. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Cendekiawan Muslim Amany Lubis menegaskan peran perempuan dalam sejarah Islam. Ia menyebut perempuan turut membangun tradisi keilmuan Islam sejak awal.

Menurutnya, perempuan memiliki kontribusi besar dalam transmisi ilmu hadis. Ia menilai Islam telah menghapus diskriminasi dalam menuntut ilmu.

Nabi Muhammad SAW disebut memberi ruang belajar bagi perempuan. Perempuan pada masa Nabi bahkan meminta waktu khusus untuk belajar.

“Perempuan ingin mendapatkan ilmu langsung agar setara dengan laki-laki,” ujar Amany dalam ceramah bertajuk ‘Peran Perempuan dalam Periwayatan Hadis’ seperti dikutip dari istiqlal.or.id, Senin, 30 Maret 2026.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Alquran:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ

Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. An-Naḥl [16]:97)

Ayat tersebut menegaskan kesetaraan amal laki-laki dan perempuan.

Dalam ilmu hadis, riwayat perempuan memiliki kedudukan setara. Ulama sepakat syarat perawi bukan berdasarkan gender.

“Syarat perawi adalah adil dan memiliki ketelitian,” kata Amany.

Ia menyoroti peran Aisyah binti Abu Bakar dalam periwayatan hadis. Aisyah meriwayatkan lebih dari 2.200 hadis. Ia juga dikenal sebagai sosok intelektual di masanya.

“Aisyah bukan hanya perawi, tetapi juga ilmuwan,” ujarnya.

Amany juga menyinggung peran Hafsah binti Umar. Hafsah berperan menjaga mushaf Alquran pada masa awal Islam. Peran tersebut penting sebelum kodifikasi resmi di era Utsman bin Affan.

Amany menegaskan tanggung jawab laki-laki dan perempuan bersifat setara. Keduanya memiliki peran dalam menjaga keluarga dan masyarakat.

Ia mengutip hadis Nabi:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin adalah pemimpin atas rakyatnya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Amany menekankan perempuan memiliki tanggung jawab spiritual dan sosial. Perempuan berperan dalam menjaga iman dan kesejahteraan keluarga. ***