Sembilan WNI Sudah Dibebaskan Tentara Israel

Sembilan WNI peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) dibebaskan oleh militer Israel dan kini telah tiba di Turki dalam kondisi sehat. (Foto: Tangkapan layar Instagram)

SerambiMuslim.com – Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) dilaporkan telah dibebaskan oleh militer Israel pada Kamis, 21 Mei 2026.

Setelah sempat ditahan, seluruh relawan kini telah berada di Turki dan dalam kondisi dinyatakan sehat sebelum dipulangkan ke Indonesia.

Kabar pembebasan para relawan tersebut turut dibagikan melalui unggahan media sosial Chiki Fawzi yang memperlihatkan momen kebersamaan para relawan usai dibebaskan.

Dalam video itu, sejumlah WNI tampak berbagi cerita mengenai pengalaman mereka selama masa penahanan.

Salah satu jurnalis Republika, Bambang Noroyono atau Abeng, menyampaikan rasa syukur atas keselamatannya serta berterima kasih atas dukungan publik.

“Yang penting selamat. Doanya aja. Terima kasih semua doanya,” ujar Abeng.

Rekan seprofesinya, pewarta foto Republika Thoudy Badai, juga mengaku bersyukur dapat kembali dalam keadaan selamat. Ia menegaskan komitmennya untuk tetap menyuarakan dukungan terhadap Palestina.

“Terus tetap suarakan Palestina, kebebasan untuk Palestina,” katanya.

Sementara itu, jurnalis TV Tempo Andre Prasetyo menceritakan pengalaman saat kapal mereka dicegat di perairan internasional. Ia mengaku sempat mendapat perlakuan yang tidak konsisten antara awal intersepsi dan proses pemindahan ke kapal militer.

Menurut Andre, saat awal intersepsi, para tentara Israel disebut bersikap tenang dan menenangkan. Namun, situasi berubah ketika para relawan dipindahkan ke kapal militer.

Ia juga mengungkapkan telah terjadi kekerasan selama proses penahanan dan pemindahan menuju pelabuhan Ashdod.

“Teroris,” ucap Andre menirukan perkataan yang ia dengar dari aparat di lokasi kejadian.

Andre menambahkan, dirinya melihat sejumlah relawan dalam kondisi lemah setelah insiden tersebut.

“Saya lihat, Bu, Thoudy udah lemes, Bu, udah mau mati,” ujarnya saat berbincang dengan Koordinator Global Peace Convoy Indonesia, Maimoen Herawati. “Terkapar,” timpal Thoudy.

Setibanya di Ashdod, Andre mengaku kembali mengalami tindakan kekerasan. Ia menyebut para relawan dipaksa berbaring di tanah dengan kondisi tangan terikat.

“Begitu sampai Ashdod, di tanah, itu paling keji,” katanya.

Ia juga menunjukkan adanya luka di bagian lengan yang diduga akibat ikatan selama penahanan.

Jurnalis lainnya, Nugroho Rahendro Herubowo (iNews dan Beritasatu), turut mengaku mengalami kekerasan fisik, termasuk tendangan dan tekanan di bagian tubuh. “Terakhir disetrum,” ujarnya.

Menurutnya, bekas luka masih terasa hingga setelah pembebasan, meski ia berharap tidak menimbulkan dampak jangka panjang.

Diketahui, lebih dari 400 relawan GSF dari berbagai negara sebelumnya dilaporkan ditahan saat melakukan pelayaran misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina, sejak 18 Mei 2026. Sebagian besar telah dibebaskan, termasuk sembilan WNI tersebut.

Konsul Jenderal RI di Istanbul Darianto Harsono memastikan para WNI berada dalam kondisi baik setelah tiba di Turki.

“Alhamdulillah hari ini sembilan saudara-saudari kita dari misi GSF telah bersama kami dalam kondisi sehat walafiat,” ujarnya.

Ia juga menyebut para WNI sempat mengalami kekerasan selama masa penahanan.

“Walaupun mereka selama 3–4 hari mengalami kekerasan fisik, ada yang ditendang, dipukul, ataupun disetrum,” kata Darianto.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengecam perlakuan yang dialami para relawan. Ia menegaskan tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dalam perspektif hukum internasional.

“Pemerintah Indonesia sekali lagi menegaskan kecamannya atas perlakuan tidak manusiawi yang diterima para relawan,” ujar Menlu. (*)