SerambiMuslim.com – Ibadah haji kerap menimbulkan rasa ingin tahu di kalangan non-Muslim. Bagi umat Islam yang akan berangkat haji untuk pertama kalinya, menjelaskan makna serta rangkaian ritual haji kepada teman non-Muslim juga tidak selalu mudah.
Lalu, bagaimana cara menjelaskan ibadah haji kepada non-Muslim secara sederhana dan tepat?
Konsultan sekaligus profesor studi Islam asal India, Prof Shahul Hameed, menjelaskan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang sarat nilai tentang persatuan, kesetaraan, dan penghambaan kepada Allah SWT.
“Haji adalah rukun Islam kelima. Umat Islam yang mampu secara fisik dan finansial dianjurkan melaksanakannya sekali seumur hidup,” ujarnya dikutip dari About Islam, Sabtu, 16 Mei 2026.
Ia menambahkan, rangkaian ibadah haji dilaksanakan di Makkah serta beberapa lokasi di sekitarnya, seperti Mina, Arafah, dan Muzdalifah, pada bulan Dzulhijjah selama beberapa hari.
Prof Shahul Hameed menjelaskan, prosesi haji dimulai dengan memasuki keadaan ihram, yakni kondisi suci yang mengharuskan jemaah meninggalkan sejumlah larangan, seperti memakai pakaian biasa, memotong rambut dan kuku, menggunakan parfum, hingga berhubungan suami istri.
Setelah itu, jemaah bergerak menuju Mina, lalu melaksanakan wukuf di Arafah yang menjadi puncak ibadah haji. Dari Arafah, jemaah melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah untuk bermalam sebelum kembali ke Mina.
Pada 10 Dzulhijjah, jemaah melaksanakan penyembelihan hewan kurban, mencukur atau memotong rambut, serta melempar jumrah sebagai bagian dari rangkaian ritual.
Selanjutnya, jemaah menuju Makkah untuk melaksanakan thawaf mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali, serta sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah.
“Selama tiga hari berikutnya, jemaah kembali melempar kerikil di tiga tempat berbeda di Mina sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan,” jelasnya.
Lebih jauh, Prof Shahul Hameed menegaskan bahwa haji bukan hanya ritual lahiriah, tetapi juga simbol perjalanan manusia menuju kehidupan akhirat.
Menurutnya, jemaah meninggalkan keluarga dan kampung halaman, lalu mengenakan pakaian sederhana yang menyerupai kain kafan sebagai pengingat akan kematian dan hari kebangkitan.
“Jutaan orang berkumpul dengan pakaian yang sama, melakukan hal yang sama, tanpa membedakan ras, status sosial, atau kebangsaan. Ini menggambarkan pertemuan besar umat manusia setelah kebangkitan,” tulisnya.
Ia juga menyoroti keterkaitan haji dengan sejarah para nabi, khususnya Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar.
Ritual sa’i antara Shafa dan Marwah, misalnya, menjadi pengingat perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail AS. Sementara itu, Sumur Zamzam menjadi simbol pertolongan Allah SWT yang muncul di tengah gurun.
“Haji juga mengajarkan nilai persatuan, kesetaraan, universalitas, kerendahan hati, kebersamaan, dan pengendalian diri,” ujarnya.
Prof Shahul Hameed menilai, salah satu tujuan utama haji adalah transformasi spiritual.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut bahwa jemaah haji yang menjaga diri dari dosa akan kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: Siapa yang berhaji dan tidak berkata keji serta tidak berbuat dosa, maka ia kembali suci seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari, Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Ia juga menyinggung pengalaman tokoh Muslim kulit hitam Amerika, Malcolm X, yang mengalami perubahan pandangan setelah menunaikan haji di Makkah.
Dalam surat terkenalnya dari Makkah, Malcolm X mengaku melihat langsung persaudaraan lintas ras yang membuatnya menata ulang pandangan tentang kemanusiaan.
Prof Shahul Hameed menyimpulkan, ibadah haji merupakan pengalaman spiritual yang tidak hanya berisi ritual, tetapi juga perjalanan penyucian jiwa dan pembelajaran nilai kemanusiaan.
“Keselamatan di kehidupan ini akan menuntun kepada keselamatan di kehidupan selanjutnya,” pungkasnya. ***







