SerambiMuslim.com – PT Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN) mendukung Indonesia memimpin ASEAN Halal Council di tengah kewajiban sertifikasi halal mulai 18 Oktober 2026.
Perhelatan The 5th Summit of Halal-20 (H20) yang berlangsung pada 18-20 September 2026 di Jakarta menjadi penegas kepemimpinan sebagai produsen produk halal di dunia.
Direktur Utama PT Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN) Adi Saputra Tedja Surya mengatakan, momentum H20 menjadi penting karena pemberlakuan wajib sertifikasi halal akan dimulai pada 18 Oktober 2026.
Menurut Adi Saputra, transaksi produk halal global diproyeksikan mencapai USD5 triliun pada 2030. Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar konsumen halal terbesar, tetapi juga mampu menjadi salah satu eksportir utama produk halal dunia.
“Kita harus naik kelas menjadi produsen dan pusat produksi halal. Karena itu usulan agar Indonesia memegang peran kepemimpinan dalam ASEAN Halal Council sangat kami dukung,” kata Adi Saputra di sela acara The 5th Summit of Halal (H20) di Hotel Trans Jakarta, Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu, 19 September 2026.
ASEAN Dinilai Jadi Pasar Halal Strategis
Adi Saputra mengatakan ASEAN memiliki populasi hampir 700 juta penduduk. Menurut dia, besarnya populasi tersebut menjadikan ASEAN sebagai pasar yang saling melengkapi.
Kepemimpinan Indonesia di ASEAN Halal Council dinilai dapat mempercepat harmonisasi standar dan arus perdagangan produk halal antarnegara.
Kondisi tersebut juga dinilai dapat memperkuat ekosistem industri halal di kawasan Asia Tenggara.
“Bagi kami di industri kawasan, ekosistem halal tidak berhenti di sertifikasi produk, tapi juga butuh infrastruktur fisiknya, kawasan industri yang tertata, patuh regulasi, dan siap menampung investasi. Di sinilah KEK Halal Sidoarjo menjadi krusial sebagai simpul produksi halal yang terintegrasi,” ujarnya.
Siapkan Infrastruktur Kawasan Industri Halal
PT Makmur Berkah Amanda Tbk memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam mengelola kawasan industri umum. Pengalaman tersebut dijalankan melalui SAFE ‘n’ LOCK Eco Industrial Park di Sidoarjo, Jawa Timur.
Pengelolaan kawasan tersebut mencakup kepatuhan perizinan hingga penyediaan unit pabrik dan gudang siap pakai.
AMAN juga memberikan pendampingan kepada para tenant yang menjalankan kegiatan usaha di kawasan industri tersebut.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi fondasi untuk mendukung pengembangan ekosistem halal nasional dan regional.
“Ini adalah fondasi yang kami siapkan untuk menopang agenda halal nasional dan regional. Kami ingin memastikan ketika Indonesia memimpin di meja ASEAN, kesiapan di lapangan sudah tersedia,” pungkasnya.
Respon Sekjen B57+
Sekjen B57+ Indonesia, Eka Sastra, menyatakan Indonesia sangat membuka kemungkinan menjadi ketua pertama ASEAN Halal Council seperti yang diusulkan Malaysia. Indonesia menilai forum itu penting untuk mengintegrasikan ekosistem halal di kawasan ASEAN.
Eka Sastra mengatakan, integrasi pasar halal ASEAN masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah perbedaan standar dan prosedur sertifikasi halal antarnegara.
Hal tersebut menjadi salah satu agenda dalam The 5th Summit of Halal 20 (H20) yang digelar di Hotel Trans Jakarta, Cibubur, Jumat, 18 September 2026.
“Kita bisa melihat hasil diskusi dengan peserta, kita (ASEAN) belum terintegrasi marketnya, sertifikasi halal di negara ini berbeda dengan negara itu,” kata Eka Sastra.
Menurut Eka, kondisi tersebut menunjukkan ASEAN membutuhkan forum khusus. Forum itu harus menghasilkan langkah konkret untuk mengatasi hambatan dalam ekosistem halal.
Karena itu, Indonesia mengusulkan adanya standardisasi prosedur sertifikasi halal. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas industri halal antarnegara ASEAN.
“Menstandarisasi perbedaan-perbedaan prosedur sertifikasi halal sehingga konektivitas bisa terselesaikan sehingga ujungnya bisa terintegrasi,” ujar Eka.
“Indonesia sangat welcome terhadap usulan-usulan teman-teman sesama negara ASEAN dan kita berharap ada langkah konkret dari seminar ini,” sambungnya.
Eka mengatakan, pembahasan dalam forum tersebut juga diarahkan untuk memetakan hambatan perdagangan dan investasi. Pemetaan itu dinilai penting sebagai titik awal penyelesaian persoalan di sektor halal.
Hasil diskusi The 5th Summit of Halal 20 (H20) selanjutnya akan disampaikan kepada kementerian terkait. Sejumlah kementerian dan lembaga turut hadir dalam forum tersebut. Di antaranya adalah Kementerian Perindustrian, perbankan, sektor UMKM, serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
“Saya kira kalau dari sisi Indonesia, dukungan pemerintah sangat konkret terhadap hal ini. Tinggal bagaimana para pelaku usaha menaikkan kapasitasnya, mulai menjajaki pasar luar negeri,” jelas Eka.
*Indonesia Jadi Eksportir Produk Halal*
Eka berharap penguatan ekosistem halal tidak berhenti pada standardisasi sertifikasi. Indonesia juga diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha untuk memasuki pasar internasional.
Menurut dia, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu eksportir utama produk halal.
Mengenai usulan Malaysia agar Indonesia menjadi ketua pertama ASEAN Halal Council, Eka menyatakan Indonesia terbuka terhadap gagasan tersebut. “Memang beberapa suara menginginkan Indonesia menjadi leader-nya,” kata Eka.
Namun, Eka menegaskan bahwa tujuan utama Indonesia bukan sekadar memimpin ASEAN Halal Council. Platform tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi produk halal.
“Target Indonesia bukan memimpin ASEAN Halal, melainkan memanfaatkan platform halal ini untuk meningkatkan investasi dan perdagangan,” ungkapnya.
Ia menilai integrasi konektivitas antarnegara menjadi hal yang lebih penting. Dengan konektivitas tersebut, pelaku usaha di negara-negara ASEAN diharapkan lebih mudah mengakses pasar kawasan.
Indonesia juga mengusulkan konsep halal paspor sebagai salah satu upaya mendukung integrasi tersebut.
“Sebelum kita berangkat ke sebuah negara, kita tahu paspor visa apa yang kita butuhkan. Nah itu yang kita coba standarisasi,” ujar Eka.
Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menyederhanakan proses perdagangan produk halal antarnegara.
Eka mengakui posisi Indonesia saat ini masih tertinggal dari Malaysia industri halal nasional menjadi salah satu agenda penting ke depan.
Ia berharap Indonesia dapat meningkatkan kontribusinya sehingga menjadi salah satu pemain utama di pasar halal global.
“Harapannya Indonesia ke depan menjadi kontributor utama di pasar halal,” kata Eka. (*)







