Menag dan Sekjen Al-Azhar Bahas Kerja Sama Pendidikan

Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima kunjungan Sekjen Dewan Ulama Senior Al-Azhar, Prof Abbas Shouman. Dalam pertemuan itu dibahas penguatan kerja sama pendidikan Islam, bahasa Arab, kuota mahasiswa Indonesia, pembelajaran jarak jauh, dan diplomasi keagamaan. (FOTO: Dok Kemenag)

SerambiMuslim.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima kunjungan Sekretaris Jenderal Dewan Ulama Senior Al-Azhar, Prof. Abbas Shouman di Kantor Pusat Kementerian Agama (Kemenag) RI, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama antara Indonesia dan Al-Azhar.

Sejumlah bidang menjadi pembahasan, termasuk pengembangan bahasa Arab dan penambahan kuota mahasiswa Indonesia.

Kedua pihak juga membahas peluang pembelajaran jarak jauh (e-learning) serta diplomasi keagamaan.

Menag Nasaruddin mengatakan jumlah ulama di Indonesia masih relatif sedikit dibandingkan jumlah penduduk.

Menurutnya, fasilitas pembelajaran keagamaan Islam juga masih terbatas.

Nasaruddin menegaskan penguasaan bahasa Arab menjadi fondasi penting dalam memahami ilmu-ilmu keislaman. Karena itu, kemampuan tersebut dinilai perlu dimiliki para calon ulama Indonesia.

“Oleh karena itu saya mohon agar ke depan kerja sama semakin diperkuat, termasuk di bidang bahasa Arab. Kami membutuhkan guru-guru yang kuat dalam ilmu-ilmu Islam, sehingga kami ingin mengambil manfaat dan belajar dari Al-Azhar,” ujar Menag.

Nasaruddin mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen. Angka tersebut termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20.

Menurutnya, kondisi pendanaan tidak menjadi kendala dalam memperkuat kerja sama pendidikan. Namun, terdapat tantangan regulasi terkait pendirian cabang Universitas Al-Azhar di luar Mesir.

Mesir tidak mengizinkan pendirian cabang Universitas Al-Azhar di luar negeri. Di sisi lain, Mesir tetap menjadi tujuan utama masyarakat Indonesia untuk menimba ilmu. Hal itu salah satunya didukung faktor stabilitas keamanan di Mesir.

Dorong Pembelajaran Jarak Jauh

Kemenag berharap Al-Azhar dapat memperluas kerja sama melalui skema pendidikan jarak jauh.

Indonesia, kata Nasaruddin, siap menyiapkan infrastruktur dan pembiayaan yang diperlukan. Alternatif lainnya adalah memperbanyak kuota mahasiswa Indonesia di Al-Azhar.

Kemenag juga berharap jumlah utusan pengajar (mab’uts) dapat ditambah.

Prof. Abbas Shouman menyepakati perlunya perluasan kerja sama pendidikan antara Al-Azhar dan Indonesia.

Menurutnya, rasio penduduk Muslim yang besar perlu diimbangi ketersediaan infrastruktur pendidikan yang memadai.

Al-Azhar menawarkan peluang pembelajaran jarak jauh melalui skema hybrid. Dalam skema tersebut, mahasiswa dapat menjalani dua tahun pertama di negara asal.

Pendidikan kemudian dilanjutkan selama dua tahun berikutnya secara langsung di Kairo, Mesir.

Lulusan program tersebut akan memperoleh ijazah resmi yang setara dengan mahasiswa reguler selama empat tahun.

Selain itu, tersedia program pembelajaran bahasa Arab secara daring. Program tersebut diselenggarakan melalui Pusat Bahasa di bawah Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar.

Kuota Mahasiswa Indonesia

Prof. Abbas juga menjelaskan peluang penambahan mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir.

Ia menyebut secara prinsip tidak terdapat pembatasan jumlah mahasiswa Indonesia yang ingin belajar.

“Terkait dengan penambahan jumlah kuota mahasiswa Indonesia di Mesir, secara prinsip, sebenarnya tidak ada pembatasan itu. Jadi, seberapa banyak pun, silakan saja. Hanya mungkin yang dibatasi adalah yang mendapatkan beasiswa full, dalam arti dia mendapatkan asrama, uang saku, dan uang kuliah. Itu yang jumlahnya terbatas. Untuk yang belajar, itu tidak ada pembatasan,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan pendidikan dan keagamaan Indonesia dengan Al-Azhar.

Kerja sama diarahkan untuk memperluas akses pendidikan Islam dan penguatan kapasitas calon ulama Indonesia. (*)