PBNU Serukan Solidaritas Palestina di Hari Santri 2026

PBNU meluncurkan tema Hari Santri 2026, “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, sekaligus menyerukan solidaritas Palestina. (FOTO: Dok Kemenag)

SerambiMuslim.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi meluncurkan logo dan tema Hari Santri 2026.

Peluncuran berlangsung di Gedung Pusat PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Hari Santri 2026 mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Tema tersebut menekankan pentingnya tradisi keilmuan pesantren dalam menjaga persatuan dan kebinekaan.

Selain penguatan tradisi pesantren, PBNU juga membawa pesan solidaritas kemanusiaan untuk rakyat Palestina.

Peluncuran logo dan tema tersebut berlangsung bersamaan dengan pengumuman kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031.

Tradisi Pesantren Jadi Fondasi Persatuan

Ahmad Farikhul Badi mengatakan tema tersebut mengingatkan pentingnya tradisi keilmuan pesantren. Nilai luhur para muassis NU juga disebut menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan bangsa.

“Tema ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa kokohnya tradisi keilmuan pesantren dan nilai-nilai luhur para muassis Nahdlatul Ulama adalah fondasi utama dalam merawat persatuan dan menjaga kebhinekaan,” ujar Ahmad.

PBNU kemudian menginstruksikan seluruh jajaran kepengurusan menggelar Malam Mujahadah Kemanusiaan. Instruksi tersebut ditujukan kepada PWNU, PCNU, MWCNU hingga PRNU di berbagai wilayah.

Kegiatan tersebut ditujukan sebagai bentuk solidaritas bagi rakyat Palestina.

Solidaritas Palestina dan Sejarah NU

PBNU menyebut solidaritas terhadap Palestina memiliki akar sejarah panjang dalam perjalanan organisasi. Sikap tersebut telah disuarakan NU jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam Muktamar ke-13 NU di Menes, Pandeglang, Banten, pada 1938, NU menyuarakan penolakan terhadap zionisme di Palestina.

Saat itu, NU berada di bawah kepemimpinan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari dan Ketua PBNU KH Mahfudz Siddiq.

Sikap tersebut juga disertai penolakan terhadap rencana pembagian wilayah Palestina oleh PBB.

Rais Syuriyah PBNU KH Muhammad Musthofa Aqil Siroj turut menyampaikan tausiyah solidaritas kemanusiaan.

Ia mengingatkan pengurus baru agar tidak sekadar bangga dengan jabatan yang diberikan. Menurutnya, jabatan dalam NU harus disertai kesiapan menjalankan khidmah.

“Antara bangga dan siap itu berbeda. Yang diperlukan adalah kesiapan. Kesiapan apa? Kesiapan berkhidmah. Didirikannya NU adalah untuk berkhidmah, menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, baik secara lokal maupun global,” tutur Kiai Musthofa.

Ia juga meminta pengurus dan warga Nahdliyin tidak melupakan tragedi kemanusiaan yang dialami rakyat Palestina.

“Yang paling mengkhawatirkan adalah genosida, Yahudi, dan Zionis. Oleh karena itu, tidak boleh sekecil apa pun kita lupa pada perjuangan itu. Semuanya, tolong, hal ini disegarkan dan dikobarkan kembali bagaimana kita anti-Yahudi,” tegasnya. (*)