SerambiMuslim.com – Masjid dinilai dapat menjadi pusat ketahanan iklim berbasis komunitas di tengah ancaman perubahan iklim.
Gagasan tersebut didorong Greenpeace Indonesia melalui peluncuran Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, mengatakan, inisiatif Ummah for Earth lahir dari kondisi masyarakat yang terdampak krisis iklim.
Menurut dia, mayoritas korban bencana iklim berada di wilayah selatan bumi yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
“Inisiatif Ummah for Earth dibentuk karena melihat mayoritas korban bencana iklim itu ada di bagian selatan bumi yang mayoritas beragama Islam. Tapi belum banyak inisiatif lingkungan yang berasal dari sesama Muslim,” kata Riska.
Riska menilai masjid memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Muslim. Hal tersebut dinilai menjadi peluang untuk membangun gerakan lingkungan berbasis komunitas melalui masjid.
Menurut Riska, masyarakat kini cenderung semakin individualis dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masjid masih menjadi ruang berkumpul yang kuat bagi umat Islam.
Jemaah secara rutin berkumpul untuk melaksanakan salat berjemaah maupun mendengarkan azan.
“Masjid itu paling gampang ngumpulin orangnya. Minimal azan pasti sudah ngumpul orangnya. Kita ingin menjadikan masjid ini punya whole package, fungsi sosial ada, ekonomi ada, agama ada, dan fungsi lingkungannya juga ada,” ujarnya.
99,26 Persen Bencana Indonesia Hidrometeorologi
Riska juga memaparkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun sebelumnya. Data tersebut mencatat 99,26 persen bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi.
Bencana tersebut mencakup banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan.
Fenomena tersebut dinilai semakin sering dirasakan masyarakat seiring meningkatnya dampak krisis iklim.
Kondisi tersebut mendorong Greenpeace meluncurkan panduan ketahanan iklim berbasis masjid. Panduan tersebut dirancang untuk membantu masjid membangun ketahanan lingkungan bersama komunitas.
Panduan Masjid Hadapi Krisis Iklim
Panduan tersebut mencakup sejumlah aspek penting dalam menghadapi krisis iklim. Salah satunya adalah mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Panduan itu juga membahas pengelolaan sampah dan penerapan gaya hidup minim sampah.
Selain itu, terdapat panduan penghematan energi melalui pemanfaatan energi terbarukan. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan panel surya untuk kebutuhan energi masjid.
Panduan tersebut juga mencakup upaya membangun kemandirian pangan masyarakat. Aspek lainnya adalah kemandirian dalam pengelolaan dan penyediaan air bersih.
Riska menilai berbagai pengetahuan dan sumber daya untuk menjalankan program tersebut sudah tersedia.
Tantangan berikutnya adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengimplementasikannya.
“Ilmunya sudah ada, uangnya sudah ada, tinggal orangnya yang kita latih. Masjid tidak bisa lepas dari orang-orang di dalamnya, baik itu dewan takmir, jemaah, maupun tokoh agama,” pungkas Riska.
Melalui pendekatan tersebut, masjid diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi ibadah.
Masjid juga diharapkan berperan dalam penguatan sosial, ekonomi, dan ketahanan lingkungan masyarakat. (*)







