KATA ‘al-lubb’ berarti akal yang murni-yang bersih dari syahwat dan keraguan, inti atau esensi sesuatu (https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar//) atau hati yang dalam dan bijak, dalam pengertian rohani dan intelektual. Dalam Al-Qur’an kata ini selalu disebutkan dalam bentuk jamaknya (‘albab’), muncul di 10 surat dalam 16 kali kesempatan.
Kitab Gharibul Mufradat Al-Quran yang disunting Alawi Abdul Qadir As-Saqqaf mengartikan ‘Ulul Albab’ sebagai ash-habul uqul az-zaakiyyah (pemilik akal yang suci) dan ash-habul uqul as-saalimah (pemilik akal yang bersih dan selamat). Ulul Albab dengan demikian adalah orang yang mempergunakan akalnya dalam batas-batas kesucian, kebersihan dan keselamatan. Dalam ungkapan yang lebih populer, Ulul Albab bisa diartikan sebagai: orang yang berakal sehat.
Tulisan ini akan membahas serba sekilas makna-makna Ulul Albab dalam Al-Qur’anul Karim. Pembahasan tentang Ulul Albab relevan dengan proses penumbuhan rasionalitas dan nalar kritis pada diri peserta didik, khususnya mereka yang berada di tahapan usia pemuda (al-fata), antara 15-18 tahun atau, jenjang SMA ke atas. Telaah lebih lanjut terhadap ayat-ayat itu juga menunjukkan bahwa profil Ulul Albab itu adalah sosok yang berakhlak mulia. Sehingga, proses pendidikan Ulul Albab tidak hanya bertujuan menghasilkan profil lulusan yang pandai berolah pikir, tetapi juga berolah rasa dan berperilaku luhur.
Pentingnya Pemahaman Agama
Firman Allah,
يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya: “Allah menganugrahkan hikmah kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, ia benar-benar telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran selain Ulul Albab.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 269)
Menurut Syekh Sulaiman Al-Asyqar, al-hikmah berarti ilmu, pemahaman terhadap berbagai hal, pemahaman terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, serta ketepatan dalam berucap.
Orang yang diberi hikmah adalah Ulul Albab. Apakah makna hikmah? Salah satu makna hikmah adalah kepahaman (fiqh) dalam agama.
Ayat di atas sejajar maknanya dengan hadis yang masyhur,
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
Artinya: “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan ia faqihkan/pahamkan orang itu akan agama.” (Hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Jika proses pendidikan ingin menghasilkan profil Ulul Albab, maka pemahaman agama harus didahulukan. Porsi dan kedalaman prosesnya harus cukup signifikan. Sehingga, pendidikan agama di situ bukan sebagai pelengkap atau justru nihil.
Rasionalitas Imaniyah
Firman Allah,
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya: “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kalian. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, padanya terdapat pokok-pokok isi Al-Qur’an (ummul kitab) dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat, untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran darinya melainkan Ulul Albab.” (Q.S. Ali Imran [3]: 7)
Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang maknanya tegas dan jelas, sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang maknanya tidak langsung bisa dipahami, multitafsir, atau justru gelap. Misalnya huruf hijaiyyah yang ada di awal surat-surat Al-Qur`an, ayat yang dinasakh (dihapus keberlakuannya), ayat perumpamaan, sumpah, dan lain-lain –yang berpeluang ditafsirkan secara sesat dan keliru oleh para pengikut hawa nafsu.
Kalau di Al-Baqarah ayat 269 Ulul Albab disebut berbarengan dengan orang yang diberi hikmah, di ayat ini Ulul Albab dikaitkan dengan kelompok orang yang disebut ar-rasikhuna fil ‘ilmi (mereka yang mendalam ilmunya).
Akal yang sehat membimbing orang untuk mengembalikan ayat-ayat yang multitafsir kepada ayat-ayat yang lebih tegas dan jelas, karena itu semua berasal dari Allah. Akan tetapi orang-orang yang akalnya menyeleweng justeru memicu fitnah dan kegaduhan dengan mencari-cari penafsiran yang sesuai dengan hawa nafsunya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.
Mengikuti satu bacaan, bila disambung ayatnya, tidak ada yang mengetahui takwil ayat mutasyabihat itu melainkan Allah dan kemudian ar-rasikhuna fil ‘ilmi. Ayat-ayat yang samar itu, menurut satu pendapat, bisa diketahui pengertian dan disingkap penjelasannya oleh para ulama. Yakni, mereka yang mendalam ilmunya. Ulul Albab mengambil sikap yang selamat sebagaimana ar-rasikhuna fil ilmi tersebut.
Ulul Albab mengikuti ar-rasikhuna fil ilmi yang hatinya bersih dan iktikadnya lempang. Sikap mereka ini muncul berkat kedalaman ilmu dan iman yang kuat.
Rasionalitas Transendental
Allah Ta’ala berfirman,
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran [3]: 190-191)
Mereka banyak mengingat Allah dalam berbagai kondisi dengan cara berzikir dan menyebut nama-Nya. Banyak memikirkan penciptaan makhluk-makhluk Allah, yang terbesar di antaranya ialah langit dan bumi. Hal itu mengingatkan mereka pada kehidupan pasca-kehidupan. Khususnya ancaman siksa neraka. Mereka berlindung dari siksa neraka setelah merenungi kekuasaan Allah Yang Maha Besar.
Rasionalitas Ulul Albab adalah rasionalitas transendental yang melampaui segala yang tampak di dunia ini.
Berlawanan dengan orang-orang ateis dan sekuler yang mematerialkan sebab itu semata-mata pada ad-dahr (proses waktu). Mereka berpandangan mustahil suatu materi yang telah hancur bisa utuh kembali. Karena, mereka meniadakan Allah (lihat misalnya Surat Al-Jatsiyah [45]: 24 dan Yasin [36]: 78).
Sikap Objektif
Firman Allah,
قُلْ لَّا يَسْتَوِى الْخَبِيْثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ اَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيْثِۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik’, meski banyaknya yang buruk itu menakjubkanmu, maka bertakwalah kepada Allah wahai Ulul Albab, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah [5]: 100)
Ayat di atas menekankan pemilahan yang buruk (khabits) dan yang baik (thayyib). Ayat mengingatkan bahwa yang membutakan kategorisasi dan pembedaan baik-buruk itu lantaran yang buruk itu banyak secara jumlah. Posisi keburukan yang mayoritas, membuat ‘yang baik’ menjadi terpencil, aneh dan asing.
Dalam kondisi teralienasi, Ulul Albab harus tetap memelihara rasionalitasnya. Yang baik tetaplah menjadi kebaikan selamanya, meski tertimbun lumpur keburukan.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa: (1) Mayoritas atau banyaknya jumlah bukanlah tolok ukur kebenaran; (2) Perlunya kategorisasi objektif: tidak menyamakan sesuatu yang tidak sama; perlu pemilahan yang tegas antara ‘yang buruk’ dari ‘yang baik’; (3) Takwa merupakan sikap yang mesti ditempuh dalam menilai dan menimbang sesuatu.
Pribadi Reflektif
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ
Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat ibrah (pengajaran) bagi Ulul Albab.” (QS. Yusuf [12]: 111)
Ayat ini merupakan akhir dari Surat Yusuf. Di awal surat disebutkan bahwa kisah Yusuf merupakan kisah terbaik (ahsanal qashash) sedangkan di akhir surat dikatakan bahwa kisah-kisah perjuangan para nabi dan rasul mengandung ibrah yakni pelajaran dan pengajaran bagi orang yang berakal sehat (Ulul Abab).
Ulul Albab dengan demikian adalah mereka yang mengambil pelajaran dari sejarah dan kisah-kisah terbaik dalam Al-Qur`an. Ulul Albab adalah sosok pribadi reflektif yang mendayagunakan kecerdasannya untuk menggali hikmah dari cerita-cerita masa lalu yang sahih.
Beberapa Akhlak Utama Ulul Albab
اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَۙ وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ ۗ وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
Artinya: “Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dari Tuhanmu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang yang berakal sehat yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Mereka memenuhi janji kepada Allah dan janji kepada sesama manusia. Orang-orang yang menyambung apa-apa yang Allah perintahkan agar disambung, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 19-22)
Di ayat ini dijelaskan beberapa akhlak utama Ulul Albab. Kebagusan hati dan pikiran mereka terpantul pula pada akhlak yang baik kepada Allah dan kepada sesama manusia. Orang yang berakal sehat menjaga integritas dirinya saat berjanji, apalagi berjanji dengan dan atas nama Allah. Suka membina relasi sebagaimana dititahkan agama, menyambung silaturahmi -bukan permusuhan atas dasar kezaliman. Takut kepada Allah yang Maha Besar dan Maha Gaib, takut pada hisab yang buruk. Ulul Albab mengembangkan sifat kesabaran atas dasar mencari keridhaan Allah, menegakkan salat, berinfak, secara sembunyi dan terang-terangan, dan membalas kejahatan dengan kebaikan.
Tabel 1. Akhlak Ulul Albab Menurut Surat Ar-Ra’d Ayat 19-22
| Akhlak kepada Allah | Akhlak kepada Manusia |
|---|---|
| Memenuhi janji | Memenuhi janji |
| Takut kepada Allah | Menyambung relasi (karena Allah) |
| Takut hisab yang buruk | Sabar (karena Allah) |
| Menegakkan salat | Menginfakkan rezeki |
| Mengganti amal buruk dengan amal saleh | Membalas keburukan dengan kebaikan |
Pentingnya Tadabbur Al-Qur`an
Allah Ta’ala berfirman,
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berakal sehat (Ulul Albab).” (QS. Shad [38]: 29)
Ayat jelas menyebut bahwa tujuan diturunkannya Al-Qur`an adalah untuk ditadabburi (diperhatikan dan direnungkan), dengan demikian dapatlah mengambil pelajaran orang-orang yang berakal sehat (Ulul Albab).
Implikasi
Beberapa implikasi bagi proses pendidikan sebagai kesimpulan dari pembahasan di atas antara lain: pertama, untuk menghasilkan profil Ulul Albab, pengajaran dan pendidikan ilmu agama adalah yang utama dan harus dipentingkan. Materi-materi pembelajaran esensial seperti akidah, adab-akhlak, fikih ibadah dan fikih muamalah yang wajib, harus menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran. Lembaga pendidikan mana pun yang kosong atau menyampingkan pendidikan agama tidak akan menghasilkan profil Ulul Albab. Sebaliknya, malah menghasilkan lulusan yang berpemikiran menyimpang dan berpaham materialistik-sekuler.
Kedua, latihan berpikir mendalam bagi peserta didik berarti berpikir dengan hati. Yaitu berpikir dengan akal yang tajam disertai iman yang kuat. Bukan rasionalitas yang lepas dari landasan tauhid dan keimanan. Karena itu jenis rasionalitas yang diajarkan di lembaga pendidikan Islam adalah rasionalitas yang melibatkan pikir dan zikir; yang berdimensi dunia dan akhirat. Sebut saja ia sebagai rasionalitas imaniyah atau rasionalitas transendental.
Ketiga, objektivitas yang diajarkan di lembaga pendidikan adalah objektivitas berdasarkan syariat, bukan selain syariat (ideologi, filsafat, dan sejenisnya). Karena kategori thayyib dan khabits atau al-haq dan al-bathil itu tolok ukurnya kembali pada ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Berpihak pada kebenaran terkadang, atau seringkali bahkan, membuat orangnya terasing. Maka objektivitas ini seyogyanya diajarkan dan ditumbuhkan bersama keberanian untuk melawan arus, jika memang arus itu terbukti keliru.
Keempat, keakraban dengan Al-Qur`an lewat tadabbur merupakan bagian terpenting dari proses pembelajaran. Peserta didik tidak semata-mata diajari untuk membaguskan bacaan atau menghafalnya saja. Pendidikan Al-Qur`an harus diterapkan sebagai pendidikan afeksi, bukan keterampilan an sich.
Kelima, pendidikan Ulul Albab bermakna pula pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia. Takut kepada Allah, memelihara integritas saat berjanji, menjaga kejujuran (kompetensi terpenting di era budaya korupsi), membina relasi yang harmonis, mampu bersabar, senang berinfak (derma), hilm (mampu mengendalikan emosi), memaafkan dan bahkan membalas keburukan dengan kebaikan.
Rekayasa pendidikan harus betul-betul dipikirkan dan dirancang untuk menghasilkan profil berakhlak mulia ini. Tidak mudah memang. Koreksi dan evaluasi mendalam terhadap proses yang dijalankan senantiasa diperlukan, jika kita ingin peserta didik kita menjadi sosok penggerak dan pemimpin umat di masa mendatang.
Wallahu a’lam bisshawab.
Penulis: Deny Firmansyah – Praktisi Pendidikan





