Berita  

Kisah Mengerikan Orang Berpuasa tapi Ghibah

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menjaga lisan dari ghibah dan dusta. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku dari perbuatan dosa. Pesan itu terekam dalam kisah yang dinukil dalam kitab Ihya Ulumuddin karya ulama besar Al-Ghazali.

Dalam kitab tersebut dikisahkan, pada masa Nabi Muhammad SAW, terdapat dua perempuan yang tengah berpuasa namun merasa sangat lapar dan hampir pingsan menjelang waktu berbuka. Salah seorang di antara mereka kemudian meminta izin kepada Rasulullah untuk berbuka.

Alih-alih langsung mengizinkan, Rasulullah justru memberikan sebuah wadah dan meminta keduanya memuntahkan apa yang telah mereka makan. Menurut riwayat itu, dari mulut keduanya keluar darah dan daging mentah hingga memenuhi wadah tersebut.

Peristiwa itu membuat para sahabat terkejut. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa kedua perempuan tersebut memang menahan diri dari makanan dan minuman yang halal, tetapi tidak menahan diri dari perbuatan yang diharamkan, yakni menggunjing dan mengumpat orang lain.

“Mereka berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah, tetapi tidak berpuasa dari apa yang diharamkan-Nya,” demikian penjelasan Rasulullah sebagaimana dikutip dalam riwayat tersebut.

Kisah itu menjadi pengingat bahwa ghibah dan dusta dapat merusak nilai puasa, meskipun secara lahiriah seseorang tidak makan dan minum.

Menjaga Lisan dan Perilaku

Al-Ghazali, yang memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali menegaskan, kesempurnaan puasa tidak hanya terletak pada menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, fitnah, hinaan, hingga ucapan yang mengandung kebencian. Dalam pandangannya, diam lebih utama daripada berbicara yang berpotensi menyeret pada dosa.

Umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak membaca Alquran dan berdzikir agar puasa tidak sekadar menjadi rutinitas fisik, melainkan ibadah yang menyucikan jiwa.

Sejumlah ulama salaf turut menegaskan hal serupa. Sufyan al-Tsauri menyebut ghibah sebagai perusak nilai puasa. Mujahid pun menekankan bahwa dua hal yang dapat merusak puasa adalah mengumpat dan berdusta.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa puasa adalah benteng yang kokoh. Benteng tersebut dimaknai sebagai pelindung dari perbuatan dosa. Karena itu, ketika seseorang yang berpuasa mendapat perlakuan kasar atau diajak bertengkar, ia dianjurkan mengatakan, “Aku sedang berpuasa.”

Pesan moral ini menegaskan bahwa esensi puasa terletak pada pengendalian diri secara menyeluruh—bukan hanya dari yang membatalkan secara fisik, tetapi juga dari sikap dan ucapan yang mengurangi pahala ibadah tersebut. ***