SerambiMuslim.com – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menghadirkan peningkatan layanan akomodasi bagi jemaah haji reguler Indonesia pada musim haji 1447 H/2026 M. Sebanyak hampir 17 ribu jemaah akan menempati hotel setara bintang lima di Madinah, fasilitas yang selama ini lebih identik dengan program haji khusus.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff mengatakan peningkatan kualitas penginapan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan pelayanan bagi jemaah haji Indonesia.
“Tahun ini yang berbeda dibandingkan dengan sebelumnya, hampir sekitar 17 ribu jemaah haji reguler Indonesia akan menempati hotel setaraf bintang 5 di Madinah yang biasa identik dengan program haji khusus,” kata Maria yang dikutip dari kanal YouTube Kemenhaj, Senin, 8 Juni 2026.
Menurut Maria, nilai utama dari penyediaan hotel tersebut bukan semata kemewahan fasilitas, melainkan kedekatan lokasi dengan Masjid Nabawi yang memudahkan jemaah menjalankan ibadah.
“Nilai utama yang kami hadirkan adalah kemudahan akses bagi jemaah untuk dapat beribadah di Masjid Nabawi. Hotel-hotel tersebut berada pada lokasi yang sangat dekat, bahkan sampai 50 meter saja dari Masjid Nabawi,” ujarnya.
Lokasi hotel yang berada di sekitar kawasan Masjid Nabawi dinilai dapat memangkas waktu tempuh jemaah sekaligus mengurangi kelelahan fisik selama berada di Madinah. Kemudahan akses ini diharapkan mendukung kenyamanan dan kekhusyukan ibadah para jemaah.
Maria menambahkan, penyediaan hotel dengan akses terdekat ke Masjid Nabawi juga menjadi bagian dari implementasi program Haji Ramah Lansia yang terus dikembangkan pemerintah.
“Ini juga bagian dari program haji kami ramah lansia, disabilitas, dan perempuan. Hotel dengan akses terdekat ke Masjid Nabawi ini diprioritaskan bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan tentunya jemaah berkebutuhan khusus,” tegasnya.
Pemerintah berharap fasilitas tersebut dapat membantu jemaah menjalankan rangkaian ibadah dengan lebih nyaman.
“Dengan mobilitas yang lebih mudah dan juga tentunya dengan lingkungan yang lebih nyaman, kami berharap jemaah dapat lebih fokus beribadah dan menikmati pengalaman spiritual yang lebih khusyuk selama berada di Kota Madinah,” tambah Maria.
Jemaah Gelombang Kedua Mulai Bergerak ke Madinah
Peningkatan layanan akomodasi tersebut disiapkan bersamaan dengan dimulainya pergerakan jemaah haji gelombang kedua dari Makkah menuju Madinah.
Tahap ini menjadi bagian akhir dari pelayanan jemaah di Arab Saudi sebelum mereka dipulangkan ke Indonesia melalui Bandara Amir bin Abdul Aziz, Madinah.
Memasuki hari operasional ke-48, Kemenhaj menyatakan penyelenggaraan ibadah haji berjalan aman, tertib, dan terkendali. Persiapan perpindahan jemaah dari Makkah ke Madinah juga telah dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan armada transportasi hingga pengelolaan barang bawaan.
“Operasional pergerakan jemaah dari Makkah menuju Madinah melibatkan ribuan jemaah, bus antarkota, pengaturan barang bawaan serta koordinasi lintas sektor pelayanan. Seluruh proses ini telah dipersiapkan secara matang agar berlangsung tertib, aman, nyaman, dan tepat waktu,” jelas Maria.
Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah untuk mematuhi arahan petugas, menjaga dokumen perjalanan, serta membawa barang bawaan secukupnya guna memperlancar proses perpindahan.
Selain itu, petugas haji diminta memberikan perhatian khusus kepada jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi selama perjalanan.
Maria menegaskan bahwa kenyamanan dan keselamatan jemaah menjadi indikator utama keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
“Kementerian Haji dan Umrah meyakini bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji diukur dari tingkat kepuasan dan kenyamanan jemaah. Karena itu, setiap inovasi layanan yang kami hadirkan selalu berorientasi pada kenyamanan dan keselamatan jemaah dalam menunaikan rukun Islam kelima dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (*)






