Fikih  

Wajibkah Makmum Membaca Surat Setelah Al-Fatihah?

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Membaca surat atau beberapa ayat Alquran setelah Al-Fatihah merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan dalam salat. Namun, ketika salat dilakukan secara berjamaah, muncul pertanyaan yang kerap menjadi perbincangan di kalangan umat Islam: apakah makmum juga disunnahkan membaca surat setelah Al-Fatihah?

Jawabannya bergantung pada pendapat mazhab fikih yang diikuti. Empat mazhab memiliki pandangan yang berbeda mengenai hukum bacaan makmum ketika salat berjamaah, terutama saat imam mengeraskan bacaan (salat jahr).

Dasar Sunnah Membaca Surat Setelah Al-Fatihah

Anjuran membaca surat setelah Al-Fatihah didasarkan pada sejumlah hadis Rasulullah SAW. Dalam buku “Seri Fikih Kehidupan” karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW membaca surat setelah Al-Fatihah pada rakaat-rakaat tertentu dalam salat.

Dari Qatadah RA, ia berkata:

“Rasulullah SAW membaca pada salat Zuhur di dua rakaat pertama Al-Fatihah dan dua surat. Beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan memendekkannya pada rakaat kedua. Terkadang beliau memperdengarkan ayat kepada para sahabat. Beliau juga membaca pada salat Asar di dua rakaat pertama Al-Fatihah dan dua surat, memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan memendekkannya pada rakaat kedua. Beliau juga memanjangkan bacaan pada rakaat pertama salat Subuh dan memendekkannya pada rakaat kedua.” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi)

Hadis lain dari Abu Bazrah RA juga menjelaskan panjang bacaan Rasulullah SAW saat salat Subuh.

“Rasulullah SAW membaca pada salat Subuh sekitar enam puluh hingga seratus ayat.” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi)

Rakaat yang Dianjurkan Membaca Surat Setelah Al-Fatihah

Mengacu pada buku “Fikih Empat Madzhab Jilid 1” karya Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, membaca surat setelah Al-Fatihah dilakukan pada rakaat pertama dan kedua dalam setiap salat, baik salat fardu maupun salat sunnah.

Keempat mazhab sepakat mengenai rakaat yang dianjurkan untuk membaca surat setelah Al-Fatihah. Perbedaannya terletak pada status hukumnya.

Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali menilai amalan tersebut berstatus sunnah. Sementara itu, mazhab Hanafi berpendapat membaca surat setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama salat fardu hukumnya wajib.

Apakah Makmum Membaca Surat Setelah Al-Fatihah?

Pandangan mengenai bacaan makmum berbeda-beda sesuai mazhab.

Mazhab Syafi’i dan Hambali berpendapat membaca surat setelah Al-Fatihah disunnahkan bagi imam, orang yang salat sendirian, serta makmum yang tidak mendengar bacaan imam. Dengan demikian, apabila makmum tidak mendengar bacaan imam, ia dianjurkan membaca surat setelah menyelesaikan bacaan Al-Fatihah.

Sebaliknya, jika bacaan imam terdengar jelas, makmum tidak dianjurkan membaca surat dan cukup mendengarkan bacaan imam.

Mazhab Hanafi memiliki pendapat yang lebih tegas. Dalam pandangan mazhab ini, makmum tidak diperbolehkan membaca surat apa pun ketika salat di belakang imam karena bacaan imam telah dianggap mewakili bacaan makmum. Oleh sebab itu, makmum cukup mengikuti gerakan dan mendengarkan bacaan imam.

Sementara itu, mazhab Maliki memandang membaca surat bagi makmum pada salat yang bacaannya dikeraskan (salat jahr) hukumnya makruh. Ketentuan tersebut tetap berlaku meskipun makmum tidak mendengar bacaan imam atau ketika imam sedang diam.

Karena itu, mazhab Maliki lebih mengutamakan agar makmum tidak membaca surat setelah Al-Fatihah pada salat jahr.

Berapa Banyak Ayat yang Dibaca Setelah Al-Fatihah?

Para ulama juga berbeda pendapat mengenai jumlah minimal bacaan setelah Al-Fatihah.

Mazhab Syafi’i dan Maliki

Menurut mazhab Syafi’i dan Maliki, sunnah membaca surat setelah Al-Fatihah telah terpenuhi apabila seseorang membaca:

  • satu surat pendek;
  • satu ayat; atau
  • bahkan sepenggal ayat.

Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi berpendapat kewajiban membaca surat setelah Al-Fatihah baru terpenuhi apabila membaca:

  • satu surat pendek;
  • tiga ayat pendek; atau
  • satu ayat yang cukup panjang.

Mazhab Hambali

Mazhab Hambali berpendapat bacaan minimal adalah satu ayat yang berdiri sendiri, yakni ayat yang tidak bergantung pada ayat sebelum maupun sesudahnya.

Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut, umat Islam dapat mengikuti pendapat mazhab yang diyakini atau menjadi pedoman dalam beribadah.

Seluruh pendapat tersebut merupakan hasil ijtihad para ulama yang bersumber dari dalil-dalil syariat. (*)