Hasil Lobi Prabowo, Kampung Haji Indonesia Hadir di Makkah

Profesor studi Islam Prof Shahul Hameed menjelaskan makna ibadah haji sebagai perjalanan spiritual penuh nilai persatuan, kesetaraan, dan penghambaan kepada Allah SWT. (Foto: AFP/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Diplomasi internasional Presiden Prabowo Subianto membuahkan hasil dengan diperolehnya aset hotel di Makkah, Arab Saudi.

Aset tersebut akan digunakan sebagai lokasi Kampung Haji Indonesia bagi jamaah haji dan umrah.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pencapaian ini hasil diplomasi luar biasa Presiden Prabowo dengan pemerintah Arab Saudi.

“Untuk pertama kalinya, Arab Saudi mengubah aturan sehingga negara lain dapat memiliki aset di sana,” ujar Prasetyo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).

Katanya, Indonesia memenangkan lelang pembelian hotel dan tanah serta memperoleh hak memilih lokasi strategis.

Hotel yang dibeli adalah Novotel Thakher Makkah dengan kapasitas 1.461 kamar dan tiga menara. Hotel tersebut mampu menampung hingga 4.383 calon jamaah haji Indonesia.

Pemerintah juga merencanakan pembangunan tambahan 13 menara di kawasan Kampung Haji Indonesia. Dengan penambahan itu, total kamar diproyeksikan mencapai 6.025 kamar.

“Kampung Haji ini mulai digunakan tahun ini untuk menampung sekitar 24.000 hingga 25.000 jamaah,” jelas Prasetyo.

Lokasi hotel hanya berjarak sekitar 500 meter dari Masjidil Haram. Jarak tersebut jauh lebih dekat dibandingkan pemondokan jamaah Indonesia sebelumnya.

Sebelumnya, jamaah haji Indonesia menempati pemondokan berjarak 4,5 hingga 6 kilometer dari Masjidil Haram.

Kampung Haji Indonesia akan dilengkapi fasilitas mal, klinik kesehatan, dan food court. Fasilitas tersebut disiapkan untuk melayani sekitar 1,8 juta jamaah umrah setiap tahun.

Adapun nilai pembelian hotel dan tanah mencapai sekitar USD500 juta. Pembangunan lanjutan Kampung Haji diperkirakan membutuhkan investasi tambahan USD700 hingga USD800 juta.

Dapat Tekan Biaya Haji

Pemerintah berharap keberadaan Kampung Haji Indonesia mampu menekan biaya haji secara signifikan. Target tersebut dicapai melalui berbagai skenario pengelolaan dan efisiensi layanan jamaah.

“Kami menargetkan biaya haji bisa semurah mungkin untuk meringankan beban jamaah,” kata Prasetyo Hadi.

Menurut Prasetyo, pengurangan biaya menjadi tujuan utama pembangunan Kampung Haji Indonesia. Salah satu strateginya adalah membangun dan mengelola Kampung Haji secara mandiri oleh pemerintah Indonesia.

“Kita bangun sendiri Kampung Haji agar biaya bisa lebih terkendali,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga bernegosiasi untuk menambah jumlah penerbangan haji.

Langkah tersebut ditujukan untuk mempersingkat waktu tunggu dan masa tinggal jamaah di Arab Saudi.

“Saat ini kami sedang negosiasi penambahan flight supaya waktu tunggu tidak terlalu panjang,” jelas Prasetyo.

Lanjut Prasetyo, sekarang ini rata-rata masa tinggal jamaah haji Indonesia mencapai sekitar 41 hari. Pemerintah menargetkan durasi tersebut dipangkas mendekati masa tinggal jamaah haji Malaysia, sekitar 31 hari.

Prasetyo menilai pengurangan masa tinggal akan berdampak besar terhadap efisiensi biaya haji.

“Jika masa tinggal lebih singkat, biaya yang ditanggung jamaah juga bisa ditekan,” ujarnya. (*)