Isra Miraj Harus Bangun Kesalehan dan Keteladanan Bangsa

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir (Foto: Istimewa)

SerambiMuslim.com – Peringatan Isra Miraj perlu disertai kesadaran kontekstual agar tidak berhenti sebagai perayaan seremonial semata. Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir.

Menurut Haedar, nilai Isra Miraj harus diaktualisasi dalam spiritualitas pribadi dan kehidupan kebangsaan.

Dengan aktualisasi tersebut, umat Islam dapat meneguhkan kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial.

Isra Miraj, kata Haedar, merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang Muslim. Ia menilai Isra Miraj sebagai mukjizat yang berada di luar nalar manusia pada umumnya.

Haedar menyebut peringatan Isra Miraj menjadi momentum membangun relasi ketuhanan warga dan pemimpin bangsa.

Relasi tersebut dinilai mampu memperkuat iman, tauhid, dan takwa secara berkelanjutan.

Penguatan iman itu, lanjut Haedar, akan membangkitkan jiwa saleh dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Kesalehan berfungsi sebagai penghalang perilaku buruk, termasuk korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu, kesalehan mencegah kebiasaan berkata kasar serta berbagai bentuk kemaksiatan.

“Relasi dengan Allah harus melahirkan kesadaran murakabah,” ujar Haedar, Jumat (16/1/2026).

Murakabah dimaknai sebagai kesadaran spiritual bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah.

Jika kesadaran itu hidup, Haedar menegaskan, dorongan berperilaku menyimpang dapat diantisipasi.

Cermin Keteladanan Autentik

Haedar berharap Isra Miraj menjadi titik balik meneladani Nabi Muhammad SAW secara nyata.

Ia menilai bangsa Indonesia saat ini mengalami krisis keteladanan publik. “Mari jadikan Isra Miraj sarana belajar menampilkan keteladanan yang autentik,” kata Haedar.

Ia mengimbau pemimpin bangsa bersikap hati-hati dalam bertutur dan bertindak. Keteladanan pemimpin, menurutnya, akan menumbuhkan rasa hormat dan kepercayaan masyarakat. Sementara itu, elite agama diminta menyelaraskan ajaran dengan praktik kehidupan.

Haedar menilai kegersangan teladan harus disejukkan melalui keteladanan nyata. Ia menegaskan setiap elite berkewajiban menjadi oase moral bagi masyarakat.

“Keteladanan autentik bersumber dari Nabi Muhammad SAW sebagai barometer utama,” ujar Haedar. ***