SerambiMuslim.com – Banyak orang salah kaprah mengira kekayaan dunia merupakan tanda kasih sayang Allah SWT. Padahal, Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah memberikan kekayaan kepada hamba yang dicintai-Nya maupun yang dibenci-Nya, sedangkan iman hanya dianugerahkan kepada hamba yang benar-benar dicintai-Nya.
Sayyidina Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian ada dua, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Hawa nafsu menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan menumbuhkan kecintaan kepada dunia.”
Rasulullah SAW juga menekankan,
“Allah SWT memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya maupun yang dibenci-Nya. Namun apabila Dia mencintai seorang hamba, Dia menganugerahi iman.”
Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, dan dikutip ulama Zainuddin al-Thusi, tanda cinta Allah bukanlah kekayaan atau kelapangan hidup, melainkan iman yang tertanam dalam hati. Dunia bisa diberikan kepada siapa saja, tapi hanya hamba yang dicintai Allah yang dianugerahi iman sebagai petunjuk hidupnya.
Pesan ini juga ditegaskan melalui hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Abi ad-Dunya:
“Dunia telah pergi dengan membelakangi, sementara akhirat datang mendekat. Ingatlah hari beramal tanpa perhitungan, ketika tak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki diri.”
Dengan demikian, kekayaan bukan ukuran cinta Allah. Yang menjadi bukti kasih-Nya adalah iman yang kokoh, membimbing seorang hamba menjalani hidup di dunia sekaligus menyiapkan akhirat. ***






