Hikmah  

Biografi Imam Bukhari, Ulama Besar Ahli Hadis

Mengenal Imam Bukhari, ulama besar ahli hadis, perjalanan hidup, karya Sahih al-Bukhari, dan warisan keilmuannya. (Foto: Wikipedia)

SerambiMuslim.com – Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, namun kaum Muslimin lebih mengenalnya sebagai Imam Bukhari. Ulama besar abad ke-9 ini dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu hadis.

Ia lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H, sebuah wilayah yang kini termasuk dalam negara Uzbekistan. Kawasan tersebut sejak dahulu dikenal sebagai pusat lahirnya para ilmuwan Muslim terkemuka.

Imam Bukhari tumbuh dalam lingkungan keluarga religius. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, merupakan seorang ulama yang dihormati. Sejak kecil, ia telah dibiasakan dengan pendidikan agama serta nilai-nilai keteladanan.

Kecerdasannya telah terlihat sejak usia dini. Ia memiliki daya ingat yang sangat kuat, bahkan melampaui anak-anak seusianya.

Pada usia sekitar 10 tahun, ia mulai belajar hadis kepada Ad-Dakhili, seorang ulama hadis terkemuka. Kesungguhannya dalam menuntut ilmu terlihat dari kedisiplinannya yang tidak pernah absen dalam belajar.

Dalam sebuah kisah, ia pernah ditanya tentang awal mula perjalanannya. Ia menjawab bahwa keinginannya menghafal hadis muncul sejak masih belajar di kuttab, sekitar usia sepuluh tahun atau bahkan lebih muda.

Ketika menginjak usia 16 tahun, ia telah menguasai berbagai kitab hadis karya ulama besar seperti Waki’ al-Jarrah dan Abdullah bin Mubarak.

Semangat belajarnya tidak terbatas pada satu guru saja. Ia menimba ilmu dari siapa pun yang memiliki keahlian dalam bidang hadis.

Disebutkan bahwa ia memiliki lebih dari seribu guru. Dari perjalanan ilmiahnya tersebut, ia menyusun karya monumental, Sahih al-Bukhari, yang dihimpun dari pertemuannya dengan lebih dari 1.080 ahli hadis. Kitab tersebut diseleksi dari sekitar 600 ribu hadis.

Sepanjang hidupnya, Imam Bukhari mendedikasikan waktu untuk beribadah, belajar, dan mengajar. Ia tidak hanya dikenal karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena akhlaknya yang mulia dan menjadi teladan bagi banyak orang.

Kesungguhan dalam mengamalkan ilmu juga menjadi ciri khasnya. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa setiap kali menuliskan hadis dalam kitab Shahih-nya, ia selalu berwudhu dan melaksanakan shalat dua rakaat terlebih dahulu.

Menjelang akhir hayatnya, ia sempat tinggal di desa Khartank, dekat Samarkand, karena memiliki kerabat di sana. Pada suatu malam, ia berdoa agar Allah mencabut nyawanya karena merasa kehidupan dunia telah terasa sempit baginya.

Tidak lama setelah itu, ia wafat pada malam Idulfitri tahun 256 H, dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Ia dimakamkan di desa tersebut, dan kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam. Ribuan orang mengiringi prosesi pemakamannya.

Warisan keilmuan Imam Bukhari tetap hidup hingga kini. Selain Sahih al-Bukhari, ia juga menulis berbagai karya lain seperti Tarikh as-Saghir, Al-Kuna, dan Al-‘Illal, yang semuanya berfokus pada kajian hadis.

Bagi Imam Bukhari, seluruh usaha dan ilmunya semata-mata ditujukan untuk meraih ridha Allah SWT.

Ia pernah berkata bahwa penyusunan kitab Shahih tersebut memakan waktu 16 tahun dan menjadi hujah antara dirinya dengan Allah. ***