SerambiMuslim.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak penggunaan APBN dan APBD untuk perayaan malam pergantian tahun baru.
Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menilai penggunaan anggaran negara untuk pesta dinilai tidak pantas. Ia mengajak umat Islam berdoa bersama sebagai empati korban bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Menurutnya, perayaan tahun baru sering diwarnai pesta dan kembang api berlebihan.
“Kalau tujuannya berhemat, tidak usah merayakan secara berlebihan,” kata Anwar, Minggu (29/12/2025).
Anwar menegaskan bangsa Indonesia saat ini sedang berduka akibat berbagai musibah alam. Ia mengingatkan umat Islam menghindari hura-hura dan perbuatan maksiat saat malam tahun baru.
“Lebih baik berdoa daripada menghambur-hamburkan uang,” ujarnya.
“Doa bersama memohon keselamatan bangsa dan negara kepada Allah SWT,” tambahnya.
Orientasi Pengurus MUI 2025-2030
Sementara itu, kegiatan Orientasi Pengurus MUI 2025–2030 dirangkai dengan peluncuran buku “50 Tahun Perkhidmatan MUI.”
Buku tersebut diserahkan secara simbolis kepada Dewan Pimpinan MUI.
Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan menyerahkan buku kepada KH Marsudi Syuhud dan Buya Anwar Abbas.
Kegiatan diikuti 1.267 pengurus MUI secara hybrid di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, rabu (24/12/2025).
Buya Amirsyah mengatakan orientasi bertujuan menyamakan persepsi dan langkah pengurus MUI. “Orientasi ini untuk taswiyatul manhaj dan tansiqul harokah,” ujar Buya Amirsyah.
Ia menekankan pentingnya kekompakan dalam menjalankan visi dan misi MUI.
Orientasi memuat 14 sesi materi strategis keorganisasian. Materi mencakup wawasan MUI, kode etik, pedoman dasar, dan sembilan pokok perkhidmatan.
Sembilan orientasi perkhidmatan mencerminkan peran MUI dalam pembinaan dan perdamaian umat.
Sekretaris Steering Committee (SC) Orientasi H Rofiqul Umam Ahmad menyebut MUI memiliki 28 Komisi, Badan, dan Lembaga (KBL).
KBL menjalankan program kerja sesuai tugas dan fungsi MUI. “Jumlah anggota KBL disesuaikan kebutuhan masing-masing,” kata Rofiq.
Ia menyatakan struktur MUI menyesuaikan agenda dan tantangan umat Islam. Pengurus MUI berasal dari ormas Islam, akademisi, pesantren, profesional, dan unsur pemerintah.
MUI disebut sebagai rumah besar umat Islam Indonesia. Setiap pengurus wajib menandatangani Pakta Integritas dan Pengkhidmatan. Pakta tersebut memuat komitmen kinerja dan evaluasi berkala setiap enam bulan.
Ketua Organizing Committee (OC) Orientasi Buya Pasni Rusli menyebut 457 peserta hadir langsung. Dan, sebanyak 810 pengurus lainnya mengikuti kegiatan secara daring (online).






