SerambiMuslim.com – Pemerintah Suriah mengumumkan rencana peluncuran mata uang baru pada 1 Januari 2026.
Langkah ini menggantikan mata uang lama yang diterbitkan era pemerintahan Assad.
Gubernur Bank Sentral Suriah, Abdul Qadir al-Hassaria, menyebut perubahan ini bagian dari restrukturisasi ekonomi nasional.
“Dengan bangga, saya ucapkan selamat atas keputusan kelahiran mata uang baru,” kata al-Hassaria dikutip dari Aljazeera, Senin (29/12/2025).
Dia menambahkan, mata uang baru menandai dimulainya fase ekonomi dan moneter yang berbeda.
Alasan Mengganti Mata Uang
Sebuah negara biasanya mengganti mata uang untuk mengatasi inflasi berlebihan dan hilangnya nilai beli masyarakat.
Mata uang baru juga digunakan sebagai simbol pemulihan ekonomi pasca konflik atau krisis besar.
Selain itu, penggantian mata uang bisa terkait integrasi ekonomi atau bergabung dengan serikat moneter.
Runtuhnya sistem keuangan atau penyebaran luas mata uang asing juga mendorong reformasi moneter.
Negara kerap meluncurkan mata uang baru untuk meningkatkan keamanan dan mencegah pemalsuan.
Peluncuran mata uang berbeda dengan sekadar mencetak uang baru karena melibatkan perubahan radikal desain dan unit dasar.
Dana Moneter Internasional menyebut, proses pengenalan mata uang baru melewati empat tahap utama.
Tahap pertama adalah ketersediaan prasyarat berupa kebijakan makroekonomi sehat dan kerangka hukum yang kuat.
Tahap kedua mencakup perencanaan dan penyusunan anggaran rinci untuk seluruh proses reformasi moneter. Dan, Tahap ketiga adalah produksi mata uang baru, termasuk desain dan pencetakan sesuai standar keamanan tinggi.
Tahap terakhir melibatkan distribusi dan peredaran uang baru secara resmi ke masyarakat.







