SerambiMuslim.com – Universitas Nasional (UNAS) bersama UCSI University, Malaysia, menggelar konferensi internasional tentang masa depan peradaban Islam.
Konferensi tersebut membahas keberlanjutan dan pembangunan bangsa di tengah perubahan dunia menuju era multipolar.
Kegiatan bertajuk “The 1st International Multidisciplinary Conference” digelar pada 13-14 Agustus 2026. Konferensi dilakukan secara hybrid di Aula Universitas Nasional, Jakarta.
Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara.
Chairman of the Conference, Dr Iskandarsyah Siregar, mengatakan forum tersebut tidak sekadar menjadi ruang akademik. Menurutnya, konferensi harus mampu mengubah pengetahuan menjadi kekuatan transformasi sosial dan peradaban.
Perubahan struktur global, kata Iskandarsyah, menuntut perguruan tinggi melampaui tradisi akademik konvensional. Perguruan tinggi tidak cukup hanya berorientasi pada publikasi, laporan, dan pemenuhan administrasi kelembagaan. Ilmu pengetahuan harus mampu hadir sebagai solusi bagi persoalan manusia, masyarakat, lingkungan, dan peradaban.
“Sebuah aktivitas akademik tidak boleh berhenti hanya pada catatan-catatan administratif atau laporan akademik semata. Semua itu harus menjadi manfaat nyata bagi seluruh alam,” ujar Iskandarsyah dalam keterangan, Sabtu, 25 Agustus 2026.
Menurut Iskandarsyah, keberhasilan forum ilmiah tidak hanya diukur dari jumlah makalah dan publikasi. Keberhasilan juga ditentukan kemampuan pengetahuan menerjemahkan gagasan menjadi kolaborasi, kebijakan, inovasi, dan tindakan.
Libatkan Tujuh Negara
Konferensi perdana tersebut mendapat antusiasme dari peserta internasional. Sebanyak 42 presenter mengikuti konferensi secara daring. 14 presenter dari tujuh negara hadir secara langsung di Universitas Nasional.
Ketujuh negara tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Australia, Iran, Brunei Darussalam, China, dan Rusia.
Selain presenter, konferensi juga diikuti 102 peserta non-presenter. Keragaman peserta menciptakan ruang akademik multidisipliner dengan latar belakang keilmuan dan budaya berbeda.
Iskandarsyah menilai keragaman tersebut memiliki arti strategis dalam menghadapi persoalan dunia.
Berbagai persoalan modern tidak lagi dapat diselesaikan melalui satu bidang ilmu secara terpisah. Persoalan tersebut mencakup krisis ekologis, transformasi teknologi, geopolitik, ekonomi, pendidikan, dan relasi antarbangsa.
Karena itu, pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner perlu menjadi karakter akademik masa depan. Konferensi juga dirancang sebagai ruang untuk membangun kolaborasi jangka panjang.
Iskandarsyah berharap forum tersebut menghasilkan riset bersama dan publikasi internasional.
Kerja sama juga diarahkan pada pertukaran akademik, inovasi, pengabdian masyarakat, dan jejaring lintas negara.
Peradaban Islam di Era Multipolar
Tema konferensi dinilai relevan dengan perubahan struktur global menuju era multipolar.
Masa depan peradaban Islam tidak dapat dilepaskan dari berbagai persoalan global. Isu tersebut mencakup keberlanjutan, ketahanan bangsa, pendidikan, kepemimpinan, teknologi, diplomasi, dan keadilan global.
Head of the Indonesia Collaboration Program, Nangkula Utaberta, mengatakan konferensi memiliki lima fokus utama. Kelima fokus tersebut meliputi pemikiran Islam, keberlanjutan, ketahanan nasional, diplomasi multipolar, dan pendidikan.
Menurutnya, konferensi memiliki tiga sasaran utama. Sasarannya adalah mendorong dialog interdisipliner, menghasilkan rekomendasi kebijakan, dan memperkuat jejaring kolaborasi.
Kolaborasi UNAS dan UCSI University juga diarahkan berlanjut melalui berbagai program strategis.
Kolaborasi Jadi Fondasi Ekosistem Akademik
Direktur UCSI–UNAS Collaboration Center (UUCC), Paisal Halim, menilai kolaborasi menjadi fondasi ekosistem akademik modern.
Menurutnya, konferensi internasional harus mempertemukan gagasan sekaligus membangun kepercayaan antarlembaga.
Kolaborasi juga dapat memperluas jejaring dan membuka peluang kerja sama baru. “Perbedaan seharusnya tidak memisahkan kita dalam dunia akademik. Ketika perspektif bertemu dengan rasa saling menghormati, pengetahuan menjadi semakin kuat, dan ketika institusi bekerja sama dengan kepercayaan, peluang akan semakin luas,” katanya.
Keberlanjutan Jadi Perhatian
Wakil Rektor UNAS Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, Ernawati Sinaga, menyoroti isu keberlanjutan. Menurutnya, alam bukan sekadar sektor pembangunan, melainkan infrastruktur dasar kehidupan.
Teknologi tidak akan berarti tanpa dukungan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Hal tersebut mencakup udara bersih, air aman, tanah produktif, laut sehat, dan keanekaragaman hayati.
Ernawati juga menyoroti pendekatan One Health dalam pembangunan berkelanjutan. Pendekatan tersebut memandang kesehatan manusia berkaitan erat dengan hewan, tumbuhan, lingkungan, dan ekosistem.
Menurut Ernawati, konservasi harus dipandang sebagai investasi pembangunan jangka panjang. Perguruan tinggi juga harus menjadi contoh penerapan prinsip keberlanjutan.
“Universitas juga harus memberikan contoh bahwa sustainability seharusnya menjadi sesuatu yang dipraktikkan, bukan hanya sesuatu yang diajarkan di ruang kelas,” ujarnya.
Perguruan Tinggi Harus Membaca Masa Depan
Vice-Chancellor UCSI University, Prof Emeritus Datuk Ts, Siti Hamisah Binti Tapsir, FASc., turut memberikan perspektif strategis. Ia hadir sebagai keynote speaker dalam konferensi tersebut.
Siti menyoroti semakin kompleksnya tantangan kepemimpinan perguruan tinggi. Menurutnya, pemimpin universitas membutuhkan kompetensi akademik sekaligus kemampuan tata kelola dan strategi.
Kemampuan tersebut mencakup komunikasi, keuangan, pengembangan institusi, serta hubungan dengan pemerintah dan industri.
Ia juga menilai mahasiswa membutuhkan kompetensi yang melampaui gelar akademik. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, dan pemanfaatan AI menjadi semakin penting.
Perguruan tinggi juga harus mampu membaca tren sebelum perubahan berkembang menjadi krisis.
“Pemimpin harus mampu melihat melampaui apa yang ada di depan mata. Mereka harus mampu melihat tren yang belum dimulai dan mempersiapkan institusinya untuk menghadapi perubahan tersebut,” tegasnya.
Siti juga menilai kejayaan peradaban Islam dibangun melalui tradisi keilmuan yang terbuka. Menurutnya, tradisi tersebut tidak memisahkan disiplin ilmu secara kaku.
Semangat transdisipliner dinilai penting untuk menghadapi persoalan dunia kontemporer.
Konferensi Didorong Jadi Gerakan Pengetahuan
Melalui konferensi tersebut, Iskandarsyah mendorong perubahan paradigma tentang peran universitas. Perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat produksi solusi, bukan sekadar pusat produksi dokumen ilmiah.
Konferensi tersebut diharapkan menjadi awal kerja bersama antara UNAS, UCSI University, dan mitra lainnya.
Penyelenggaraan kegiatan juga melibatkan Regaranggi Institute. Sejumlah unit strategis UNAS turut terlibat dalam konferensi tersebut. Di antaranya Pusat Studi Ketahanan Nasional dan Pusat Studi Sosiobudaya Nusantara. Keterlibatan berbagai unit tersebut memperkuat karakter multidisipliner konferensi.
Iskandarsyah menilai masa depan akademik harus mempertemukan ilmu, teknologi, peradaban, kemanusiaan, dan lingkungan.
Kepentingan bangsa juga perlu menjadi bagian dari ruang dialog akademik yang produktif. Dengan demikian, konferensi tersebut tidak hanya menjadi pertemuan akademik internasional.
Forum tersebut juga diharapkan menjadi fondasi ekosistem pengetahuan yang lebih terbuka dan transdisipliner. Ekosistem tersebut diarahkan berorientasi masa depan sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Di tengah perubahan global, konferensi menegaskan pentingnya ilmu untuk membaca masa depan. Kolaborasi akademik juga harus melampaui batas negara dan disiplin ilmu.
Pada akhirnya, aktivitas akademik diharapkan memberikan manfaat bagi manusia, bangsa, peradaban, dan seluruh alam. (*)







