SerambiMuslim.com – Kebiasaan jemaah haji Indonesia membeli oleh-oleh dari Tanah Suci turut mengalirkan dana triliunan rupiah ke Arab Saudi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, belanja oleh-oleh jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026 mencapai Rp1,96 triliun. Nilai tersebut setara dengan 46,10 persen dari total pengeluaran pribadi jemaah haji yang mencapai Rp4,25 triliun.
Besarnya belanja oleh-oleh tersebut turut memberikan kontribusi terhadap perekonomian Arab Saudi.
Menteri Haji dan Umrah Mochammad (Menhaj) Irfan Yusuf menilai kondisi tersebut perlu direspons dengan inovasi.
Pemerintah berencana menyiapkan platform khusus untuk memudahkan jemaah membeli oleh-oleh dari Indonesia. Platform tersebut diharapkan memungkinkan jemaah memesan oleh-oleh sebelum kembali ke Tanah Air.
Dengan demikian, barang yang dibeli dapat dikirim langsung ke rumah tanpa perlu dibawa dari Arab Saudi.
“Seperti yang saya sampaikan tadi, salah satunya kita mencoba membuka platform oleh-oleh di sini. Artinya jemaah haji membeli oleh-oleh di Indonesia. Harapan kami sebelum mereka pulang ke Tanah Air, oleh-oleh sudah sampai di rumah,” ujar pria yang akrab disapa Gus Irfan itu pekan kemarin.
Namun, Gus Irfan mengakui rencana tersebut menghadapi tantangan dari kebiasaan jemaah. Sebagian jemaah masih menganggap membeli oleh-oleh langsung dari Arab Saudi lebih afdal.
Padahal, sejumlah produk yang dijual di Tanah Suci memiliki kemiripan dengan barang yang tersedia di pasar Indonesia.
“Tapi ini juga tergantung pada culture dari jemaah haji kita di mana membeli oleh-oleh dari Saudi itu lebih afdal menurut mereka. Walaupun barangnya sama dengan yang di Tanah Abang. Itu tugas kita semua memberikan edukasi kepada para calon jemaah haji kita,” tambahnya.
Pengeluaran Pribadi Jemaah Haji
BPS mencatat estimasi total pengeluaran pribadi jemaah haji Indonesia pada 2026 mencapai Rp4,25 triliun.
Angka tersebut terdiri atas pengeluaran jemaah haji reguler sebesar Rp3,39 triliun. Sementara itu, pengeluaran jemaah haji khusus mencapai Rp857,3 miliar.
Selain membeli oleh-oleh, jemaah juga mengeluarkan dana untuk sejumlah kebutuhan selama pelaksanaan ibadah haji.
Berikut rincian estimasi pengeluaran pribadi jemaah haji Indonesia 2026:
- Oleh-oleh: Rp1,96 triliun
- Obat-obatan dan kebutuhan lain: Rp734,3 miliar
- Pembayaran dam: Rp669,9 miliar
- Makanan tambahan, jajanan dan minuman: Rp542,6 miliar
- Transportasi tambahan: Rp257,4 miliar
- Paket data dan internet: Rp86,2 miliar
Perputaran Uang Haji Capai Rp29,25 Triliun
Secara keseluruhan, BPS mengkalkulasi total perputaran uang dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026 mencapai Rp29,25 triliun.
Angka tersebut merupakan gabungan antara Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan pengeluaran pribadi jemaah.
Rinciannya terdiri atas BPIH haji reguler sebesar Rp17,77 triliun. Kemudian, BPIH haji khusus mencapai Rp7,23 triliun. Sementara pengeluaran pribadi jemaah mencapai Rp4,25 triliun.
Namun, sebagian besar dana tersebut masih berputar di pasar Arab Saudi. Sekitar 70 persen atau Rp20,48 triliun dibelanjakan untuk barang dan jasa di Arab Saudi.
Sebaliknya, produk yang berasal atau diproduksi di Indonesia baru menyerap sekitar 30 persen. Nilai belanja untuk produk Indonesia tersebut diperkirakan mencapai Rp8,78 triliun.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk meningkatkan keterlibatan produk domestik. Pemerintah perlu memperbesar peran ekosistem usaha Indonesia dalam rantai pasok penyelenggaraan ibadah haji.
Upaya tersebut diharapkan dapat membuat manfaat ekonomi dari penyelenggaraan haji lebih banyak dinikmati pelaku usaha dalam negeri. (*)







