Fikih  

Doa Agar Terhindar dari Malas

Foto: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Rasa malas muncul ketika seseorang menghindari pekerjaan yang sebenarnya mampu ia lakukan dengan potensi dan energi yang dimilikinya. Bentuknya bisa berupa kebiasaan menunda pekerjaan atau tidak melakukan aktivitas yang bermanfaat.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berdampak pada lingkungan sosial. Kemalasan membuat potensi berpikir dan bertindak menjadi tidak optimal, sehingga menghambat produktivitas.

Islam memandang malas sebagai sifat yang harus dihindari. Sejumlah ajaran memberikan panduan untuk mengatasinya, di antaranya melalui ibadah seperti shalat malam (qiyam al-lail) dan memperbanyak zikir.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW menjelaskan, setan mengikat tengkuk kepala seseorang saat ia tidur dengan tiga ikatan. Jika ia bangun lalu berzikir kepada Allah, satu ikatan terlepas. Ketika ia berwudhu, ikatan berikutnya terbuka. Dan saat ia mendirikan shalat, seluruh ikatan tersebut terlepas. Ia pun bangun di pagi hari dalam keadaan bersemangat. Sebaliknya, jika tidak, ia akan bangun dalam kondisi lesu dan malas.

Hadis ini menunjukkan bahwa rutinitas ibadah di waktu malam dapat menjadi cara efektif untuk membebaskan diri dari rasa malas, sehingga memulai hari dengan semangat yang lebih baik.

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa agar terhindar dari sifat malas. Doa tersebut berbunyi:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ»

Latin:

“Allaahumma innii a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali, waljubni walharami, wa a’udzubika min fitnatil mahyaa wal mamaati, wa a’udzubika min ‘adzaabil qabr.”

Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, ketakutan, kepikunan, serta dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari azab kubur.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hindari Sikap Berandai-andai

Selain kemalasan, Islam juga mengingatkan bahaya kebiasaan berandai-andai dengan ungkapan “seandainya”. Rasulullah SAW bersabda bahwa kata tersebut dapat membuka pintu bagi godaan setan.

Dalam buku ‘Berakhlak dan Beradab Mulia’, Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami menjelaskan bahwa sikap terlalu sering berandai-andai bisa menjebak seseorang pada angan-angan yang tidak realistis. Hal ini mencerminkan kelemahan dan kemalasan dalam bertindak.

Islam justru mendorong umatnya untuk bersikap tangkas dan cerdas, yakni dengan melakukan usaha nyata dalam meraih kebaikan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah tidak menyukai sikap lemah dan tidak bersungguh-sungguh, melainkan menganjurkan sikap aktif dan penuh ikhtiar.

Sikap tersebut diwujudkan melalui kerja keras dan usaha yang sesuai dengan hukum sebab-akibat (kausalitas) yang telah ditetapkan Allah SWT. Dengan demikian, setiap upaya yang dilakukan menjadi jalan menuju keberhasilan, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebaliknya, sikap malas dan lemah hanya akan menjauhkan seseorang dari produktivitas dan mendekatkannya pada kebiasaan berangan-angan tanpa tindakan nyata. Karena itu, menghindari kemalasan bukan hanya soal disiplin diri, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas iman. ***