SerambiMuslim.com – Manusia tidak bisa hidup sendiri. Dalam keseharian, setiap orang membutuhkan orang lain yang kemudian membentuk hubungan keluarga, pertemanan, hingga kehidupan bermasyarakat.
Dalam Islam, menjalin persahabatan menjadi bagian dari tanda keimanan. Dalam dakwahnya, Nabi Muhammad SAW mencontohkan pentingnya relasi yang baik, yang didukung oleh para sahabat setia hingga akhir hayat.
Rasulullah SAW bersabda, perumpamaan teman yang baik dan buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi dapat memberi manfaat, baik berupa hadiah, barang yang dibeli, maupun aroma harum yang dirasakan. Sebaliknya, pandai besi bisa merusak pakaian atau menimbulkan bau tidak sedap.
Hadis tersebut menegaskan pentingnya selektif dalam memilih sahabat. Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang. Persahabatan yang baik akan menghadirkan ilmu, hikmah, dan manfaat. Sebaliknya, hubungan yang keliru berpotensi membawa dampak negatif.
Setidaknya, ada dua kemungkinan saat berteman dengan orang baik, menjadi pribadi yang lebih baik atau mendapatkan kebaikan darinya. Karena itu, keinginan untuk menjadi Muslim yang bertakwa harus diiringi dengan kehati-hatian dalam memilih lingkungan pergaulan.
Alquran mengingatkan bahwa pada hari kiamat, teman akrab bisa menjadi musuh, kecuali mereka yang bertakwa. Selain itu, persahabatan dalam Islam juga ditandai dengan ketulusan, termasuk saling mendoakan.
Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya disebut sebagai doa yang mustajab. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan, malaikat akan mengaminkan doa tersebut dan mendoakan hal serupa bagi orang yang berdoa.
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Hal ini menjadi pengingat untuk menjaga hubungan dengan orang-orang yang berada di jalan kebaikan, karena persahabatan tersebut akan berlanjut hingga kehidupan akhirat.
Ulama Hasan al-Bashri bahkan menganjurkan untuk memperbanyak teman dari kalangan orang beriman, karena mereka dapat memberi syafaat di hari kiamat.
Meski tidak selalu mudah, memilih sahabat bukanlah hal yang mustahil. Dibutuhkan kepekaan dan ketulusan untuk membangun hubungan yang sehat. Beberapa hal yang bisa diperhatikan antara lain memilih teman yang memberi motivasi positif serta memiliki nilai dan tujuan hidup yang sejalan.
Namun demikian, Islam tidak melarang hubungan sosial dengan siapa pun, termasuk non-Muslim, selama tetap menjaga prinsip dan etika. Yang terpenting, persahabatan harus dilandasi keikhlasan, bukan kepentingan sesaat. Hubungan yang dibangun atas dasar manfaat semata justru akan kehilangan makna sejatinya.
Karena itu, etika dalam berteman perlu dijaga, seperti berprasangka baik, menunjukkan empati, dan hadir saat sahabat mengalami kesulitan. Dari sinilah persahabatan yang kuat dan bermakna akan tumbuh. ***






