SerambiMuslim.com – Ada saat ketika hati terasa penuh, tetapi justru kosong. Riuh oleh informasi, namun kehilangan makna. Layar terus digulir, kabar berganti tanpa jeda, wajah demi wajah melintas begitu cepat, seolah ada sesuatu yang harus dikejar, meski tak benar-benar dipahami. Di titik itulah, tanpa disadari, hati mulai letih.
Dalam kegelisahan semacam itu, Alquran hadir dengan sapaan yang tenang, tidak menggurui, tidak pula memaksa. Ia hanya mengingatkan:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
allażīna āmanụ wa taṭmainnu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭmainnul-qulụb
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini seperti mengetuk pelan dari dalam dada. Bahwa ketenangan bukan sesuatu yang dicari jauh ke luar, melainkan sesuatu yang ditemukan saat seseorang berani kembali ke dalam dirinya.
Pemikir besar Islam, Abu Hamid al-Ghazali, pernah menguraikan hakikat hati dengan bahasa yang nyaris seperti doa dalam karyanya Ihya Ulumuddin:
ٱعْلَمْ أَنَّ ٱلْقَلْبَ هُوَ ٱلْجَوْهَرُ ٱلشَّرِيفُ ٱلَّذِي بِهِ يَعْرِفُ ٱلْإِنْسَانُ رَبَّهُ، وَهُوَ ٱلْمُخَاطَبُ وَٱلْمُطَالَبُ وَٱلْمُعَاتَبُ، وَهُوَ ٱلْمُثَابُ وَٱلْمُعَاقَبُ
I‘lam anna al-qalba huwa al-jawharu asy-syarīfu alladzī bihi ya‘rifu al-insānu rabbah, wa huwa al-mukhāṭabu wal-muṭālabu wal-mu‘ātabu, wa huwa al-mutsābu wal-mu‘āqab.
“Ketahuilah, hati adalah permata yang mulia, dengannya manusia mengenal Tuhannya. Ia adalah yang diajak bicara, yang dituntut, yang ditegur, yang diberi pahala, dan yang disiksa.”
Dalam pandangan Al-Ghazali, hati bukan sekadar organ biologis. Ia adalah pusat kesadaran, tempat makna lahir dan arah hidup ditentukan. Ia bisa memantulkan cahaya Ilahi, tetapi juga dapat tertutup oleh debu dunia.
Di zaman yang serba cepat, debu itu hadir dalam bentuk yang nyaris tak terasa. Bukan selalu dosa besar, melainkan hal-hal kecil yang terus berulang. Keinginan untuk selalu tahu kehidupan orang lain, kecemasan karena merasa tertinggal, hingga kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Hari ini, fenomena itu dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Namun jauh sebelumnya, Alquran telah menggambarkannya sebagai hati yang kehilangan arah. Hati yang terlalu lama memandang ke luar, perlahan lupa cara pulang.
Padahal, ketenangan tidak pernah benar-benar berada di luar sana. Ia tidak bergantung pada angka, popularitas, atau kecepatan mengikuti arus. Ketenangan justru hadir dalam dzikir, dalam kesadaran sunyi bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya sendiri.
Dzikir, dalam pengertian ini, bukan sekadar ucapan. Ia adalah cara hati bernapas.
Ketika hati mengingat Allah, ia seperti tanah kering yang tersentuh hujan. Retakan-retakan perlahan menutup. Kegelisahan mungkin belum sepenuhnya hilang, tetapi ia tidak lagi menguasai.
Al-Ghazali seakan menegaskan. jika hati adalah permata, maka dzikir adalah cahaya yang membuatnya kembali berkilau. Tanpa cahaya itu, hati tetap ada, tetapi redup, bahkan bisa kehilangan arah.
Di situlah letak paradoks manusia. Ia bisa gelisah di tengah kelimpahan, tetapi tenang dalam keterbatasan. Ia bisa sesak dalam keramaian, namun lapang dalam kesunyian. Semuanya bergantung pada ke mana hati menghadap.
Barangkali, tidak semua hal harus dikejar. Tidak semua kabar perlu diketahui. Tidak semua percakapan harus diikuti.
Ada kalanya, yang paling dibutuhkan adalah berhenti sejenak, menarik napas, lalu memberi ruang bagi hati untuk mengingat.
Sebab di sanalah, dalam sunyi yang sering dihindari itu, manusia menemukan kembali sesuatu yang selama ini dicari ke mana-mana: ketenangan yang tidak bergantung pada apa pun, kecuali pada-Nya. ***






