Fikih  

Saat Overthinking Menguasai, Ini Pesan Alquran

Overthinking bisa memicu kecemasan berlebih. Alquran melalui QS Al-Insyirah mengajarkan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Di zaman yang bergerak lebih cepat dari detak hati, kecemasan tak lagi sekadar gejala sesaat. Ia menjelma menjadi “iklim batin” yang diam-diam menetap.

Berbagai riset psikologi menunjukkan, overthinking yang berkepanjangan bukan hanya menguras energi mental, tetapi juga berdampak pada kualitas tidur, daya fokus, hingga meningkatkan risiko depresi.

Pikiran yang semestinya membantu manusia memahami hidup, perlahan berubah menjadi labirin, memutar tanpa arah, menahan seseorang dalam bayang-bayang yang ia ciptakan sendiri.

Pada titik itu, manusia tidak lagi berhadapan dengan realitas, melainkan dengan persepsinya yang menakutkan.

Namun, Islam tidak membiarkan kegelisahan berjalan tanpa arah. Alquran menghadirkan kalimat sederhana, tetapi memiliki daya tenang yang mendalam:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Fa inna ma‘al ‘usri yusrā, inna ma‘al ‘usri yusrā.

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Ayat ini bukan sekadar penghiburan, melainkan prinsip hidup. Dalam penjelasannya, Fakhruddin ar-Razi melalui Mafātīḥ al-Ghaib menekankan bahwa pengulangan ayat tersebut mengandung makna penegasan: satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.

Artinya, dalam setiap ‘usr (kesempitan), telah disertakan yusr (kelapangan) yang hadir bersamaan, bukan menunggu di masa depan, melainkan sudah melekat dalam situasi yang sedang dijalani.

Di sinilah letak koreksi mendasar terhadap overthinking. Pikiran manusia cenderung melompat terlalu jauh, membayangkan kemungkinan terburuk, lalu tenggelam dalam wahm, ilusi ketakutan yang belum tentu nyata. Padahal, Alquran justru mengarahkan perhatian pada apa yang sedang berlangsung: bahwa kemudahan itu sudah ada, meski belum terlihat.

Lebih jauh, ar-Razi menjelaskan bahwa kata “al-‘usr” dalam ayat tersebut berbentuk ma‘rifah (spesifik), sementara “yusr” berbentuk nakirah (umum). Ini menandakan satu kesulitan bisa diiringi oleh beragam bentuk kemudahan. Sebuah kesempitan tidak berdiri sendiri, ia selalu ditemani kemungkinan jalan keluar yang lebih luas.

Dalam konteks ini, kecemasan kerap bukan lahir dari beratnya hidup, melainkan dari hilangnya sukūn (ketenangan) dan yaqīn (keyakinan). Ia menyerupai permukaan laut yang bergelombang, padahal di kedalaman tetap tenang. Overthinking hanyalah riak, bukan hakikat.

Dalam tradisi tasawuf, kegelisahan bahkan dipandang sebagai hijab halus, tirai yang menutup hati dari menyadari kehadiran rahmat Allah. Ia membuat manusia sibuk dengan kemungkinan, tetapi lupa pada kenyataan bahwa ia tidak pernah berjalan sendirian.

Karena itu, ayat tersebut tidak mengajarkan cara menghapus kesulitan, melainkan mengubah cara memandangnya. Bahwa setiap beban membawa pesan, setiap kesempitan menyimpan celah, dan setiap gelap mengandung cahaya yang belum tampak.

Seperti malam yang terasa panjang, tetapi diam-diam sedang menyiapkan fajar.

Maka ketika pikiran terasa penuh dan hati mulai sesak, tidak selalu diperlukan perlawanan. Cukup berhenti sejenak, menarik napas perlahan, dan menyadari: tidak semua yang dipikirkan adalah kenyataan, dan tidak semua yang ditakutkan akan terjadi.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang meniadakan masalah, melainkan belajar berjalan dengan tenang di tengahnya.

Selama keyakinan itu tetap terjaga, bahwa di balik sempit ada lapang, di balik berat ada ringan, maka manusia tidak sedang tersesat. Ia hanya sedang menempuh jalan menuju terang yang belum sepenuhnya terlihat. ***