Fikih  

Cara Menuntun Orang Sakaratul Maut Mengucapkan Syahadat

Tata cara menuntun orang sakaratul maut mengucapkan syahadat serta amalan yang dianjurkan keluarga saat mendampinginya. (FOTO: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Menuntun orang yang sedang sakaratul maut mengucapkan Laa ilaaha illallah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam.

Talqin dilakukan dengan membimbing orang yang menghadapi detik-detik terakhir kehidupannya.

Tujuannya agar kalimat tauhid menjadi bagian dari ucapan terakhir sebelum meninggal dunia.

Islam juga mengajarkan sejumlah adab bagi keluarga ketika mendampingi orang yang sedang sakaratul maut.

Dalil Menuntun Syahadat Saat Sakaratul Maut

Mengutip Sayyid Sabiq dalam kitab Fikih Sunnah, talqin bagi orang sakaratul maut hukumnya sunnah.

Amalan tersebut berlandaskan hadis shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri RA.

Rasulullah SAW bersabda:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Artinya: “Tuntunlah (ajarilah) orang yang hampir mati di antara kamu sekalian untuk mengucapkan lafaz ‘Laa ilaaha illallah’.” (HR. Muslim)

Orang yang mengakhiri kehidupannya dengan kalimat tauhid mendapatkan ganjaran besar.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang akhir ucapannya adalah ‘Laa ilaaha illallah’, niscaya ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud)

Tata Cara Menuntun Orang Sakaratul Maut

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menggarisbawahi beberapa adab dalam menuntun orang sakaratul maut.

1. Mengucapkannya dengan Lembut

Lafaz Laa ilaaha illallah dapat dibisikkan dengan suara jelas, tenang, dan lembut. Hindari suara keras atau membentak yang dapat membuat orang tersebut terkejut.

Orang yang sedang sakaratul maut membutuhkan suasana tenang selama menghadapi kondisi kritis.

2. Tidak Mengulanginya Berlebihan

Jika orang tersebut sudah mampu menirukan kalimat tauhid, tuntunan sebaiknya dihentikan. Jangan terus meminta pengulangan jika kalimat tersebut sudah berhasil diucapkan.

Talqin dapat kembali dilakukan jika orang tersebut mengucapkan pembicaraan duniawi setelahnya. Tujuannya agar kalimat tauhid menjadi penutup ucapannya sebelum meninggal dunia.

3. Dituntun Orang yang Tenang dan Dekat

Orang yang menuntun sebaiknya merupakan anggota keluarga atau orang terdekat.

Pendamping hendaknya memiliki sikap tenang dan tidak membuat orang tersebut merasa terganggu.

Kondisi emosional yang stabil diperlukan agar suasana tetap nyaman bagi orang yang sedang sakaratul maut.

4. Talqin dengan Kalimat Tauhid

Sebagian ulama berpendapat bahwa talqin dapat menggunakan kalimat syahadat. Kalimat tersebut berbunyi la ilaha illallah muhammadur rasulullah.

Sementara itu, jumhur ulama berpendapat talqin cukup dengan la ilaha illallah. Lafaz tersebut dinilai lebih mudah diucapkan orang yang sedang menghadapi rasa sakit.

5. Membantu Jika Tidak Mampu Mengucapkan

Orang yang sedang sakaratul maut terkadang berada dalam kondisi sangat lemah. Jika tidak mampu mengucapkan kalimat tauhid, orang di sampingnya dapat membantu menuntunnya.

Dalam kondisi tersebut, orang yang sakaratul maut dapat mengulanginya dalam hati.

Hal yang Dianjurkan Saat Mendampingi Orang Sakaratul Maut

Selain menuntun kalimat tauhid, keluarga dapat melakukan beberapa amalan ketika mendampingi orang sakaratul maut.

1. Mengarahkan Tubuh Menghadap Kiblat

Posisi tubuh dapat dimiringkan ke sebelah kanan dengan menghadap kiblat. Jika tidak memungkinkan, tubuh dapat dibaringkan terlentang.

Dalam posisi tersebut, telapak kaki diarahkan menuju kiblat.

2. Membacakan Al-Qur’an

Keluarga dapat membacakan Al-Qur’an di dekat orang yang sedang sakaratul maut. Surah Yasin termasuk bacaan yang disebutkan dalam amalan pendampingan tersebut.

Pembacaan Al-Qur’an diharapkan menjadi doa dan penguat bagi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

3. Memejamkan Mata Setelah Meninggal

Setelah napas terhenti dan kematian dipastikan, mata jenazah dapat segera dipejamkan. Keluarga kemudian dianjurkan mendoakan orang yang telah meninggal tersebut.

4. Menutup Tubuh dan Menjaga Aurat

Seluruh tubuh jenazah hendaknya ditutup untuk menjaga kehormatannya. Hal itu bertujuan agar aurat jenazah tidak terlihat orang yang datang bertakziah.

Mencium jenazah diperbolehkan menurut ulama. Hal tersebut pernah dilakukan Nabi SAW ketika Utsman bin Ma’tzum meninggal dunia.

5. Menyegerakan Pengurusan Jenazah

Keluarga hendaknya segera mengurus keperluan jenazah setelah kematian dipastikan. Pengurusan tersebut meliputi memandikan, menyalatkan, hingga menguburkan jenazah.

Kedatangan keluarga dekat masih dapat ditunggu selama kondisi jasad memungkinkan.

6. Melunasi Utang dan Tanggungan

Keluarga hendaknya memperhatikan berbagai utang dan tanggungan yang ditinggalkan jenazah. Utang tersebut dapat dilunasi menggunakan harta yang ditinggalkan apabila tersedia.

Pelunasan tanggungan menjadi bagian penting dalam penyelesaian kewajiban orang yang telah meninggal. (*)