MTQ Nasional 2026 Jadi Simbol Toleransi Antaragama

MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang menjadi simbol toleransi antaragama. Warga lintas agama ikut menyemarakkan pembukaan MTQ. (Foto: Istimewa)

SerambiMuslim.com – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI tingkat Nasional 2026 di Semarang, Jawa Tengah, tak hanya menjadi ajang perlombaan keagamaan.

Perhelatan akbar umat Islam tersebut juga memperlihatkan kuatnya toleransi antarumat beragama yang telah terjalin di Kota Semarang.

Keunikan itu terlihat sejak persiapan hingga pembukaan MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti yang beragama Katolik turut serius mempersiapkan daerahnya sebagai tuan rumah.

Rapat rutin lintas sektor digelar untuk memastikan seluruh rangkaian MTQ Nasional berjalan maksimal.

Sebagai tuan rumah, Pemerintah Kota Semarang ingin memberikan penyelenggaraan terbaik dalam perhelatan nasional tersebut.

Dukungan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga dinilai sangat signifikan.

Semangat toleransi tersebut sejalan dengan posisi Semarang dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2025.

Berdasarkan laporan terbaru SETARA Institute, Semarang mempertahankan posisi ketiga kota paling toleran secara nasional.

Kota Semarang meraih skor indeks sebesar 6,160 dalam pengukuran tersebut. Pengukuran IKT 2025 melibatkan 94 kota di seluruh Indonesia.

Indeks tersebut menilai pengelolaan keberagaman, kebebasan beragama, dan inklusi sosial.

Penilaiannya menggunakan empat variabel utama sebagai dasar pengukuran. Variabel tersebut meliputi regulasi pemerintah kota, tindakan nyata pemerintah, regulasi sosial, dan demografi agama.

Paduan Suara 87 Gereja Semarakkan Pembukaan MTQ

Semangat toleransi juga terlihat dalam pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang. Tim paduan suara dari 87 gereja turut tampil menyemarakkan pembukaan ajang tersebut.

Keterlibatan lintas agama tidak hanya berasal dari komunitas gereja. Guru Sekolah Minggu, perwakilan Paroki Gereja Katolik, serta warga vihara turut ambil bagian.

Perwakilan pura dan kelenteng juga berdiri bersama dalam momen tersebut.

Mereka bersama-sama menyanyikan Mars MTQ Nasional dalam pembukaan perhelatan.

Kota Semarang kemudian mencatatkan rekor MURI untuk kategori menyanyikan Mars MTQ. Rekor tersebut diraih dengan jumlah peserta terbanyak dalam pembukaan MTQ Nasional.

Sebanyak 24.957 peserta hadir langsung di kawasan Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang. Sementara itu, 263.262 peserta lainnya bergabung secara daring dari berbagai lokasi.

Peserta daring berasal dari sekolah dan instansi di seluruh penjuru Kota Semarang. Mereka terdiri atas siswa SD, SMP, SMA, SMK, serta peserta dari berbagai instansi.

Pemecahan rekor tersebut tidak hanya melibatkan umat Islam. Sebanyak 10.867 warga lintas agama turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Mereka berasal dari kalangan Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Banyak Kepala Daerah Hadir

Kemegahan pembukaan MTQ Nasional XXXI juga mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Ia mengungkapkan, sebanyak 14 gubernur dan tujuh wakil gubernur menghadiri pembukaan.

Para gubernur yang hadir berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka antara lain Gubernur Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Jambi, dan Bengkulu.

Selain itu, hadir pula gubernur NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Maluku Utara.

Gubernur Papua Barat Daya dan Jawa Tengah juga turut hadir dalam pembukaan.

Sementara tujuh wakil gubernur yang hadir berasal dari sejumlah provinsi. Mereka adalah Wakil Gubernur DI Yogyakarta, Sumatra Barat, Lampung, dan Sumatra Utara.

Kemudian Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Papua Barat Daya, dan Jawa Tengah.

Selain gubernur dan wakil gubernur, sejumlah kepala daerah kabupaten dan kota juga hadir.

Kehadiran para kepala daerah tersebut menambah semarak pembukaan MTQ Nasional XXXI.

Menag Dorong MTQ Digelar Setiap Tahun

Menteri Agama Nasaruddin Umar melihat kemeriahan MTQ Nasional XXXI sebagai momentum penting.

Ia menargetkan penyelenggaraan MTQ tidak lagi dilakukan dua tahun sekali. Menurutnya, MTQ ke depan diharapkan digelar setiap tahun.

MTQ dinilai bukan hanya sebagai ajang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an. Ajang tersebut juga menjadi pesta rakyat yang mampu melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

MTQ bahkan disebut sebagai salah satu pesta rakyat terbesar di Indonesia. Semarak penyelenggaraan MTQ di Indonesia juga dinilai belum ditemukan di negara lain.

Penyelenggaraan MTQ diharapkan semakin mempererat simbol persatuan di berbagai penjuru Indonesia.

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya fondasi negara.

Negara yang kuat membutuhkan fondasi yang kuat, termasuk dari sisi kehidupan keagamaan.

MTQ Nasional XXXI di Semarang pun menjadi gambaran bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan semangat kebersamaan dan toleransi. (*)