SerambiMuslim.com – Siapa sosok yang pertama kali menunaikan ibadah haji? Pertanyaan ini telah lama menjadi bahan kajian para ulama dan sejarawan Islam.
Dalam berbagai literatur klasik, terdapat sejumlah pendapat mengenai pihak yang pertama kali melaksanakan ibadah haji di Baitullah, mulai dari malaikat, Nabi Adam AS, hingga Nabi Ibrahim AS.
Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menukil sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa setelah Nabi Adam AS menyelesaikan ibadah hajinya, para malaikat datang menemuinya dan berkata:
“Wahai Adam, hajimu diterima Allah SWT. Sesungguhnya kami telah melaksanakan haji di Baitullah ini dua ribu tahun sebelum engkau.”
Riwayat tersebut disebut berasal dari Imam Al-Mufadhdhal Al-Ja’di. Jalur serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Jauzi dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu. Namun, sejumlah ulama menilai hadis tersebut tidak mencapai derajat sahih.
Pendapat Malaikat sebagai Pelaku Haji Pertama
Dalam sejumlah literatur sejarah Islam, terdapat pendapat yang menyebut Kabah telah dibangun oleh para malaikat sebelum penciptaan manusia. Pendapat ini dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Latin: Wa iż qāla rabbuka lil-malā’ikati innī jā‘ilun fil-arḍi khalīfah(tan), qālū ataj‘alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā'(a), wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak(a), qāla innī a‘lamu mā lā ta‘lamūn(a).
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS Al-Baqarah: 30).
Dalam buku “Manajemen Haji dan Umroh: Mengelola Perjalanan Tamu Allah ke Tanah Suci,” Drs H Noor Hamid menjelaskan bahwa setelah peristiwa tersebut para malaikat memohon ampun kepada Allah SWT dengan mendatangi Arsy dan bertawaf mengelilinginya sebanyak tujuh kali.
Kemudian Allah SWT menurunkan rahmat-Nya dengan menciptakan Baitul Ma’mur di bawah Arsy dan memerintahkan para malaikat untuk bertawaf di sekelilingnya.
Setelah itu, malaikat yang berada di bumi diperintahkan membangun bangunan yang serupa dengan Baitul Ma’mur dan melakukan tawaf sebagaimana yang dilakukan para malaikat di langit.
Mengacu pada keterangan yang dikutip dari al-Kharbuthli (2013), para malaikat diyakini telah melaksanakan ibadah haji sekitar 2.000 tahun sebelum Nabi Adam AS diciptakan. Berdasarkan pandangan ini, malaikat dianggap sebagai makhluk pertama yang melaksanakan ibadah haji.
Nabi Adam dan Awal Pembangunan Kabah
Pendapat lain menyebut Nabi Adam AS sebagai orang pertama yang membangun Kabah. Dikisahkan bahwa Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril untuk menunjukkan lokasi Baitullah kepada Nabi Adam dan Hawa.
Melalui wahyu tersebut, Nabi Adam diperintahkan untuk mendirikan sebuah bangunan sebagai rumah ibadah. Setelah bangunan itu selesai, Allah SWT memerintahkan Nabi Adam dan Hawa untuk bertawaf di sekelilingnya.
Dalam riwayat yang dikutip al-Kharbuthli (2013), Allah SWT kemudian berfirman:
“Engkau adalah manusia pertama dan ini adalah bangunan yang pertama.”
Berdasarkan pendapat ini, Nabi Adam dipandang sebagai manusia pertama yang melakukan tawaf dan menunaikan ibadah haji sebagaimana dikenal dalam syariat umat Islam saat ini.
Nabi Ibrahim dan Penyempurnaan Kabah
Sementara itu, banyak sejarawan dan ulama berpendapat bahwa Kabah yang dikenal sekarang identik dengan bangunan yang didirikan atau diperbarui oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS.
Pembangunan tersebut dilakukan atas perintah Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 127:
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Latin: Wa iż yarfa‘u ibrāhīmul-qawā‘ida minal-baiti wa ismā‘īl(u), rabbanā taqabbal minnā, innaka antas-samī‘ul-‘alīm(u).
Artinya: “(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS Al-Baqarah: 127).
Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa fondasi Kabah telah ada sebelum masa Nabi Ibrahim. Karena itu, sejumlah mufasir berpendapat Nabi Ibrahim bukan membangun Ka’bah dari awal, melainkan meninggikan kembali pondasi yang telah ada sebelumnya. Bisa jadi pada masa itu bangunan Kabah telah runtuh atau tertimbun sehingga perlu dibangun kembali.
Pandangan ini juga dikemukakan oleh M Quraish Shihab dalam tafsirnya yang terbit pada 2012.
Setelah pembangunan Kabah selesai, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyerukan ibadah haji kepada seluruh umat manusia. Nabi Ibrahim kemudian mengajak manusia mendatangi Baitullah dan menunaikan ibadah haji sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Karena itu, sebagian ulama dan sejarawan berpendapat Nabi Ibrahim AS merupakan sosok pertama yang melaksanakan ibadah haji dalam bentuk syariat yang kemudian diwariskan kepada generasi setelahnya.
Dengan demikian, terdapat beberapa pandangan mengenai siapa yang pertama kali menunaikan ibadah haji. Sebagian menyebut para malaikat, sebagian lainnya meyakini Nabi Adam AS, sementara pendapat yang lain mengaitkannya dengan Nabi Ibrahim AS.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan panjangnya sejarah Baitullah dan ibadah haji dalam tradisi Islam sejak masa yang sangat awal. (*)







