SerambiMuslim.com – Di tengah gejolak ekonomi global, Indonesia menyiapkan jalur baru penguatan dagang dan investasi melalui ekonomi halal.
Upaya tersebut didorong melalui Indonesia Economic Summit (IES) 2026.
Pemerintah dan pelaku usaha mendorong penguatan inisiatif B57+. Untuk diketahui, B57+ merupakan platform bisnis negara-negara Islam. Platform ini diharapkan menjadi motor integrasi pasar halal global.
“B57+ adalah platform bisnis OKI yang menyatukan pemimpin sektor swasta negara anggota,” ujar Dewan Pembina Indonesian Business Council, Arsjad Rasjid dalam sesi Multilateral Business Roundtable seperti dikutip dari Kabarbursa.com, Rabu (4/2/2026).
Forum ini digelar bersama Islamic Chamber of Commerce and Development. Acara tersebut mempertemukan pelaku usaha, duta besar, dan pemangku kepentingan lintas negara Islam.
“B57+ adalah platform bisnis OKI yang menyatukan pemimpin sektor swasta negara anggota,” ujar Arsjad.
Menurut Arsjad, platform ini bertujuan memperkuat perdagangan dan investasi antarnegara Islam. Ia menegaskan B57+ bukan sekadar forum diskusi. Inisiatif ini dirancang mendorong transaksi bisnis nyata.
Arsjad menilai perdagangan intra-OKI masih rendah dibandingkan potensi pasar.
Ia mengaku menyaksikan langsung peluncuran resmi B57+ di Turki. Peluncuran tersebut menjadi titik balik kerja sama ekonomi negara-negara Islam.
“Sektor swasta OKI mulai bergerak dari dialog menuju tindakan nyata,” katanya.
Ekonomi Halal Jadi Gaya Hidup Global
Arsjad menilai ekonomi halal menjadi kekuatan pemersatu negara-negara Islam. Namun, konsep halal kini berkembang melampaui makna tradisional.
“Saat ini halal telah berkembang menjadi gaya hidup global,” ujarnya.
Ia menyebut halal mencakup makanan, fesyen, farmasi, dan kosmetik. Sektor lainnya meliputi pariwisata, keuangan syariah, dan layanan digital.
Pasar halal kini menjangkau konsumen lintas budaya dan kawasan. “Relevansinya melampaui negara-negara Islam,” kata Arsjad.
Karena itu, integrasi ekonomi halal dinilai sebagai kebutuhan strategis. Negara-negara Islam harus membangun rantai pasok yang terhubung.
Tantangan Integrasi Pasar Islam
Arsjad mengakui integrasi pasar Islam menghadapi banyak tantangan. Perbedaan struktur ekonomi dan kapasitas industri menjadi hambatan.
“Pasar Islam sangat beragam dari sisi pembangunan dan struktur ekonomi,” ujarnya.
Hambatan lainnya adalah perbedaan standar dan lemahnya konektivitas logistik. Minimnya harmonisasi regulasi turut membatasi perdagangan intra-OKI.
Arsjad menekankan integrasi membutuhkan proses bertahap. “Ini tidak terjadi dalam semalam,” tegasnya.
Ia menilai perlu penguatan pemahaman dan penciptaan permintaan pasar. Kolaborasi pemerintah dan sektor swasta dinilai krusial. Tanpa sinergi, B57+ sulit menghasilkan dampak nyata.
Peran Strategis Indonesia
Bagi Indonesia, B57+ memiliki arti strategis. Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia.
Arsjad menilai Indonesia memiliki peluang memimpin ekosistem halal global. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. “Masih banyak yang harus kita lakukan,” ujarnya.
Ia menyoroti pentingnya penguatan industri halal nasional. Pengembangan keuangan syariah dinilai menjadi faktor pendukung utama.
Dalam IES 2026, Indonesia menyiapkan forum khusus keuangan syariah. Forum tersebut membahas pembiayaan industri halal.
Acara ini dihadiri perwakilan negara dan lembaga internasional. Beberapa negara yang hadir antara lain Bangladesh, Pakistan, dan Malaysia.
Islamic Development Bank juga turut berpartisipasi. “Minat dan peluang kolaborasi sangat nyata,” ujar Arsjad.
Melalui B57+, Indonesia mendorong kolaborasi bisnis konkret. Fokus diarahkan pada transaksi, investasi, dan jejaring usaha. Langkah ini sejalan dengan ambisi Indonesia menjadi pusat ekonomi halal dunia.
Dengan pasar besar dan posisi strategis, Indonesia dinilai memiliki modal kuat.
“Saya menantikan pertukaran gagasan yang konstruktif hari ini,” pungkas Arsjad. ***





