SerambiMuslim.com – Pertanyaan tentang apa yang terjadi pada manusia setelah meninggal dunia kerap menimbulkan berbagai spekulasi dan mitos di tengah masyarakat. Namun dalam ajaran Islam, kondisi seseorang setelah kematian telah dijelaskan melalui Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Para ulama menerangkan bahwa setelah meninggal dunia dan dimakamkan, manusia akan memasuki alam barzakh, yaitu alam antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Di alam inilah manusia menunggu hingga datangnya hari kebangkitan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
لَعَلِّىۡۤ اَعۡمَلُ صَالِحًـا فِيۡمَا تَرَكۡتُؕ كَلَّا ؕ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآٮِٕلُهَاؕ وَمِنۡ وَّرَآٮِٕهِمۡ بَرۡزَخٌ اِلٰى يَوۡمِ يُبۡعَثُوۡنَ
Artinya:
“…Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun: 100)
Lima Hal yang Dihadapi Manusia Setelah Kematian
Dalam berbagai penjelasan ulama, disebutkan ada beberapa kondisi yang akan dialami manusia tidak lama setelah kematian, terutama setelah jenazah dimakamkan.
1. Menyatu dengan tanah dan merasakan kesendirian
Sesaat setelah dimakamkan, jasad manusia akan kembali menyatu dengan tanah, yaitu unsur asal penciptaan manusia. Pada saat itu, seseorang mulai merasakan kesendirian di alam kubur.
Kondisi ini akan dirasakan oleh semua manusia tanpa kecuali, baik orang beriman maupun orang yang ingkar.
2. Mengalami rasa asing di alam kubur
Alam kubur merupakan tempat yang baru bagi manusia. Karena itu, setiap orang akan merasakan suasana yang asing dan berbeda dengan kehidupan dunia yang sebelumnya dijalani.
3. Menghadapi pertanyaan dua malaikat
Ketika para kerabat telah meninggalkan area pemakaman, seseorang yang telah meninggal diyakini masih dapat mendengar langkah kaki mereka. Pada saat itulah dua malaikat datang untuk memberikan pertanyaan tentang keyakinannya selama hidup di dunia.
Pertanyaan tersebut berkaitan dengan tiga hal utama, yaitu siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu?
4. Mengalami nikmat kubur
Bagi orang yang beriman dan mampu menjawab pertanyaan malaikat dengan benar, maka ia akan mendapatkan ketenangan dan kenikmatan di alam kubur.
5. Menghadapi siksa kubur
Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut atau tidak beriman semasa hidupnya, maka akan menghadapi siksa kubur sesuai dengan amal perbuatannya.
Kematian Adalah Ketetapan Allah
Dalam Islam, kehidupan dan kematian merupakan ketetapan Allah SWT yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun.
Allah SWT berfirman:
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” QS Ali Imran: 145)
Karena itu, setiap manusia pasti akan mengalami kematian pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah.
Bersedih Saat Kematian adalah Hal Manusiawi
Kehilangan orang tercinta sering kali menimbulkan kesedihan yang mendalam. Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah menitikkan air mata saat istri tercintanya, Khadijah binti Khuwailid, wafat.
Beliau juga sangat bersedih ketika pamannya, Abu Thalib, meninggal dunia pada masa awal perjuangan dakwah Islam.
Namun demikian, Rasulullah SAW mengajarkan agar kesedihan tidak berlarut-larut hingga membuat seseorang putus asa atau kehilangan semangat hidup.
Mengingat Kematian sebagai Pengingat Kehidupan
Setiap Muslim dianjurkan untuk selalu mengingat kematian agar lebih mempersiapkan diri dengan amal saleh.
Allah SWT berfirman:
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh.” (QS An-Nisa: 78)
Orang yang banyak melakukan dosa biasanya takut menghadapi kematian. Sebaliknya, bagi orang yang beriman, kematian justru menjadi awal perjalanan menuju pertemuan dengan Allah SWT.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan tentang siapa orang mukmin yang paling cerdas. Seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”
Beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkannya.” (HR Ibnu Majah)
Karena itu, kematian hendaknya menjadi pengingat bagi setiap manusia untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh selama hidup di dunia. ***






