Jakarta Diusulkan Jadi Pusat Global Imam Perdamaian

Imam Besar dari Brasil, Sheikh Muhammad Abdullah Al-Maghribi, mengusulkan Jakarta menjadi Pusat Global Imam Perdamaian dengan Masjid Istiqlal sebagai sekretariat permanen jejaring imam dunia. (Foto: Dok Kemenag)

SerambiMuslim.com – Jakarta diusulkan menjadi pusat global jejaring imam perdamaian dunia, dengan Masjid Istiqlal sebagai sekretariat permanen.

Gagasan tersebut disampaikan Sheikh Muhammad Abdullah Al-Maghribi dari Brasil dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta.

Menurut Sheikh Muhammad, posisi Indonesia strategis untuk mempertemukan imam dan pemimpin keagamaan dari berbagai kawasan dunia.

Hal itu terlihat dari kehadiran perwakilan Al-Aqsa, Al-Azhar, Maroko, Asia Timur, kawasan Teluk, Eropa, hingga Amerika dalam IGIC 2026.

“Kita berkumpul hari ini di Indonesia, negara dengan populasi Muslim yang besar dan memiliki lebih dari seratus ribu masjid. Sangat tepat Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan global ini,” ujar Sheikh Muhammad selaku Direktur Komunikasi Internasional di World Sufi Mosque, Sabtu (26/9/2026).

Jakarta Jadi Pusat Global Imam Perdamaian

Sheikh Muhammad mengusulkan agar pertemuan para imam dunia tidak berhenti setelah konferensi berakhir.

Salah satu rekomendasinya adalah menetapkan Jakarta sebagai Global Capital of Imams of Peace atau Pusat Global Imam Perdamaian.

Ia juga mengusulkan pembentukan sekretariat permanen di Masjid Istiqlal. Sekretariat tersebut diharapkan menjadi simpul pertukaran gagasan dan kerja sama para imam dari berbagai negara.

Kerja sama tersebut dapat diarahkan untuk merespons berbagai persoalan perdamaian dan kehidupan keagamaan.

Imam Didorong Jadi Mediator Sosial

Sheikh Muhammad mengatakan gagasan tersebut berkaitan dengan semakin luasnya tanggung jawab imam di tengah masyarakat.

Ia memaknai konsep imamah dalam Al-Qur’an melalui tiga dimensi. Ketiganya mencakup amanah kepemimpinan, metodologi memberikan petunjuk, dan tujuan berupa Dar As-Salam atau kehidupan yang diliputi kedamaian.

Menurutnya, terdapat sedikitnya empat peran yang perlu dijalankan imam masa kini. Peran tersebut mencakup kepemimpinan spiritual, kepemimpinan sosial, diplomasi dan dialog lintas agama, serta kemampuan menghadirkan wacana keagamaan yang menjawab persoalan kontemporer.

Dalam kepemimpinan sosial, imam dapat berperan sebagai mediator ketika muncul persoalan di tengah masyarakat. Kedekatan imam dengan umat juga memungkinkan mereka menjembatani berbagai kesenjangan sosial.

“Imam harus berperan sebagai mediator sosial yang menjembatani kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin,” tuturnya.

Dialog Lintas Agama di Brasil

Dalam hubungan lintas agama, Sheikh Muhammad membagikan pengalaman komunitas Muslim di Brasil.

Brasil merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik. Di negara tersebut, menurutnya, telah dibangun sebuah dewan spiritual.

Dewan tersebut mempertemukan Muslim dengan berbagai komunitas Kristen. Forum itu melibatkan antara lain Katolik, Ortodoks, Maronit, Sunni, dan Syiah. Pertemuan tersebut ditujukan untuk memperkuat kehidupan bersama secara damai.

Pengalaman itu menunjukkan imam dapat mengambil peran diplomatik dalam membangun komunikasi lintas iman.

Peran tersebut dapat dijalankan tanpa terlibat dalam pertentangan antarkelompok.

Sheikh Muhammad juga menyoroti pentingnya pembaruan cara imam menyampaikan pesan keagamaan.

Menurutnya, diskursus imam tidak semestinya terus berputar pada perdebatan klasik yang berulang.

Prinsip dasar akidah dan fikih tetap menjadi landasan. Namun, imam juga perlu memahami fiqh al-waqi’ atau fikih realitas.

Pemahaman tersebut diperlukan agar imam mampu membaca persoalan masyarakat dan membantu mencari penyelesaiannya.

“Akidah dan fikih memiliki prinsip-prinsip yang tetap, tetapi kita harus memberikan perhatian pada fiqh al-waqi’ untuk menjawab persoalan masyarakat kontemporer,” ujarnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar pesan keagamaan tetap relevan dengan perubahan sosial.

Imam juga diharapkan mampu menawarkan jalan keluar terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Usulkan Badan Mediasi Imam Internasional

Selain sekretariat permanen di Masjid Istiqlal, Sheikh Muhammad menyampaikan sejumlah rekomendasi. Ia mengusulkan pembentukan badan mediasi imam internasional. Badan tersebut dapat berperan ketika terjadi konflik di tengah komunitas Muslim.

Ia juga mengusulkan kurikulum fikih perdamaian dimasukkan ke perguruan tinggi Islam di berbagai negara.

Pemanfaatan teknologi turut masuk dalam rekomendasi tersebut. Sheikh Muhammad mengusulkan pembangunan platform digital untuk menyediakan panduan khutbah Jumat.

Platform itu diharapkan memberi perhatian khusus pada pesan perdamaian dan upaya melawan ujaran kebencian.

Rekomendasi lainnya mencakup penghargaan internasional bagi imam yang berhasil membangun harmoni sosial.

Ia juga mengusulkan pembentukan dewan yang memberikan dukungan dan panduan bagi masjid komunitas Muslim minoritas di negara-negara Barat.

Berbagai usulan tersebut berangkat dari kebutuhan memperluas peran imam dalam menghadapi tantangan masyarakat kontemporer.

Imam tidak hanya menjadi pemimpin ritual. Mereka juga didorong menjalankan peran sebagai pemimpin spiritual, mediator sosial, penggerak dialog lintas iman, dan pembawa pesan perdamaian di ruang publik. (*)