SerambiMuslim.com – Penciptaan Iblis, dosa, dan berbagai keburukan di muka bumi menyimpan hikmah yang luas dalam ketetapan Allah SWT.
Hikmah tersebut tidak mungkin diketahui secara terperinci kecuali oleh Allah Yang Mahasuci dan Maha Tinggi.
Namun, sejumlah hikmah dapat dipahami melalui penjelasan para ulama. Salah satunya disampaikan Sekjen Persatuan Ulama Islam se-Dunia, Syekh Muhammad Ash-Salabi.
Dikutip dari laman resminya, Ahad (20/9/2026), Ash-Salabi menjelaskan sejumlah hikmah di balik penciptaan Iblis serta adanya dosa dan keburukan.
1. Menyempurnakan Penghambaan kepada Allah
Allah SWT hendak menyempurnakan tingkatan penghambaan para nabi dan wali-Nya melalui perjuangan melawan setan dan para pengikutnya.
Perjuangan itu dilakukan dengan menyelisihi, menentang, menghinakan, dan membuat setan serta para pengikutnya marah. Termasuk di dalamnya adalah berlindung kepada Allah dari godaan setan dan bersandar kepada-Nya.
Dengan demikian, manusia memperoleh berbagai kemaslahatan duniawi dan ukhrawi yang tidak mungkin didapatkan tanpa adanya ujian tersebut.
2. Menjadi Pelajaran bagi Manusia
Allah menjadikan Iblis sebagai pelajaran bagi siapa saja yang menentang perintah-Nya, menyombongkan diri dari ketaatan kepada-Nya, dan terus-menerus melakukan kemaksiatan.
Sebaliknya, Allah menjadikan dosa Adam, bapak seluruh manusia, sebagai pelajaran bagi orang yang melanggar larangan-Nya atau mendurhakai perintah-Nya.
Perbedaan keduanya terletak pada sikap setelah melakukan dosa.
Adam bertobat, menyesal, dan kembali kepada Rabb-nya. Allah kemudian memilih dan menerima tobatnya.
Sementara itu, Iblis menjadi pelajaran bagi orang yang terus-menerus melakukan dosa dan tetap bertahan di dalamnya.
Allah menguji kedua bapak umat manusia dan jin dengan dosa. Dalam hal ini terdapat hikmah Allah yang sangat agung dan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
3. Menjadi Sarana Ujian
Allah menjadikan Iblis sebagai sarana ujian bagi makhluk-Nya. Melalui ujian tersebut, dapat dibedakan mana yang buruk dan mana yang baik.
Allah Ta’ala tidak menguji makhluk karena baru mengetahui siapa yang baik dan siapa yang buruk setelah ujian berlangsung.
Allah telah mengetahui sejak azali siapa yang baik dan siapa yang buruk.
Akan tetapi, Allah menghendaki agar manusia yang buruk dibedakan dari manusia yang baik di dunia. Hal itu agar barisan orang-orang beriman dimurnikan dan manusia diberi balasan berdasarkan amal mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
مَّا كَانَ اللّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىَ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan yang kamu alami sekarang ini, sampai Dia memisahkan yang buruk dari yang baik.”
(QS Ali ‘Imran: 179)
Allah juga berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal Allah belum membuktikan siapa di antara kamu yang berjihad dan siapa yang sabar?”
(QS Ali ‘Imran: 142)
4. Menampakkan Kesempurnaan Kekuasaan Allah
Allah hendak menampakkan kepada makhluk-Nya kesempurnaan kekuasaan-Nya.
Allah menciptakan Jibril dan menjadikannya sebagai utusan kepada para nabi. Ia adalah pembawa amanah wahyu dari langit, yang dengannya kehidupan ruh menjadi tegak.
Allah menciptakan Mikail dan memberinya tugas yang berkaitan dengan rezeki serta hujan, yang dengannya kehidupan jasmani berlangsung.
Allah juga menciptakan Israfil dan menugaskannya meniup sangkakala atas perintah Allah.
Dengan tiupan itu, jasad-jasad akan hidup kembali setelah Allah mematikannya pada hari kiamat.
Allah juga menciptakan seluruh malaikat lainnya, serta menciptakan Iblis dan setan. Semua itu merupakan salah satu tanda terbesar dari kekuasaan, kehendak, dan kerajaan-Nya.
Allah adalah Pencipta segala sesuatu yang berlawanan. Langit dan bumi, cahaya dan kegelapan, surga dan neraka, air dan api, panas dan dingin, serta kebaikan dan keburukan.
Sesuatu yang berlawanan sering kali menjadi sarana untuk mengenali lawannya.
Seandainya tidak ada sesuatu yang buruk, kita tidak akan mengenal keutamaan sesuatu yang indah. Seandainya tidak ada kemiskinan, kita tidak akan mengetahui nilai kekayaan.
Allah juga menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu. Allah menciptakan Hawa dari seorang ayah tanpa ibu.
Allah juga menciptakan Isa dari seorang ibu tanpa ayah. Sementara manusia lainnya diciptakan melalui ayah dan ibu.
Semua itu agar manusia mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
5. Membuka Jalan bagi Rasa Syukur
Allah menyukai agar Dia disyukuri dengan hakikat dan berbagai bentuk syukur yang sebenarnya.
Para wali dan hamba pilihan Allah memperoleh berbagai bentuk rasa syukur melalui keberadaan musuh Allah, yaitu Iblis beserta bala tentaranya.
Ujian yang mereka hadapi karena keberadaan musuh tersebut menjadi bagian dari proses tersebut.
Betapa berbeda antara rasa syukur Adam ketika masih berada di dalam surga sebelum dikeluarkan darinya dengan rasa syukurnya setelah diuji oleh musuhnya.
Setelah itu, Rabb-nya memilihnya, menerima tobatnya, dan mengampuninya.
6. Membuka Ruang Perjuangan dalam Penghambaan
Cinta kepada Allah, kembali kepada-Nya dalam pertobatan (inabah), berserah diri dan bertawakal kepada-Nya, sabar, ridha, serta berbagai bentuk penghambaan lainnya merupakan bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah.
Namun, penghambaan semacam ini tidak akan terwujud secara sempurna tanpa perjuangan.
Jihad dalam seluruh makna yang terkandung di dalamnya merupakan puncak penghambaan dan termasuk bentuk pengabdian yang paling dicintai oleh Allah.
Karena itu, dengan penciptaan Iblis dan para pengikutnya, terbuka ruang bagi berlangsungnya perjuangan dalam penghambaan kepada Allah beserta berbagai konsekuensinya.
Hikmah, manfaat, dan kemaslahatan yang terkandung di dalamnya tidak mungkin dapat dihitung kecuali oleh Allah.
Seandainya Allah tidak menciptakan Iblis, bagaimana engkau dapat mencapai tingkatan penghambaan melalui perjuangan melawan dirimu sendiri, hawa nafsumu, dan setan?
7. Menunjukkan Sifat Allah Al-Hakim
Salah satu nama Allah adalah Al-Hakim atau Yang Maha Bijaksana. Hikmah juga merupakan salah satu sifat-Nya.
Hikmah Allah menuntut agar segala sesuatu ditempatkan pada tempat yang sesuai dan layak baginya.
Karena itu, hikmah-Nya mengharuskan adanya berbagai hal yang saling berlawanan.
Masing-masing diberi hukum, sifat, dan karakteristik yang sesuai dengannya serta tidak sesuai bagi yang lainnya.
8. Menunjukkan Kesempurnaan Pujian kepada Allah
Pujian kepada Allah adalah sempurna dari segala sisi.
Allah dipuji atas keadilan-Nya, atas apa yang Dia tahan dan tidak Dia berikan, atas apa yang Dia rendahkan, serta atas hukuman dan kehinaan yang Dia timpakan kepada orang yang layak menerimanya.
Allah juga dipuji atas karunia dan pemberian-Nya, atas apa yang Dia tinggikan dan muliakan, serta atas penghormatan yang Dia berikan.
Maka, segala puji yang sempurna dan menyeluruh hanyalah milik Allah, baik atas ini maupun atas itu.
Allah memuji diri-Nya atas seluruh perkara tersebut. Para malaikat-Nya, para rasul-Nya, dan para wali-Nya juga memuji-Nya atas semua itu.
Demikian pula seluruh makhluk yang berada di tempat berkumpul pada hari kiamat akan memuji-Nya.
Maha suci Allah, Rabb seluruh alam dan sebaik-baik Pembuat keputusan. (*)







