Berita  

Niat Puasa Qadha Ramadan dan Waktu Pelaksanaannya

Kemenag menyiapkan 20 program Joyful Ramadan 2026, mencakup layanan keagamaan, pemberdayaan dana umat, ketahanan keluarga, hingga pengiriman dai ke wilayah 3T. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Puasa qadha Ramadan adalah puasa pengganti bagi umat Muslim yang meninggalkan puasa Ramadan sebelumnya.

Umat Muslim yang memiliki utang puasa dianjurkan segera menggantinya sebelum datang Ramadan berikutnya.

Puasa qadha dilakukan untuk membayar kewajiban puasa Ramadan yang ditinggalkan karena alasan syar’i.

Pelaksanaan puasa qadha boleh dilakukan kapan saja sebelum Ramadan berikutnya tiba. Puasa qadha juga diperbolehkan dilakukan menjelang bulan Ramadhan.

Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, Shidiq, M.Ag, menjelaskan hukum qadha puasa adalah wajib.

Ia menegaskan kewajiban tersebut berlaku setelah bulan Ramadan berakhir. Umat Muslim bebas memilih hari puasa qadha selama bukan hari yang diharamkan berpuasa.

Puasa qadha juga dapat dilakukan bertepatan dengan puasa Senin atau Kamis.

Hal tersebut memungkinkan seseorang memperoleh lebih dari satu pahala puasa.

Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’in fardho syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, aku berniat mengganti puasa Ramadan esok hari karena Allah SWT.

Aturan Jika tidak Membayar Utang Puasa

Seseorang yang belum mengganti puasa hingga Ramadan berikutnya tetap diperbolehkan menjalankan puasa Ramadan. Namun, orang tersebut wajib segera meng-qadha puasa setelah Ramadan berakhir.

Apabila keterlambatan terjadi karena kelalaian, maka kewajiban fidyah turut diberlakukan.

Fidyah dibayarkan selain puasa qadha sebagai bentuk tanggung jawab ibadah. Fidyah dilakukan dengan memberi makan fakir miskin sesuai hari puasa yang ditinggalkan.

Besaran fidyah disesuaikan dengan biaya makan dan minum satu orang per hari. Ketentuan fidyah juga berlaku bagi orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen.

Kewajiban qadha dan fidyah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 184.

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah ayat 184). ***