SerambiMuslim.com – Setiap Muslim dianjurkan menghafal ayat Alquran sebagai bagian penting dari kesempurnaan ibadah shalat wajib.
Hafalan ayat menjadi syarat sah shalat, yang merupakan rukun Islam kedua bagi umat Muslim.
Minimal, setiap Muslim wajib menghafal Surah Al-Fatihah sebagai bacaan utama shalat.
Kemampuan tersebut sebaiknya dilanjutkan dengan menghafal surah-surah pendek dalam Alquran.
Alquran dikenal sebagai kitab suci yang mudah dihafal dibandingkan teks suci lainnya.
Rasulullah Muhammad SAW memberikan panduan bagi umatnya yang ingin menghafal Alquran.
Nabi menganjurkan umat Islam memperbanyak membaca Alquran agar hafalan tidak mudah hilang.
Dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim, Nabi SAW mengingatkan pentingnya menjaga hafalan Alquran.
“Bacalah Alquran terus-menerus karena ia lebih cepat lepas dari ingatan dibanding unta terikat,” sabda Nabi SAW.
Berbagai metode menghafal Alquran berkembang di tengah masyarakat Muslim. Namun, seluruh metode tersebut bermuara pada kebiasaan membaca Alquran secara rutin.
Ahmad Fuad Effendy dalam Sudahkah Kita Mengenal Alquran? menilai membaca Alquran meningkatkan spiritualitas seorang mukmin secara bertahap.
Ia menyebut hafalan Alquran memperkuat hubungan batin seseorang dengan Allah SWT.
“Saat shalat malam, hafalan ayat dan doa membantu menciptakan kedekatan spiritual dengan Allah,” ujar Ahmad Fuad.
Ia menambahkan, hafalan memungkinkan zikir diamalkan kapan saja dan di mana saja.
Pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustaz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan keutamaan para penghafal Alquran.
Menurutnya, para hafiz membawa keberkahan bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Allah SWT akan mengangkat derajat orang tua dari anak-anak yang menghafal Alquran.
UAH juga menyebut Allah menjaga jasad para penghafal Alquran hingga hari kiamat. “Seluruh pintu surga dibukakan bagi penghafal Alquran dan keluarganya,” kata Ustaz Adi Hidayat.
Namun, tidak semua penghafal Alquran memperoleh kemuliaan tersebut.
UAH membagi para hafiz ke dalam tiga kelompok berdasarkan pengamalan ajaran Alquran.
Kelompok pertama adalah hafiz yang zalim dalam perilakunya sehari-hari.
“Mereka hafal Alquran, tetapi tidak mengamalkannya dalam kehidupan,” ujar UAH.
Kelompok kedua adalah hafiz yang hanya mengambil manfaat Alquran untuk dirinya sendiri.
Kelompok ketiga adalah hafiz yang segera mengamalkan setiap ayat dalam kehidupan.
Kelompok terakhir inilah yang dijanjikan kemuliaan tertinggi oleh Allah SWT. ***







