SerambiMuslim.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan pentingnya pengaturan teknis perayaan keagamaan menjelang Hari Raya Nyepi di Bali yang akan jatuh pada 19 Maret 2026.
Momentum tersebut berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah yang dirayakan umat Islam.
Menurut Menag, apabila Idulfitri ditetapkan pada 20 Maret 2026, pelaksanaan malam takbiran di Bali tetap diperbolehkan dengan sejumlah penyesuaian.
“Takbiran tetap bisa dilaksanakan, namun secara terbatas, tanpa pengeras suara, tanpa arak-arakan kendaraan, serta dengan penerangan minimal. Ini sebagai bentuk toleransi antarumat beragama di Bali berdasarkan kesepakatan bersama,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Ia menjelaskan, skema tersebut disiapkan untuk menjaga kekhusyukan umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian. Namun jika Idulfitri jatuh pada 21 Maret 2026, perayaan Nyepi dan takbiran dapat berlangsung normal sesuai jadwal masing-masing.
Menag menegaskan, koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar pelayanan publik selama arus mudik dan perayaan hari besar keagamaan berjalan aman dan tertib.
“Negara harus hadir memastikan umat dapat menjalankan ibadah sekaligus melakukan perjalanan mudik dengan aman dan manusiawi. Masjid juga menjadi bagian penting dari pelayanan publik tersebut,” katanya.
Jembrana Ajak Jadikan Momentum Toleransi
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana, Bali, mengajak masyarakat menjadikan momentum dua hari raya yang berdekatan ini sebagai penguat harmoni sosial.
Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna, mengatakan situasi ini justru menjadi kesempatan menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam menjaga kerukunan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri yang hampir bersamaan ini sebagai momentum toleransi. Mari kita buktikan Jembrana bisa menjadi barometer toleransi antarumat beragama,” ujarnya di Negara, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menambahkan, aparatur pemerintah daerah harus menjadi pelopor dalam memperkuat semangat kebangsaan.
“Khusus kepada pegawai Pemkab, jadilah penggerak toleransi di lingkungan masing-masing. Penguatan wawasan kebangsaan dan nilai Pancasila penting agar kita tidak mudah terprovokasi,” katanya.
Pemkab Jembrana optimistis rangkaian perayaan keagamaan dapat berlangsung aman dan kondusif dengan semangat saling menghormati.
699 Personel Amankan Bali
Dari sisi keamanan, Polda Bali mengerahkan 699 personel dalam Operasi Cipta Kondisi (Cipkon) Agung 2026 yang digelar pada 1–8 Maret 2026.
Direktur Binmas Polda Bali, Kombes Pol. Suwandi Prihantoro, mengatakan ratusan personel tersebut terdiri atas 155 personel Satgas Polda dan 544 personel dari Polres jajaran.
“Tujuan utama Operasi Cipta Kondisi Agung 2026 adalah menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif menjelang perayaan Nyepi dan Idulfitri, sekaligus menekan angka kriminalitas serta potensi gangguan keamanan di wilayah Bali,” ujarnya di Denpasar, Minggu, 1 Maret 2026.
Ia menegaskan operasi ini mengedepankan langkah preemtif dan preventif yang didukung penegakan hukum secara profesional, mulai dari deteksi dini potensi gangguan, patroli di titik rawan, hingga penindakan terhadap pelaku kriminalitas.
Menurut Suwandi, peningkatan mobilitas masyarakat menjelang hari raya berpotensi menimbulkan kerawanan, seperti kemacetan, konflik sosial, hingga gangguan keamanan lainnya.
“Pergerakan masyarakat akan meningkat tajam. Kita harus peka terhadap dinamika di lapangan dan tidak meremehkan situasi apa pun,” katanya.
Ia juga mengingatkan seluruh personel agar mengedepankan pendekatan humanis dalam bertugas.
“Hindari sikap arogan, kedepankan edukasi, dan lakukan tindakan tegas sesuai SOP apabila ditemukan pelanggaran,” ujarnya.
Melalui sinergi pemerintah daerah, tokoh agama, dan aparat keamanan, suasana toleransi di Bali diharapkan tetap terjaga sehingga umat dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan penuh makna. ***






