Fikih  

Sejarah dan Asal-usul Hajar Aswad di Kabah

Batu Hajar Aswad (Foto: Istimewa)

SerambiMuslim.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkap asal-usul Hajar Aswad.

Ia menjelaskan bahwa Hajar Aswad pada mulanya tidak berwarna hitam seperti yang terlihat saat ini. Dalam sejumlah riwayat, batu tersebut dikenal sebagai Hajar Abyad atau batu putih yang diyakini berasal dari surga.

“Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Hajar Aswad awalnya berwarna putih, dikenal sebagai Hajar Abyad dan berasal dari surga,” ujar Nasaruddin.

Ia menuturkan, batu tersebut merupakan bagian dari bangunan awal Nabi Ibrahim dalam mendirikan Kabah. Seiring berjalannya waktu, warna batu itu berubah menjadi hitam.

“Perubahan warna itu dikaitkan dengan perjalanan waktu dan juga akumulasi dosa manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan bahwa Hajar Aswad memiliki makna simbolik dan spiritual yang sangat penting bagi umat Islam. Batu tersebut menjadi titik awal dalam pelaksanaan tawaf dan termasuk bagian yang dimuliakan.

Ia juga mengungkap bahwa bagian asli Hajar Aswad saat ini hanya tersisa beberapa pecahan kecil.

“Saat ini, bagian asli Hajar Aswad tersisa sekitar tujuh pecahan kecil dengan ukuran kurang lebih seperti biji kemiri,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari peristiwa sejarah pada abad ke-10 Masehi ketika batu tersebut sempat dicuri oleh kelompok Bani Qarmath. Dalam peristiwa itu, Hajar Aswad sempat hilang selama beberapa waktu sebelum akhirnya ditemukan kembali.

“Setelah sempat dibawa dan hilang, batu tersebut akhirnya dikembalikan dan disusun kembali dalam bingkai perak di sudut Ka’bah,” jelasnya.

Kini, Hajar Aswad menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Jutaan jemaah dari seluruh dunia berupaya mencium atau menyentuhnya sebagai bagian dari rangkaian ibadah yang memiliki nilai spiritual mendalam. ***