Fikih  

Mengapa 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam? Ini Sejarahnya

Foto: Chatgpt/Serambi Muslim/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Tahun Baru Islam diperingati setiap 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, momentum ini tidak sekadar menandai pergantian tahun, tetapi juga menjadi waktu untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah.

Namun, tidak sedikit yang bertanya mengapa 1 Muharram ditetapkan sebagai awal tahun Islam. Padahal, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah tidak terjadi pada bulan Muharram, melainkan pada Rabiul Awal.

Awal Mula Kalender Hijriah

Dalam buku Mengenal Hari-Hari Besar Islam karya Marfu’ah, S.Ag., dijelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW hingga awal pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, umat Islam belum memiliki sistem penanggalan resmi yang digunakan secara luas.

Masyarakat Arab saat itu memang telah mengenal nama-nama bulan seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, dan bulan lainnya. Namun, mereka belum menggunakan sistem penanggalan tahunan yang baku.

Sebuah peristiwa biasanya dikenang berdasarkan kejadian besar yang terjadi pada masa tersebut. Salah satu contohnya adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal terjadi pada Tahun Gajah, yakni tahun ketika pasukan Abrahah menyerang Kabah.

Seiring meluasnya wilayah kekuasaan Islam dan berkembangnya sistem pemerintahan, kebutuhan akan kalender yang teratur semakin mendesak.

Usulan Penanggalan pada Masa Umar bin Khattab

Dalam buku Perkembangan Perumusan Kalender Islam Internasional, Dr. Muh. Rasywan Syarif menjelaskan bahwa muncul kebutuhan mendesak untuk menetapkan sistem penanggalan resmi pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.

Salah satu riwayat menyebutkan bahwa Gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy’ari RA, pernah mengirim surat kepada Umar bin Khattab. Ia mengeluhkan banyaknya surat resmi dari pusat pemerintahan yang tidak mencantumkan tahun sehingga menimbulkan kebingungan dalam urusan administrasi.

Menanggapi hal tersebut, Umar bin Khattab kemudian mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan sistem penanggalan yang akan digunakan umat Islam.

Hijrah Dipilih sebagai Awal Kalender Islam

Dalam musyawarah tersebut, para sahabat mengajukan sejumlah peristiwa penting yang dinilai layak dijadikan titik awal perhitungan tahun Islam. Beberapa usulan yang muncul antara lain:

  • Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.
  • Tahun diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.
  • Tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW.
  • Tahun hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Setelah melalui pembahasan, para sahabat sepakat memilih peristiwa hijrah sebagai awal kalender Islam.

Keputusan tersebut diambil karena hijrah dipandang sebagai tonggak penting dalam sejarah Islam. Peristiwa itu menandai perubahan besar bagi umat Islam, dari komunitas yang mengalami tekanan di Makkah menjadi masyarakat yang lebih kuat dan mandiri di Madinah.

Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama?

Meski hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat menetapkan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

1. Muharram Datang Setelah Musim Haji

Bulan Zulhijah merupakan waktu pelaksanaan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah selesai, Muharram dianggap sebagai momentum yang tepat untuk memulai lembaran baru kehidupan sehingga dipilih sebagai awal tahun.

2. Awal Persiapan Hijrah

Meskipun hijrah Nabi SAW berlangsung pada Rabiul Awal, tekad dan persiapan menuju hijrah mulai terbentuk setelah Baiat Aqabah yang terjadi pada Zulhijah.

Setelah musim haji berakhir, kaum Muslim mulai mempersiapkan perpindahan ke Madinah. Karena itu, Muharram dipandang sebagai awal fase hijrah yang menjadi dasar penetapan kalender Islam.

3. Termasuk Bulan Haram

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, selain Dzulqa’dah, Zulhijah, dan Rajab.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

Artinya:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu. Dan perangilah kaum musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 36).

Ditetapkan pada Masa Umar bin Khattab

Hasil musyawarah para sahabat akhirnya menetapkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai titik awal perhitungan tahun dalam kalender Islam, sementara Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama.

Keputusan tersebut diambil pada masa pemerintahan Umar bin Khattab RA sekitar tahun ke-17 Hijriah. Sejak saat itu, kalender Hijriah digunakan umat Islam untuk berbagai keperluan, mulai dari pelaksanaan ibadah hingga administrasi pemerintahan. (*)