Fikih  

Tidur Setelah Asar Bikin Hilang Akal? Ini Haditsnya

ILUSTRASI - Benarkah tidur setelah Asar menyebabkan hilangnya akal? (Foto: iStockphoto)

SerambiMuslim.com – Anggapan bahwa tidur setelah waktu Asar dapat menyebabkan hilangnya akal kerap beredar di tengah masyarakat. Keyakinan ini merujuk pada sebuah hadits yang cukup populer. Namun, bagaimana sebenarnya status hadits tersebut menurut para ulama?

Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan berbunyi:

مَنْ نَامَ بَعْدَ الْعَصْرِ فَاخْتُلِسَ عَقْلُهُ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

Artinya: “Barang siapa tidur setelah asar kemudian ia kehilangan akalnya maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.”

Imam al-Ghazali dalam kitab “Arba’in fi Ushuliddin” juga mengutip hadits tersebut ketika menjelaskan amalan yang dianjurkan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Status Hadits Tidur Setelah Asar

Meski cukup populer, hadits tentang larangan tidur setelah Asar tersebut dinilai berstatus dhaif atau lemah.

Keterangan itu dijelaskan dalam buku “79 Hadits Populer Lemah dan Palsu” karya Rachmat Morado Sugiarto Lc. Hadits tersebut diriwayatkan melalui jalur Amr bin al-Husain, dari Ibnu Ulatsah, dari al-Auza’i, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah RA. Abu Nu’aim al-Ashbahani juga meriwayatkannya melalui jalur Abu Ya’la dengan sanad yang sama.

Karena kualitas periwayatannya, para ulama tidak memasukkan hadits tersebut ke dalam kategori hadits shahih.

Hadits Shahih tentang Waktu Tidur

Adapun hadits yang dinilai shahih terkait waktu tidur berasal dari riwayat Imam Bukhari dalam Shahih Adabul Mufrad dari Khawwat bin Jubair. Ia berkata:

نَوْمُ أَوَّلِ النَّهَارِ خُرْقٌ، وَأَوْسَطُهُ خُلْقٌ، وَآخِرُهُ حُمْقُ

Artinya: “Tidur pada permulaan siang adalah kebodohan, pertengahannya adalah sebuah perilaku baik, sedangkan pada penghujungnya adalah kebodohan.”

Dalam penjelasan Shahih Adabul Mufrad, yang dimaksud tidur pada pertengahan siang adalah qailulah, yakni tidur singkat sekitar 15-30 menit sebelum atau sesudah waktu Zuhur.

Tidur qailulah termasuk amalan yang dianjurkan dalam Islam. Hal ini juga diisyaratkan dalam sabda Nabi SAW:

“Tidur qailulahlah kamu karena setan tidak tidur qailulah.”

Sementara itu, tidur pada awal maupun penghujung siang dipandang sebagai bentuk kebodohan. Dalam kitab An-Nihayah dijelaskan bahwa makna kebodohan di sini adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, meski telah mengetahui akibat yang kurang baik.

Meski hadits yang menyebut tidur setelah Asar menyebabkan hilangnya akal berstatus dhaif, sebagian ulama menilai sanadnya memiliki dasar yang shahih sehingga tetap menjadi bahan kajian dalam literatur Islam.

Pola Tidur Rasulullah SAW

Rasulullah SAW memiliki pola tidur yang teratur. Dalam buku “Resep Sehat Rosulullah” karya Muhammad Farhan dijelaskan bahwa Nabi SAW biasa tidur pada awal malam, kemudian bangun pada pertengahan malam untuk beribadah.

Setelah bangun, Rasulullah SAW bersiwak, berwudhu, lalu melaksanakan salat malam.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menjelaskan keutamaan pola tidur Rasulullah SAW.

“Barang siapa yang memperhatikan pola tidur Rasulullah, niscaya ia akan memahami pola tidur yang benar dan paling bermanfaat untuk badan dan organ tubuh.”

Menurut para ulama, Rasulullah SAW tidak pernah tidur melebihi kebutuhan. Pola tersebut dinilai sebagai salah satu bentuk menjaga kesehatan fisik sekaligus mendukung kualitas ibadah. (*)