Fikih  

Kapan Mengucapkan Innalillahi? Ini Waktu dan Keutamaannya

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji’un kerap diucapkan saat mendengar kabar duka. Namun, dalam ajaran Islam, bacaan istirja tersebut tidak hanya diperuntukkan ketika seseorang meninggal dunia, melainkan juga saat seorang Muslim ditimpa berbagai musibah.

Kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji’un merupakan bagian dari Surah Al Baqarah ayat 156. Allah SWT berfirman:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Latin: Allażīna iżā aṣābat-hum muṣībah, qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ụn.

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’”

Kapan Mengucapkan Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un?

Berdasarkan buku “Shihab & Shihab Edisi Ramadhan” karya M. Quraish Shihab dan Najwa Shihab, kalimat istirja tidak hanya dibaca ketika mendengar kabar kematian.

Ucapan tersebut dianjurkan ketika seorang Muslim mengalami atau mengetahui adanya musibah. Musibah tidak selalu berarti bencana besar, tetapi juga segala bentuk kehilangan, berkurangnya nikmat, atau keadaan yang membawa kesedihan.

Dalam praktiknya, umat Islam juga kerap menyingkat bacaan tersebut menjadi “Innalillahi” saat merespons musibah yang menimpa diri sendiri maupun orang lain.

Riwayat juga menyebutkan Rasulullah SAW pernah mengucapkan “Innalillahi” ketika lampu yang berada di dekat beliau padam. Peristiwa itu menunjukkan bahwa setiap kehilangan atau berkurangnya nikmat dapat menjadi pengingat bahwa seluruh yang dimiliki manusia hakikatnya milik Allah SWT.

Kalimat istirja menjadi bentuk pengakuan bahwa manusia berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya, sekaligus wujud kesabaran ketika menghadapi ujian.

Cara Penulisan dan Membaca yang Benar

Penulisan yang benar adalah Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dalam bahasa Indonesia, kata raji’un juga sering ditulis rojiun, raji’un, atau roji’un.

Dalam pelafalannya, kata raji’un dibaca dengan bunyi “ro” sebagaimana pada kata “roti”. Sementara akhiran “un” dilafalkan dengan huruf ‘ain (ع) sebelum bunyi “un”.

Keutamaan Membaca Kalimat Istirja

Berikut beberapa keutamaan membaca Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

1. Mendapat Ampunan dan Rahmat Allah

Allah SWT menjanjikan ampunan, rahmat, dan petunjuk bagi orang-orang yang bersabar ketika ditimpa musibah. Hal itu dijelaskan dalam Surah Al Baqarah ayat 157:

اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ۝١٥٧

Artinya: “Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah: 157)

2. Menenangkan Hati Saat Menghadapi Musibah

Dalam buku “Fiqih Doa dan Dzikir Jilid 2” karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dijelaskan bahwa kalimat istirja menjadi tempat berlindung bagi orang yang tertimpa musibah. Membacanya membantu menumbuhkan ketenangan dan sikap sabar dalam menghadapi ujian.

3. Diganti dengan yang Lebih Baik

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang membaca doa istirja ketika tertimpa musibah dan memohon kepada Allah SWT akan memperoleh pahala serta pengganti yang lebih baik.

Dari Ummu Salamah, Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada seorang hamba yang mendapat musibah, lalu dia mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Ya Allah, berilah aku pahala disebabkan musibahku ini dan gantilah dia dengan yang lebih baik dari padanya,’ melainkan Allah memberinya pahala atas musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya.”

Ummu Salamah kemudian berkata:

“Ketika Abu Salamah wafat, aku pun mengucapkan seperti yang diperintahkan padaku oleh Rasulullah, maka Allah menggantikan untukku yang lebih baik darinya, yaitu Rasulullah.” (HR Muslim). (*)